Renungan Akhir Tahun: Menyadari Pola Transformasi Virus Radikal yang Tidak Stagnant

Renungan Akhir Tahun: Menyadari Pola Transformasi Virus Radikal yang Tidak Stagnant

- in Narasi
332
0
Renungan Akhir Tahun: Menyadari Pola Transformasi Virus Radikal yang Tidak Stagnant

Ada yang bertanya, mengapa virus radikal ini tidak ada henti-hentinya untuk dibahas di setiap tahunnya? Bahkan pertanyaan ini sering-kali dijadikan dasar premis generic, bahwa virus radikal dianggap konspirasi dan akal-akalan pemerintah. Tanpa kita sadari bahwa ini adalah (pola) transformasi penyebaran virus radikal dalam bentuk penyebaran fitnah-fitnah yang semacam itu.

Tentu yang harus kita pahami, bahwa virus radikal tidak akan pernah stagnant ke dalam satu pola. Mereka akan terus ber-transformasi dan berupaya mencari titik celah kelemahan kita di setiap kondisi-situasi yang ada di negeri ini. Sehingga, ketika kita lengah satu langkah saja, maka tentu mereka sangatlah mudah dalam menghancurkan bangsa ini.

Renungan Akhir Tahun 2022 untuk Indonesia Harmonis di Tahun 2023

Saat ini kita telah berada di titik penghujung akhir tahun 2022. Kalau kita amati, ada begitu banyak pola transformasi ideologis virus radikal yang di sepanjang tahun 2022. Dengan membangun semacam pola adu-domba, pola fitnah dan geliat romantisme masa lalu layaknya khilafah yang sebetulnya perlu kita renungkan di akhir tahun ini.

Misalnya, ada sebuah pola transformasi gerakan radikal di tahun 2022 yang sebetulnya bukan bersifat propaganda ajaran. Tetapi, membangun semacam (pola fitnah) ketika ada instansi layaknya BNPT ingin mensterilkan pesantren dan rumah ibadah dari virus radikal. Namun, ada sebuah narasi yang muncul bahwa ini adalah gerakan islamophobia atau kebencian atas Islam.

Pola fitnah bersifat tuduhan yang semacam ini pada dasarnya bernilai plus terhadap reputasi masyarakat atas kelompok radikal. Bahkan, ini akan mencari titik aman untuk berlindung di balik narasi tersebut. Sebab, ketika ada gerakan yang berupaya ingin membersihkan ajaran-gerakan radikal, maka ini akan dianggap proyek kebencian atas agama Islam.

Sehingga, pola tuduhan-tuduhan fitnah yang semacam ini akan menjadi semacam kekuatan bagi virus radikal. Untuk menyebarkan ajarannya di berbagai ranah tanpa ada rasa ancaman dari pihak mana-pun. Karena, mereka berlindung di balik tuduhan-tuduhan tersebut sehingga masyarakat dijadikan “inang boneka” untuk melindungi mereka dengan mengatasnamakan ajaran-ajaran Islam itu.

Fakta yang Saya jelaskan di atas merupakan pola transformasi gerakan virus radikal di tahun 2022 yang perlu kita renungkan. Agar, kita bisa memiliki cara berpikir yang lebih sensitif atas pola transformasi virus radikal muncul setiap tahunnya. Utamanya di tahun 2023 nanti agar lebih terbuka di dalam membaca pola transformasi gerakan radikal itu sendiri.

Sebab, gerakan narasi tuduhan-fitnah layaknya radikalisme-terorisme yang dianggap konspirasi pemerintah, gerakan anti-Islam, moderasi dianggap proyek kafir dan di luar Islam serta Pancasila dianggap hukum kafir. Ini sebetulnya adalah sebuah pola yang dibangun kelompok radikal untuk meracuni umat agar mereka hilang segala komitmen dalam dirinya atas bangsa ini dalam bersikap.

Ini adalah cara pandang yang konstruktif di dalam mempersiapkan mentalitas kita, di tahun 2023 nanti. Sebab, akan ada sebuah pola baru yang akan dipermainkan kelompok radikal. Tentunya ini perlu kita sikap secara orientasi dan bagaimana kita bisa membendung kenyataan pahit tersebut untuk berjuang demi Indonesia yang harmonis di tahun 2023 nanti.

Urgensi Merawat Pancasila, Kebhinekaan, NKRI dan UUD 1945 sebagai Vaksin Radikal

Saya rasa, segala bentuk pola-transformasi gerakan virus radikal tampaknya dapat kita lawan dengan kokoh pada prinsip kebangsaan yang kita miliki. Bagaimana tidak? Karena segala bentuk gerakan transformasi ideologi radikal yang Saya amati selalu memiliki korelasi ke dalam proses pelemahan atas prinsip kebangsaan-nya dalam diri seseorang tersebut.

Sehingga, sangat penting Saya rasa untuk merawat spirit Pancasila sebagai jalan bagi kita untuk kita (tahan secara ideologis) atas gerakan ideologi yang sengaja ingin menghancurkan ideologi kita di dalam berbangsa. Juga, dengan memperkuat komitmen Kebhinekaan kita dan membangun sebuah kesadaran yang kokoh atas NKRI, juga tetap pada komitmen UUD 1945.

Ini adalah jalan paradigmatis bagi masyarakat untuk tidak mudah terkontaminasi virus radikal dengan beragam pola yang dimainkan. Sebab, ketika seseorang tetap berkomitmen ke dalam prinsip persatuan, kebersamaan, keharmonisan, kemajemukan yang tolerant. Maka ini akan menjadi satu kekuatan penting bagi bangsa ini untuk merajut tahun 2023 sebagai tahun harmoni.

Facebook Comments