Menyudahi Kebencian

Menyudahi Kebencian

- in Budaya
2044
0

Pernah dengar istilah “haters”? Bagi sebagian kalian yang akrab dengan media sosial, istilah ini tentu sudah familiar atau kerap menjadi sangat menakutkan. Tapi ada sebagian yang mengatakan, haters merupakan kewajaran apalagi bagi public figure. Bahkan konon ada rangking khusus bagi artis dengan haters terbanyak. Loh, Kenapa haters harus dianggap kewajaran? Mengapa membenci terhadap seseorang menjadi lumrah dan tidak mengapa?

Baiklah kita tinggalkan haters dan membahas yang lebih luas tentang “perilaku membenci”. Membenci adalah buah dari pra sangka buruk. Pra sangka yang dipupuk dan dikembangbiakkan akan menjadi perilaku yang suka mencari-cari kesalahan orang lain. Nah orang seperti ini seluruh hidupnya adalah menjadi “pengamat” alias bertugas mengamati kesalahan orang lain.

Kalaupun pra sangka itu terbukti kebenarannya, seseorang akan terdorong nafsunya untuk membicarakan ke mana. Inilah yang disebut ghibah. Media sosial hari ini menjadi instrumen mempercepat ghibah bagi orang yang gemar menshare kesalahan orang lain dengan nada penuh kebencian. Perilaku ghibah dalam Islam diibaratkan perilaku menjijikkan yang seolah memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati.

Namun, jika pra sangka yang mereka tanamkan terbukti salah, seorang yang doyan ghibah cenderung tetap menshare ke mana-mana dengan membelokkan data seolah menjadi fakta. Nah perilaku seperti ini dalam Islam disebut dengan fitnah.  Nah yang ini urusannya bisa beda. Dalam Islam akan disebut fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan, dalam hukum positif akan dicap pencemaran nama baik.

Di dunia maya dan di dunia nyata para penyebar pra sangka dan kebencian ini selalu menyibukkan hidupnya dengan mengoleksi kesalahan, mengkompilasi tuduhan dan menyebarkan kebencian guna mencari teman untuk mencaci orang lain. Anehnya individu dan kelompok penyebar kebencian ini tidak ada lelahnya mencari kawan.

 Buruk Sangka, Penyakit Hati

Tetapi apakah kalian tahu, pra sangka buruk dalam agama kita sebut dengan penyakit hati. Dalam kajian psikologi kebiasaan ini disebut sebagai penyakit mental atau dikenal dengan siege mentality. Siege mentality didefinisikan sebagai keadaan mental di mana seseorang merasakan dirinya terus diserang, ditekan atau dikucilkan (a state of mind in which one feels attacked, oppressed, or isolated); suatu keadaan psikologis yang senantiasa merasakan bahaya-bahaya dari luar dan terancam.

Orang yang sehari-hari berburuk sangka itu seolah-olah dirinya dan komunitasnya selalu dalam ancaman dan tekanan. Mereka hidup dalam bayang-bayang ancaman dari pihak lain. Sedikit-dikit akan menyandarkan segala hal pada kesalahan orang lain, bahkan pada kejadian yang tidak ada korelasi logis sekalipun. Misalnya bencana alam sebagai konspirasi negara adi daya, banjir pengalihan isu pemerintah, bahkan daun jatuh pun ditenggerai rekayasa aparat.

Biasanya orang yang sudah terbiasa dengan penyakit mental ini sangat lihai dalam merangkai isu menjadi berita dan membalikkan berita menjadi fakta yang berbeda. Nah yang patut diwaspadai apabila penyakit buruk sangka ini muncul dalam komunitas keagamaan. Biasanya hal ini terjadi bagi kalangan non-mainstream yang merasa lingkungan luar atau sistem besar tidak mengakuinya, mengucilkan dan mengancamnya. Kelompok keagamaan yang terperangkap dalam siege mentality cenderung berpandangan orang lain salah dan penuh curiga terhadap yang lain.

Buruk sangka dalam hubungan agama-agama akan menimbulkan ketegangan sosial bernuansa agama. Itulah yang harus diwaspadai. Narasi, cerita dan berita penuh kecurigaan, kebencian dan penghasutan yang dibungkus dengan idiom agama akan menyentuh emosi keagamaan dan mudah menjalar ke arena kehidupan sosial.

Bagaimana mengkakhiri pra sangka buruk dan menekan angka kebencian? Berpikir positif, saling menasehati, dan tabayun adalah beberapa cara membebaskan diri dari jeruji purba sangka. Buruk sangka dan kebencian merupakan batu sandungan terbesar dalam jalinan komunikasi dan relasi sosial.

Buruk sangka dan kebencian dengan apapun alasannya harus tidak boleh menemukan ruang bersemi baik dalam hati maupun di lingkungan sosial. Kemunculannya tidak akan melahirkan hal positif, justru menyulut perselisihan dan pertengkaran. Ingat konflik selalu muncul dari pra sangka, berkembang menjadi tuduhan, merambah menjadi ghibah, membesar menjadi fitnah dan meledak menjadi perselisihan.

Islam memberikan petunjuk untuk memotong akar konflik sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (Al-Hujuraat: 12) yang menyerukan kepada seluruh umat Islam dan manusia pada umumnya untuk menjaga harga diri mereka dan menjaga martabat saudaranya dari bahaya buruk sangka.  

Menarik untuk menyelami mutiara sabda Nabi SAW dalam sebuah hadis diriwayatkan Abdul Razzaq dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Mushannaf-nya,:

“Hindarilah oleh kalian prasangka buruk, sebab ia termasuk kedustaan besar, janganlah kalian saling menyindir, saling mencari-cari kesalahan, saling memendam rasa dendam, saling berselisih, dan saling bertengkar, namun jadilah kalian orang-orang yang bersaudara”.

Orang yang selalu terperangkap dalam buruk sangka berarti merelakan diri untuk menanam permusuhan dan kebencian. Jika tidak bisa menjalin persaudaraan, setidaknya kita tidak merusak persaudaraan orang lain. Semoga.

Facebook Comments