Tiga Tips Memilih Pesantren yang Steril Radikalisme

Tiga Tips Memilih Pesantren yang Steril Radikalisme

- in Narasi
464
0
Tiga Tips Memilih Pesantren yang Steril Radikalisme 

Kontroversi Al Zaytun yang dikaitkan dengan NII mengagetkan kita semua. Al Zaytun konon merupakan pesantren terbesar di Asia Tenggara. Lengkap dengan bangunan megah dan fasilitas pendukung lainnya. Fenomena ini menyadarkan pentingnya orangtua dalam memilih lembaga pendidikan khususnya pesantren bagi putra-putrinya.

Animo umat Islam mengirim anaknya ke pondok pesantren memang meningkat. Sayangnya, animo itu itu tidak dibarengi dengan pengetahuan dan kesadaran dalam memilih pesantren yang baik dan benar. Alhasil, banyak orang tua yang salah kaprah dalam memilih pesantren. Kerapkali orang tua memilih pesantren hanya dari megahnya bangunan atau lengkapnya fasilitas.

Dua hal itu memang penting, namun ada hal yang lebih penting dari itu. Tanpa pemahaman dan kesadaran yang kuat, banyak orang tua justru salah memilih pesantren. Tidak sedikit orang tua menitipkan anaknya ke pesantren yang justru menjadi sarang radikalisme dan ekstremisme.

Konsekuensinya, anak tumbuh menjadi individu yang eksklusif, konservatif, dan ekstrem. Bahkan, tidak jarang mereka berani mengkafirkan keluarga sendiri.

Bagaimana Memilih Pesantren yang Benar?

Dalam memilih pesantren, orang tua hendaknya memperhatikan tiga tips penting ini. Pertama, pilihlah pesantren yang dipimpin atau didirikan oleh seorang kiai atau ulama dengan sanad keilmuan yang jelas dan tersambung kepada Rasulullah Saw. Di dalam tradisi keilmuan Islam, utamanya paham Ahlussunnah wal Jamaah, sanad keilmuan adalah salah satu penentu utama sebuah ilmu bisa diverifikasi kebenarannya.

Ajaran yang disampaikan kiai atau ulama dengan sanad keilmuan yang jelas kecil kemungkinan akan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebaliknya, ajaran yang keluar dari sosok dengan sanad keilmuan yang tidak menyambung kepada Rasulullah tentu diragukan kebenarannya.

Kedua, pilihlah pesantren dengan melihat kurikulum dan materi yang diajarkan di dalamnya. Jangan hanya tergiur oleh kondisi fisik pesantren yang mewah dan megah. Di sini, orang tua memang harus jeli dan memiliki pemahaman terkait kurikulum dan materi yang diajarkan di pesantren.

Orang tua harus memiliki pemahaman mana kurikulum dan materi kepesantrenan yang moderat dan mana yang menjurus radikal. Memang tidak semua orang tua Memili pemahaman terkait wacana keilmuan di pesantren. Terlebih ketika mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren.

Maka, tidak ada salahnya bertanya pada pihak yang paham tentang peta keilmuan di pesantren. Tujuannya sekali lagi, agar anak tidak terjerumus ke dalam pemikiran dan gerakan yang bertentangan dengan Pancasila, NKRI, dan ajaran Islam itu sendiri.

Terakhir, pilihlah pesantren yang jelas-jelas berpandangan Ahlussunnah wal Jamaah. Lebih mudahnya, pilihlah pesantren yang berafiliasi dengan organisasi keislaman berkarakter moderat seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah. Itu adalah langkah paling mudah terhindar dari jebakan pesantren radikal yang saat ini menjamur.

Mengenali Ciri Pesantren Radikal

Riset disertasi yanf ditulis Khoirul Imam (2017) menjelaskan bagaimana pesantren radikal tumbuh subur di Indonesia. Imam menyebut kehadiran pesantren ini memanfaatkan momentum meningkatnya animo umat Islam menyekolahkan anaknya ke ponpes. Pesantren radikal juga memanfaatkan “kepolosan” orang tua yang tidak paham seluk-beluk pesantren. Tidak hanya itu, pesantren radikal juga memikat masyarakat dengan fasilitas bangunan yang megah, sekaligus tawaran beasiswa dan lain sebagainya.

Menurut Imam, kebanyakan pesantren radikal di Indonesia didanai dan berafiliasi dengan geakan Wahabi. Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa pesantren yang terafiliasi gerakan radikal memiliki setidaknya tiga ciri. Pertama, tidak memasukkan kitab-kitab turats klasik atau kitab kuning sebagai referensi keilmuannya. Inilah yang membedakan pesantren radikal dengan pesantren salaf-tradisional.

Kedua, mengajarkan paham keagamaan yang anti-nasionalisme, anti-Indonesia, dan anti-kearifan lokal. Pesantren radikal mendidik santrinya dengan pandangan keagamaan yang kaku, tekstualis, dan eksklusif.

Ketiga, mendoktrin santrinya dengan pemahaman keagamaan yang ekstrem. Misalnya kewajiban berjihad alias berperang mendirikan negara Islam.

Keempat, pendiri, pimpinan, dan pengasuhnya terlibat gerakan atau organisasi radikal, ekstrem, bahkan teroris. Jika pimpinannya saja merupakan anggota atau simpatisan teroris, sudah pasti pesantrennya pun berkarakter radikal.

Animo masyarakat mengirim anaknya ke pesantren tentu patut diapresiasi. Namun, perlu ada gerakan membangun kesadaran umat Islam ihwal bagaimana memilih pesantren berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dan berkarakter nasionalis. Gerakan “Ayo Mondok” yang diinisiasi NU beberapa tahun terakhir patut diteladani. Gerakan Ayo Mondok tidak hanya mendorong orang tua mengirim anaknya ke pondok pesantren. Namun, juga memberikan petunjuk ke pesantren dengan kriteria seperti apa orang tua harus menitipkan anaknya. Dengan begitu tidak akan ada lagi kasus orang tua salah mengirimkan anaknya ke pesantren. Orang tua berharap anaknya dididik menjadi anak soleh(ah). Namun, sepulang dari pesantren justru berani mengkafirkan keluarga sendiri.

Polemik Al Zaytun ini kiranya menjadi momentum untuk membangun kesadaran umat bahwa tidak semua pesantren itu baik. Penting kiranya umat Islam memahami peta wacana keilmuan di pesantren agar tidak salah pilih.

Facebook Comments