Tafsir Jurnalistik

Tafsir Jurnalistik

- in Wacana
1640
0

Media massa yang kita kenal hari ini bukan barang baru. Keberadaannya sudah ada sejak adanya manusia itu sendiri. Disadari atau tidak media massa menempati peran strategis dalam peradaban manusia. Hanya saja bentuk dan personifikasinya berbeda mengikuti alur perubahan waktu. Namun, fungsinya tetap sebagai alat untuk memberi informasi, dan bahkan mempengaruhi opini publik.

Belakangan tahun terakhir, media massa mengalami proses transisi yang luar biasa. Perubahan kebiasaan manusia dari media tidak bergerak menjadi media bergerak, mobile information. Perubahan kebiasaan memperoleh informasi ini ditandai lewat bangkitnya peradaban maya dan gadget, dimana sebaran informasi tak lagi dibatasi zona ruang dan waktu. Apa yang terjadi saat ini dapat diketahui secara real time di tempat yang berbeda.

Di masa pra dan awal peradaban Islam, syair –dalam bentuk prosa dan puisi- menjadi media utama manusia Arab saat itu dalam penyebaran informasi dan gagasan. Media massa dalam bentuk ini dipergunakan peradaban saat itu untuk berbagai agitasi.

Puisi-puisi erotik misalnya, menjadi alat agitasi paling mujarab untuk memberi semangat di medan tempur. Saat melawan pasukan Muslim di Uhud, Hindun isteri Abu Sufyan bersama perempuan jahiliyah lainnya mengumandangkan syair erotik itu dengan penuh semangat.

Di tengah masyarakat media itulah Islam diturunkan bersama Alquran. Tentu saja, untuk menandingi agitasi kafir radikal saat itu kitab suci menggunakan cara yang sama dalam berkomunikasi. Dengan nalar tersebut dapat dikatakan bahwa kitab suci memiliki fungsi yang nyaris sama dengan media massa. Di dalamnya terdapat sejumlah informasi yang mempengaruhi opini publik masyarakat saat itu. Bedanya, masyarakat jahiliyah menjadikan syair sebagai alat propaganda negatif sementara Alquran sebaliknya.

Surat Asy-Syu’araa’ ayat 221-227 menarik untuk dicermati dalam konteks media massa kekinian. Dalam fiman Tuhan tersebut Alquran menjelaskan perbedaan yang rigid antara media yang dipakai untuk kejahatan dan kebajikan. Di ayat 221 – 223 Alquran menyamakan mereka yang ber-media dengan kebohongan dan perilaku durjana sebagai orang yang ‘kesurupan’ Setan.

Gagasan radikal mereka dipastikan diperoleh dari Setan yang sedang berupaya mencuri dengar perbincangan para Malaikat. Karena sifat jahat yang melekat pada Setan informasi langit yang semestinya baik terdistorsi menjadi jahat. Jelas ini peringatan yang sangat keras!

Sedangkan ayat 224 – 226 bercerita tentang para pengelola media jahat yang didukung orang-orang jahat. Mereka digambarkan sebagai sekelompok manusia yang tenggelam dalam lembah agitasi dengan memutarbalikkan fakta kebenaran. Orang-orang seperti ini juga dilukiskan sebagai orang berkarakter rendah lantaran kata dan perbuatan tak pernah berjalan seiring.

Namun demikian, dalam rangkaian penutup di ayat 227, Alquran memberi pengecualian. Itu berarti tidak semua pengelola media dikategorikan sebagai orang jahat yang ‘kesurupan’ Setan. Mereka yang dikecualikan adalah orang-orang yang meyakini kebenaran, melakukan kebaikan berdasarkan kebenaran itu, dan melakukan perlawanan terhadap kedzaliman yang diagitasikan media jahat.

Dalam konteks media hari ini, rasanya pesan Alquran yang pernah disampaikan 14 abad lalu itu masih dirasa sangat relevan. Pergulatan media jahat penebar radikalisme dan kebencian dengan sesama masuk dalam warning ayat ini. Kini pilihan ada di tangan kita. Akankah kita bergabung mengikuti media yang dirasuki pesan-pesan Setan berupa kebencian terhadap sesama (seperti takfiri) atau bergabung dengan mereka yang meyakini kebenaran dan berbuat baik?! Wallahu a’lam.

Facebook Comments