Salah Kaprah Hijrah : Dari Kasus Intoleran Hingga Ekstrem

Salah Kaprah Hijrah : Dari Kasus Intoleran Hingga Ekstrem

- in Narasi
435
0
Salah Kaprah Hijrah : Dari Kasus Intoleran Hingga Ekstrem

Hijrah memang suatu peristiwa penting-untuk tidak mengatakan paling penting-dalam sejarah Islam. Tonggak sejarah peradaban Islam bukan hanya sebagai agama, tetapi komunitas dimulai dari sejarah ini. Tidak salah jika kemudian ini menjadi penanda awal tahun dalam sistem kalender sendiri yang berbeda dengan kalender masehi.

Hijrah sebuah peristiwa yang mengandung makna yang diperingati. Karenanya, hijrah hari ini menyisakan makna yang terus dipelajari dan dipraktekkan. Ada Sebagian pula yang ingin mengulangi sejarah hijrah dalam arti fisik. Hijrah sebagai peristiwa masa lalu ditangkap dalam cara pandang yang berbeda-beda.

Hijrah Kelompok Ekstrem

Kita mulai dari kelompok paling ekstrem. Kelompok radikal dan ekstrem menggunakan istilah hijrah dalam bentuk pengertian tekstual, perpindahan fisik. Sebuah keharusan bagi umat Islam untuk berpindah dari kondisi dan situasi yang dipandang tidak Islami ke wilayah yang mereka imajinasikan sebagai Madinah.

Hal yang paling nyata dari cerita ini adalah gerakan ISIS pada masanya. Tidak seperti Rasulullah yang berhijrah membangun Madinah dengan cara pandang yang inklusif, ISIS menguasai wilayah dengan darah di Irak-Suriah. Mereka mendekralasikan berdirinya negara Islam dengan menyitir berbagai dalil sebagai negara yang sudah dijanjikan.

Pasukan hitam dengan memegang teguh panji Rasulullah digambarkan melalui dramatisasi video yang menarik. Disebar di berbagai platform media sosial. Menarik simpati dan empati anak-anak muda, pun juga orang tua. Seruan hijrah diamplifikasi ke berbagai penjuru dunia.

Kesadaran dan pengetahuan dangkal anak-anak muda menyambutnya sebagai sebuah panggilan suci. Ayat-ayat hijrah bertebaran. Gambaran wilayah ISIS yang begitu indah digambarkan. Hidup di negara dengan syariat Islam dengan pimpinan khalifah. Mudah mencari kerja. Semua biaya ditanggung khalifah. Khilafahan menjadi solusi segala persoalan.

Propaganda ini begitu menakjubkan. Merobek hati pemirsa yang sebelumnya sudah terisi impian mencapai surga dan berdirinya khilafah. Saatnya hijrah. Hijrah adalah kewajiban. Hijrah dalam naungan khilafah. Begitulah gema ajakan-bagi mereka ajaran-yang menusuk hati keimanan dan keislamannya. Berbondong-bondong anak-anak muda baik sendirian atau membawa keluarganya bernaung di bawah khilafah.

Mimpi khilafah tidak berumur Panjang. Kisah hijrah menyisakan sesal. Banyak yang beruntung kembali dengan selamat. Ada yang sudah mati sesuai harapannya di negeri khilafah. Ada pula yang masih terkatung-katung di negeri bekas khilafah ISIS. Berharap negara yang telah mereka anggap negeri kafir menerimanya kembali.

Inti gerakan ini adalah mengkafirkan negara yang ditinggali atau paling tidak membangun imajinasi dalam diri mereka bahwa negara yang ditinggali telah berbuat dzalim, anti Islam dan mengekang umat Islam. Pilihannya adalah hijrah fisik ke negeri yang diidamkan.

Apakah setelah ISIS selesai, mimpi usai? Belum tentu, mereka masih memaknai kondisi saat ini seperti fase Makkah yang sedang menyampaikan risalah. Fokus membangun kekuatan melalui kamp-kamp latihan dan rekrutmen. Jika hijrah gagal ke tanah seberang, mimpi mereka adalah fathu Makkah.

Hijrah Kelompok Intoleran

Tidak seekstrem ISIS dalam memaknai hijrah sebagai perpindahan tempat. Ada gerakan masif pula hijrah dalam arti maknawi perubahan dari Islam menjadi lebih islami. Mereka sejatinya sudah beragama Islam, tetapi merasa belum islami.

Ada sebagian mereka yang memang tidak pernah beribadah, atau bolong-bolong, atau beribadah tapi masih berkubang dengan dosa. Tergeraklah mereka dengan kata hijrah. Merubah diri secara drastis. Bagi mereka saatnya hijrah, jangan hanya menunggu hidayah.

Gerakan ini menyasar anak-anak muda, tidak sedikit pula para artis dan publik figur. Berubah dari gaya lama menjadi gaya baru yang islami. Meninggalkan pekerjaan lama mengganti dengan pekerjaan yang lebih islami. Tentu semuanya dalam kacamata islami versi mereka.

Kelompok ini membentuk circle baru yang pada akhirnya sangat ekslusif. Dari seekdar memilih makanan, memilih teman, memilih pekerjaan, bahkan mungkin pada akhirnya memilih pemimpin. Bahkan ada pula yang harus memutuskan hubungan suami dan istri atau dengan orang tuanya karena berbeda jalan. Ada kacamata hijrah yang memandunya.

Hijrah dalam sejarah keluar dari ketertindasan dan ancaman sebagaimana di Makkah menuju Madinah yang lebih damai dan terbuka. Tetapi, tidak dengan gerakan hijrah gaya baru ini. Mereka menjadi semakin tertutup. Dan menganggap lingkungannya adalah ancaman imannya.

Bukan berhijrah membangun suasana aman dan terbuka, tetapi hijrah menguatkan keyakinan sembari membayangkan di luar sana adalah ancaman. Sesungguhnya mereka bukan sedang berhijrah. Tetapi hanya membangun basis kekuatan yang intoleran dan ekslusif.

Karena itulah, anak-anak muda mesti harus hati-hati dalam belajar dan memaknai hijrah. Hijrah adalah peringatan dan momentum untuk merefleksikan nilai mengikat persaudaraan, menanam perdamaian dan tumbuh bersama dalam perbedaan. Itulah hijrah Nabi.

Jika anda sekedar ingin melepaskan diri dari kehidupan lama yang penuh dosa, cukuplah bertobat. Kurangilah maksiat, perbanyak ibadah dan tetap melakukan kesalehan sosial yang memadai. Tidak harus menutup diri dari lingkunganmu.

Madinah tempat hijrah Nabi penuh keterbukaan. Bukan satu kelompok mengisolasi diri karena takut keimanannya tercemar. Mereka membangun dan melindungi bersama kota Madinah dari berbeda suku dan agama. Hijrah adalah semangat bekerjasama membangun wilayah yang dicintai.

Facebook Comments