Sukarno dan Pancasila: Menggugah Kesadaran Kaum Muda Bangsa

Sukarno dan Pancasila: Menggugah Kesadaran Kaum Muda Bangsa

- in Suara Kita
505
0
Sukarno dan Pancasila: Menggugah Kesadaran Kaum Muda Bangsa

Dalam upaya menggerakkan semua potensi bangsa membendung radikalisme dan terorisme, anak muda adalah ujung tombak paling utama. Di tangan anak muda, kampanye gerakan anti kekerasan harus selalu disuarakan dalam semua kerangka gerakan bangsa. Kaum muda harus menjadi penggerak, karena kaum muda menjadi energi paling besar yang dimiliki bangsa ini. Jangan sampai anak muda justru terpapar jaringan gerakan radikal.

Dalam konteks ini, mengurai semangat perjuangan Sukarno dalam memaknai Pancasila untuk gerakan kaum muda bangsa sangat tepat. Sukarno sendiri sejak muda selalu bersentuhan dengan persoalan kebangsaan yang menyentuh hatinya untuk bergerak dan berjuang untuk masa depan bangsa. Sejak umur 14 tahun, ia sudah bertemu dengan HOS. Tjokroaminoto, guru politiknya sekaligus mertuanya. Sejak bersama dengan HOS. Tjokroaminoto, Sukarno sudah bertemu dengan KH Hasyim Asy’ari, KH A Wahab Chasbullah, Alimin, Musso, H. Agus Salim, dan Abdul Muis. Sukarno juga aktif dalam organisasi pemuda Tri Koro Darmo, bentukan Budi Utomo, yang kemudian berganti nama menjadi Jong Java.

Kemudian ketika berumur 19 tahun, ia tinggal di Bandung untuk studi teknik sipil di Technische Hoge School (sekarang ITB).  Saat di Bandung, Sukarno bergerak intensitas gerakannya. Ia sudah akrab H. Sanusi, anggota Sarekat Islam (SI), Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Doewes Dekker, yang ketiganya saat itu menjadi pemimpin organisasi National Indische Partij. Ketika usianya mencapai 24 tahun, Soekarno menjadi aktivis politik yang selalu bergerak aktif menentang penjajah. Umur 25 tahun, ia mendirikan Alegeme Studie Club. Umur 26 tahun iamendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Kala menjadi Presiden RI pertama, ia berumur 44 tahun.

Kiprah Sukarno di masa muda menjadi ilham tersendiri bagi para capres-cawapres untuk bergerak maju dalam menyongsong masa depan bangsa. Para politisi di masa pergerakan nasional, dimana Sukarno termasuk di dalamnya, menjadi penggerak perjuangan dan memimpin perjuangan dengan segenap tumpah darahnya. Mereka tak gentar dengan penjajah yang memecah-belah persatuan. Tekad mereka teguhkan dan gerakan mereka satukan. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Jenderal Soedirman, bukanlah sosok yang takut pada jamannya. Mereka adalah berenergi besar yang teguh berani menegakkan kebangsaan Indonesia.

Menggugah Semangat

Kini, ketika bangsa ini memanggil peran kaum muda, kaum muda harus memanfaatkan momentum ini sebagai ruang pergerakan dalam menggugah kesadaran kaum muda dalam menggerakkan kepemimpinan bangsa. Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti pribadi Bung Karno, etos negarawan begitu tercermin dalam dirinya. Terbukti, ketika ia memimpin, gerak kemandirian begitu kuat terpatri dalam benak bangsa. Pidato-pidatonya bukan saja menggugah semangat bangsanya, tetapi juga membuat nyali dunia internasional semakin ciut kala berhadapan dengannya. Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 membuktikan Soekarno sangat dihormati di dunia internasional. Ketika pidato dalam sidang PBB, Soekarno memperlihatkan kualitas bangsa Indonesia yang tak kalah dengan negara maju pada jaman itu.

Jalan kepemimpinan yang ditasbihkan oleh Bung Karno dan para founding fathetelah menitahkan mereka sebagai manusia yang, dalam istilah Gede Prama, mendapatkan berkah agung: ”memandang perbedaan sebagai keindahan, melindungi diri dengan perisai kesabaran, kekayaannya adalah rasa kecukupan, hidupnya diterangi matahari kesabaran, dan kalau terpaksa mengeluarkan pedang, ia mengeluarkan pedang kebijaksanaan”.

Menjadi pemimpin bangsa bukanlah sekedar menduduki jabatan politik semata. Para pemimpin besar adalah mereka yang secara total lebur ke dalam dinamika masyarakatnya. Totalitas ini menuntunnya merumuskan secara tepat apa yang dibutuhkan bangsanya. Itu pun harus diwujudkan ke dalam satunya kata dengan perbuatan. Mahatma Gandhi menjadi pemimpin besar India walau dia tidak pernah menduduki jabatan apa pun di jajaran pemerintahan. Dia merumuskan nilai-nilai kemasyarakatan bangsa India sambil menyelaraskan penampilan dengan filosofi ajaran-ajaran itu. Pakaiannya hanya dua helai kain, kakinya bersandal jepit. Demikian pula Ho Chi Minh untuk Vietnam yang bersepatu sandal dari ban bekas. Bila pergi keluar negeri, dia naik pesawat komersial kelas ekonomi.

Dari sinilah, para petinggi negara ini harus diajak bangkit. Pemimpin bangsa ini harus diajak berguru kembali, sehingga menemukan etos dirinya dalam membangun bangsa di masa depan. Kisruh dan konflik antar penyelenggara negara hanya membuat rakyat semakin sakit hati. Kalau jargon kerja dijalankan, hanya hanya bicara saja, tetapi bekerja nyata yang bisa dirasakan rakyat. Bicara hanya mengobral janji. Pejabat negara harus serius memperjuangan nasib rakyat kecil dengan kesungguhan hati.

Pancasila dan Makna Jebakan

Dalam memimpin bangsa ini, Bung Karno selalu berpijak dengan nilai-nilai Pancasila. Makanya, dalam memimpin negara bukan didasarkan kepada kursi dan jabatan, melainkan dengan hikmah kebijaksanaan. Inilah warisan agung yang mendasari NKRI selalu tegak sampai saat ini. Hikmah kebijaksanaan bukan sekedar mendapatkan ilmu dari lembaga pendidikan, melainkan dari menggali atas nilai-nilai luhur bangsa yang sudah terbukti mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari rakyat.

Bung Karno juga tegak berani berdiri di atas kaki bangsanya, melepaskan jebakan dan jeratan politik yang mencederai kemandirian bangsa. Pemihakannya kepada kaum marhaen bukanlah sekedar simbol dalam kampanye, melainkan sebuah lelaku politik yang dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pelajaran ini juga sangat penting dalam kepemimpinan Indonesia. Saat ini partai politik tampil sebagai figuran di berbagai media dan ajang diskusi, tetapi hanya buih yang terlihat. Partai politik sibuk dengan kursi jabatan dalam Pilkada serentak nanti. Padahal, pemimpin pemimpin adalah mereka yang siap dan mampu membawa Indonesia sebagai negara berdaulat, berdikari dan berkebudayaan.

Jangan sampai Indonesia ternyata dalam ruang seremonial konflik dan kisruh politik, sementara pesan penting para pendiri bangsa terlupakan.

Facebook Comments