Refleksi Hari Pahlawan; Menjaga Heroisme, Melawan Radikalisme

Refleksi Hari Pahlawan; Menjaga Heroisme, Melawan Radikalisme

- in Suara Kita
865
0
Refleksi Hari Pahlawan; Menjaga Heroisme, Melawan Radikalisme

Generasi yang hidup di era kemerdekaan patut bersyukur lantaran tidak mengalami pahit-getirnya era penjajahan. Berjuang di medan perang dengan mempertaruhkan nyawa untuk merebut kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Tanpa nyala api patriotisme dan nasionalisme yang berkobar, mustahil kita bisa meraih kemerdekaan. Kobaran nasionalisme dan patriotisme itu pula yang ditunjukkan oleh para arek Suroboyo pada perang 10 November 1945 melawan kembalinya tentara Sekutu. Kini, kemerdekaan telah kita raih dan pertahankan selama 75 tahun. Di satu sisi, sejumlah capaian telah berhasil kita ukir selama perjalanan kemerdekaan itu.

Namun, di sisi lain sejumlah tantangan juga masih menghadang di depan mata. Salah satu tantangan terbesar kita hari ini menurut saya ialah menguatnya arus radikalisme keagamaan yang menyebarkan ideologi dan gerakan anti-NKRI dan Pancasila. Fenomena radikalisme keagamaan ini mencuat seiring dengan terbukanya ruang publik pasca berakhirnya Orde Baru pada tahun 1998. Demokratisasi dan kebebasan ruang publik lantas menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh kelompok Islam politik yang sebelumnya dipinggirkan oleh kekuasaan Soeharto untuk kembali ke panggung politik nasional. Seolah gayung bersambut, momentum kembalinya Islam politik di kancah politik Indonesia itu juga berbarengan dengan gencarnya gelombang arus Islam transnasional yang membawa ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.

Gerakan Islam politik dan gerakan Islam transnasional itu lantas melahirkan dua fenomena yakni radikalisme agama yang menjadi cikal bakal maraknya aksi terorisme dan kekerasan berbasis agama. Berkembangnya ideologi radikal yang bercorak anti-Pancasila dan NKRI ialah sebuah hal yang ironis. Bagaimana tidak? Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dilahirkan oleh perjuangan penuh tangis dan darah pengorbanan pada pahlawan yang berjuang mengangkat senjata mengusir penjajah. Pasca merdeka, kita sepakat menjadikan negara baru bernama Indonesia itu sebagai negara-kebangsaan (nation-state) yang berdasar pada Pancasila.

Namun, kini ada kelompok yang sama sekali tidak memiliki andil pada perjuangan kemerdekaan tiba-tiba menyuarakan gagasan untuk mengganti bentuk dan dasar negara. Mereka menghendaki Indonesia sebagai negara agama (Islam) sembari menebar propaganda bahwa NKRI dan Pancasila bertentangan dengan Islam. Kaum radikal menutup mata alias pura-pura bodoh untuk menyadari bahwa para pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa sebagian besarnya merupakan muslim taat yang juga paham ihwal hukum tatanegara dan politik dalam Islam. Kaum radikal seolah mengabaikan fakta bahwa banyak ulama dan kiai yang juga ikut andil merumuskan bentuk dan dasar negara. Itu artinya, mengatakan bahwa NKRI dan Pancasila bertentangan dengan Islam sama saja dengan merendahkan kredibilitas keilmuan para pendahulu yang meletakkan dasar kenegaraan dan kebangsaan bagi Indonesia.

Meneladani Nilai Kepahlawanan, Melawan Gerakan Radikal

Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun sudah sepatutnya tidak dipahami semata sebagai sebuah seremoni belaka. Perlu ada refleksi mendalam untuk menggali kembali nilai dan prinsip kepahlawanan yang kiranya relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Di masa lalu, para pahlawan berani mengangkat senjata seadanya untuk melawan penjajah. Musuh yang dihadapi saat itu jelas, yakni tentara kolonial. Sedangkan saat ini, kita menghadapi musuh yang berbeda, yakni gerakan radikal yang bisa berkamuflase dan menyusup ke mana saja, mulai dari organisasi keagamaan hingga organisasi kemahasiswaan. Perang melawan radikalisme ialah perang ideologi yang memerlukan senjata berupa penguatan wacana dan ideologi Pancasila.

Dalam konteks inilah, refleksi Hari Pahlawan kiranya bisa dimaknai ke dalam dua hal, yakni menjaga heroisme sekaligus melawan radikalisme. Menjaga heroisme bisa diartikan sebagai upaya meneladani nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan para pendahulu, seperti nilai pengorbanan dan keikhlasan dalam berjuang demi bangsa dan negara. Generasi yang hidup di masa sekarang idealnya meneladani sikap heroik para pejuang masa lalu yang bertaruh harta dan nyawa untuk meraih dan menjaga kemerdekaan. Di masa sekarang, etos heroisme itu kiranya bisa kita ejawantahkan melalui partisipasi aktif kita dalam melawan segala gerakan dan paham yang bertentangan dengan NKRI dan Pancasila.

Perang ideologi melawan radikalisme sudah di depan mata. Anasir radikal kini sudah terang-terangan dalam menyuarakan gagasan radikalnya dan secara terbuka menyatakan anti pada Pancasila dan NKRI. Fatalnya, meski jumlah mereka nisbi minoritas, namun mereka bisa dibilang lihai dalam memanfaatkan momentum dan lincah dalam menebarkan propaganda dan provokasi. Maka tidak mengherankan jika lambat laun gerakan mereka pun mendapatkan simpati dan dukungan dari publik luas. Strategi menempatkan diri sebagai korban (playing victim) yang selama ini mereka mainkan agaknya berhasil menarik dukungan massa.

Bercermin dari kondisi di atas, tidak ada alasan bagi generasi sekarang untuk tidak terlibat dalam perjuangan melawan kaum radikal. Ideologi harus dilawan dengan wacana tandingan yang memperkokoh wawasan kebangsaan masyarakat. Propaganda dan provokasi yang diembuskan oleh kaum radikal harus dilawan dengan narasi positif yang memberikan pencerahan pada publik. Kaum radikal akan mundur dengan sendirinya manakala kita sebagai bangsa berkomitmen untuk menjaga keutuhan NKRI dan memperkokoh ideologi Pancasila serta mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Arkian, mari kita rayakan Hari Pahlawan ini dengan meneguhkan kesadaran kita untuk meneladani etos heroisme sekaligus menguatkan komitmen kita untuk melawan radikalisme.

Facebook Comments