Santri dan Takfiri

Santri dan Takfiri

- in Suara Kita
77
0

Tentu tidak ada yang menyoal ketika ada yang mengatakab bahwa kontribusi santri begitu besar bagi negeri ini. Sebab, fakta memang berbicara dan menegaskan demikian, bahwa Indonesia merdeka, salah satunya, berkat susah-payah santri dalam mengusir dan memerangi para sekutu yang merong-rong kembali kemerdekaan Indonesia kala itu.

Resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1947 memantik semangat dan nyali segenap umat Islam untuk berperang melawan ribuan tentara Inggris dan penjajahan Belanda dengan tentara NICA kala itu. Saking semangat dan teguhnya santri dan segenap umat Islam kala itu, mereka memiliki semboyan yang luar biasa; hidup mulia atau mati syahid! (isy kariman aw mut syahidan). Walhasil, tepatnya pada tanggal 10 November, masyarakat Indonesia, yang di dalamnya terdiri dari kyai, ulama, dan santri di seluruh Jawa, mampu memukul mundur pasukan sekutu.

Menurut catatan Direktur Museum NU Achmad Muhibbin Zuhri (2012), sebagaimana dikutip Kartika (dalam insists.id) terdapat dua naskah Resolusi Jihad. Pertama, naskah “Resolusi Djihad fi Sabilillah, salinannya dikoleksi oleh Museum NU. Kedua, naskah “Resoloesi Moe’tamar Nahdlatoel Oelama’ ke-XVI” di Purwokerto tanggal 26-29 Maret 1946. Secara keseluruhan, ada beberapa poin penting dalam kedua naskah, yaitu hukum jihad membela negara dan melawan penjajah adalah wajib (fardlu ‘ain).

Dakwah Zaman Now

Bertolak dari perjuangan santri dahulu (santri old) yang telah mengukir tinta emas untuk Indonesia dan juga anak cucu bangsa Indonesia, maka santri sekarang (santri zaman now) tidak bisa leha-leha sembari membusungkan dada  dan berkata bahwa Indonesia merdeka berkat sumbangsih santri dan kyai tanpa melakukan sebuah refleksi kemerdekaan dalam konteks kekinian.

Justru tantangan atau jihad santri zaman now sungguh berat sekali. Hal ini ditandai dengan semakin menguatnya kelompok yang mengatasnamakan Islam tetapi perbuatan dan gerakannya justru berbanding terbalik dengan spirit Islam itu sendiri. Dengan demikian, jihad santri zaman now tidak lagi memerangi musuh yang memiliki warna kulit yang berbeda, bentuk tubuh yang berbeda pula, dan yang memiliki agama bahasa berbeda pula, namun “musuh” santri saat ini adalah saudara sendiri yang kulit, bentuk tubuh, bahasa dan agamanya sama namun memiliki pemahaman yang sesat. Ya. Kelompok tersebut adalah kelompok yang gemar mengecap kafir (takfiri) kelompok yang berbeda pandangan dengan mereka.

Budaya takfiri tidak sekedar menjadi keprihatinan, melainkan juga dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan antar kelompok yang berujung pada disintegrasi nasional. Bayangkan saja apabila kelompok yang dikit-dikit minta dalil dari Alquran dan mudah mengklaim kafir kelompok lain ini berkembang pesat di Indonesia yang plural dan toleran ini, maka setiap hari kita akan disibukkan dengan pertengkaran yang tiada akhir.

Demokrasi dianggap produk kafir. Pancasila disebut sebagai thaqut. Orang yang menerapkan demokrasi dan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara adalah sesat dan tidak benar, maka ia harus didakwahi hingga sepaham dengan mereka. Namun tak jarang dakwah yang mereka jalankan terkesan menyesatkan dan brutal.

Sekali lagi, bagi kelompok ini, pemerintahan Indonesia tidak wajib ditaati atau yang lebih ekstremmnya lagi, bagi kelompok inii, pemerintahan Indonesia saat ini tidak sah. Oleh sebab itu, mereka selalu membuat propaganda bahwa Islam dan Keindonesiaan tidak sejalan.

Padahal, jika ditelisik lebih dalam lahirnya resolusi jihad kala itu adalah berkat pandangan yang komprehensif dari segenap ulama kala itu, yang menganggap bahwa pemerintahan atau negara Indonesia yang berasaskan Pancasila sesuai dengan nilai-nilai Islam. Maka, organisasi besar Nahdlatul Ulama secara sadar dan terencana mengakui bahwa sejak proklamasi dikumandangkan, pemerintahan RI adalah pemerintahan yang sah dan sesuai dengan hukum Islam. Oleh sebab itu, sekali lagi, mempertahankan NKRI adalah harga mati!

Kembali pada kelompok takfiri. Nasih (2012) memberikan penjelasan bahwa munculnya kelompok yang gemar mengkafirkan kelompok lain disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah meyakini kebenaran tunggal. Dogma yang dianut oleh kelompok ini menegasikan adanya sebuah tatan yang plural. Mereka mempercayai bahwa hanya dirinyalah yang benar di dunia ini.

Jelas, cara berfikir yang demikian ini, terlebih hidupnya di Indonesia, tidak cocok bagi karakter orang Indonesia secara keseluruhan. Sebab, komposisi Indonesia adalah beragam sehingga meniscayakan adanyakah toleransi sebagai kunci hidup harmoni dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Konkretnya, santri zaman sekarang harus bisa memposisikan diri sebagai kelompok yang moderat dan memberikan pencerahan kepada kelompok takfiri ini bahwa Islam tidak mengajarkan kebenaran tunggal. Kebenaran tunggal hanyalah milik Allah. Sementara kebenaran manusia itu bisa beragam. Sebagaimana dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, bahwa kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran.

Bahkan Alquran, secara eksplisit mengakui eksistensi agama lain (lihat QS. An-Nahl; 93). Jika Allah menghendaki, niscaya penduduk di bumi ini bisa dijadikan beriman semua (QS. Yunus; 99). Ibnu Katsir memberikan penjelasan bahwa perbedaan bukanlah alasan munculnya perpecahan. Justru adanya perbedaan tersebut harus tercipta hubungan harmonis diantara yang berbeda; dengan tidak berselih, memusuhi, dan tidak saling mendengki. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Facebook Comments