Setia NKRI Watak Asli Pesantren

Setia NKRI Watak Asli Pesantren

- in Keindonesiaan
1888
0

Peran Pesantren (yang direpresentasikan oleh golongan ulama dan santri) tak pernah terpisahkan dalam sejarah Nusantara. Kontribusi Islam tidak hanya bisa dirunut di zaman kemerdekaan saja, tapi sudah ada jauh di masa-masa kerajaan dan kesultanan di Nusantara. Sumber-sumber sejarah yang menyebutkan soal ini bisa ditelesuri hingga sekitar abad 15 Masehi, sejak zaman Majapahit di pulau Jawa dan Samudera Pasai di Sumatera.

Loyalitas Pesantren terhadap tanah air di bumi Nusantara beberapa kali mengalami ujian. Di masa awal penyebarannya, Islam mengambil jarak untuk tidak berhadap-hadapan secara frontal dengan kekuasaan Majapahit kala itu. Pemuka Islam kala itu lebih memilih bekerjasama dengan penguasa Majapahit yang beragama Siwa-Budha.

Ketika Majapahit mengalami kemunduran dan terjadi perebutan tahta, Islam tampil sebagai kekuatan yang menjaga keutuhan persatuan Nusantara. Kekuatan yang terserak itu ‘dikumpulkan’ lewat otoritas baru bernama Kesultanan Demak Bintoro. Otoritas baru inilah yang pernah menahan intervensi asing dalam wajah kolonialisme yang dikomandoi Portugis.

Perlawanan-perlawanan sporadis terhadap penjajahan tak pernah berhenti dan berlangsung sepanjang 3 abad. Di tanah Jawa jejak perlawanan besar terjadi di tahun 1825-1830. Kolonial Belanda menyebutnya sebagai perang Jawa. Saat itu jejak perlawanan umat Islam terhadap hegemoni kolonial dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan Mataram dari Keraton Ngajogjakarto Hadiningrat berlatar belakang santri.

Tertangkapnya Diponegoro menandai berakhirnya masa perang Jawa yang dimenangkan oleh pihak kolonial. Sisa kekuatan Diponegoro kemudian terpecah ke banyak daerah di seantero Nusantara. Mereka menggalang kekuatan rakyat dengan mendirikan sejumlah pesantren. Kecintaan terhadap tanah air dan cita-cita mengusir kolonialisme ditanamkan lewat alur pendidikan. Haluan perjuangan diubah, dari mengangkat senjata ke penggunaan pena.

Konsolidasi nasionalisme kaum santri menjadi tren utama pendidikan pesantren saat itu. Bahkan, sejumlah ulama menjadikan Mekkah sebagai kota transit pemantapan ideologi nasionalisme keislaman santri. Di tanah suci selain menuntut ilmu jamaah haji asal Indonesia melakukan konsolidasi pengembangan jaringan perlawanan terhadap kolonialisme. Setelah tiba di tanah air mereka akan memimpin umat untuk secara perlahan dan pasti mengumandangkan anti kolonialisme.

Tak perlu waktu lama, hanya seabad setelah perang Jawa kekuatan santri menjadi semakin massif. Perlawanan terhadap kolonialisme makin kencang bertiup dari arah pesantren. KH. Cholil Bangkalan yang menjadi guru para kyai di awal abad 20 memerintahkan agar KH. Hasyim As’ary membentuk organisasi yang menghimpun kekuatan perlawanan kaum santri itu. Perintah itu dilaksanakan dengan membentuk Nahdlatul Ulama pada 1926.

Dorongan perlawanan semakin kuat paska peristiwa Sumpah Pemuda 1928 dan mencapai puncaknya di kisaran tahun 1940-an. Paska jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima Jepang menyerah kepada sekutu dan berniat mengembalikan jajahan Nusantara ke pemerintah kolonial Hindia Belanda. Rencana itu ditolak bangsa Indonesia dengan segera memproklamirkan kemerdekaan di 17 Agustus 1945 di saat terjadi kekosongan kepemerintahan. Kaum santri memberikan loyalitas penuh pada kemerdekaan.

Loyalitas itu tak hanya sekedar dukungan lisan. Sejumlah tokoh santri terlibat secara aktif dalam perumusan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nama KH. Wahid Hasyim merupakan salah satunya. Dialah yang menyetujui penghapusan Piagam Jakarta tentang ‘Kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya’. Hal itu ia lakukan demi mempertahankan persatuan bangsa yang baru saja terbentuk.

Belanda menganggap kemerdekaan Indonesia ilegal. Penjajah satu ini mencari dukungan sekutu untuk melakukan segala upaya untuk mengambil kembali jajahannya, termasuk aksi militer. Peran santri kembali diuji. Segenap kekuatan santri dikerahkan untuk menghalau penjajah. Laskar-laskar santri seperti Hizbullah dibentuk di sejumlah front peperangan. Puncaknya, jelang ultimatum sekutu kepada penduduk Surabaya, para kyai berkumpul menyatakan sikap agama menolak penjajahan. Bahkan, KH. Hasyim As’ary mengeluarkan Resolusi Jihad yang menjadikan legitimasi spiritual membela tanah air.

Dari secuil kisah di atas dapat dipastikan Islam ala Indonesia yang misinya selalu diajarkan di pesantren adalah Islam yang konstruktif dan bukan destruktif. Jika para kyai yang tingkat keilmuan dan kesalehannya sangat tinggi mau berjuang habis-habisan mempertahankan NKRI, kenapa orang-orang yang mengatasnamakan Islam di masa sekarang tega ingin merubuhkan negara? Semoga jadi renungan bersama.

Facebook Comments