Membaca Global Terrorism Index 2023; Benarkah Gerakan Terorisme di Indonesia akan Berakhir?

Membaca Global Terrorism Index 2023; Benarkah Gerakan Terorisme di Indonesia akan Berakhir?

- in Faktual
1224
0
Membaca Global Terrorism Index 2023; Benarkah Gerakan Terorisme di Indonesia akan Berakhir?

Institute for Ecomomic and Peace (IEP) baru-baru ini merilis laporan tentang Global Terrorism Index 2023. Dalam laporan tersebut, IEP menempatkan Indonesia sebagai negara ke-24 yang terdampak terorisme secara global. Namun begitu, menurut laporan yang sama, sepanjang 2022 gerakan terorisme di Indonesia cenderung mengalami penurunan drastis dan terendah sejak 2014, yakni tujuh serangan teror. Jumlah tersebut lebih rendah ketimbang tahun 2021 yang tercatat ada 24 kasus serangan teror.

Aksi teror serius di tahun 2022 memang mengalami stagnasi. Sepanjang 2022, tercatat hanya ada satu aksi teror serius yang dilakukan oleh mantan narapidana terorisme Agus Sujatno di Polres Astana Anyar pada awal Desember 2022.

Sejalan dengan hal itu, laporan BNPT RI juga menyebut bahwa indeks radikalisme dan terorisme yang terdiri dari dimensi target dan dimensi supply sepanjang tahun 2022 mengalami penurunan. Bahkan melampaui target RPJMN 2020-2024. Sepanjang 2022, indeks dimensi target radikalisme berada di angka 51.54. Angka tersebut lebih rendah dari yang ditetapkan RPJMN, yakni 54.26. Selain itu, indeks dimensi supply pelaku berada di angka 29,48. Angka itu juga lebih rendah dari yang ditetapkan RPJMN, yakni 38,00.

Belum Berakhir!

Data dan fakta di atas memang menunjukkan bahwa di tahun 2022, aksi teror mengalami stagnasi dan kemandekan. Akan tetapi, dalam hemat penulis, data dan fakta di atas tidak bisa dijadikan referensi tunggal untuk mengatakan bahwa radikalisme telah mengalami kebangkrutan.

Data lain juga menunjukkan bahwa sepanjang Januari – November 2022, sekurang-kurangnya ada 23 teroris yang telah diamankan oleh Densus 88. Penangkapan itu dilakukan di berbagai daerah di Indonesia; dari Lampung, Bali, Aceh, Jawa Tengah, Malang, Madura, dan Sumatera Utara. Ironisnya, dua di antaranya adalah oknum polisi dan salah satu di antaranya adalah seorang guru.

Di bulan Desember 2022, jumlah teroris yang diamankan oleh Densus 88 jumlahnya lebih besar dari penangkapan yang dilakukan selama periode Januari – November. Menurut Karo Penmas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, sepanjang bulan Desember 2022, tercatat ada 26 teroris yang berhasil diringkus oleh Densus 88.

Ke 26 teroris itu ada yang berafiliasi ke Jamaah Islmiyah (JI) dan ada yang berafiliasi ke Jemaah Ansharut Daulah (JAD) dan beberapa di antaranya diketahui juga adalah pihak yang terlibat dalam peristiwa bom bunuh diri di Polres Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat.

Karena itu, meski dalam laporan IEP dan dalam laporan BNPT sendiri serangan terorisme pada 2022 terbilang rendah, hal itu tak boleh kita jadikan sebagai renfrensi tunggal bahwa gerakan terorisme di Indonesia telah mengalami kebangkrutan atau akan segera berakhir. Sebab, terorisme adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Berbagai studi mengatakan bahwa fenomena radikalisme tidak pernah mati dan padam. Meski situasi dan kondisi politik menampakkan ketenangan, namun sesungguhnya kelompok radikal itu terus bergerak dalam sunyi: seperti buaya di air sungai yang tenang, mereka terus membangun gerakan, memperkuat basis, dan mematangkan strategi.

Pada waktu yang senantiasa adalah misteri, saat kita lengah, nantinya ia akan muncul. Menimbulkan kekisruhan dan kekacauan dalam momentum politik 2024 yang coba kita bangun secara aman. Karena itu, tak salah bila kita menyebut fenomena radikalisme itu sebagai “bom waktu”. Sebab, dalam kondisinya yang tidak terlihat, ia senantiasa mengintai membaca dan peluang untuk melancarkan sejumlah aksi kekerasan yang akan memantik kekacauan atau bahkan tragedi berdarah. Karena itu, sedikit pun kita tak boleh lengah hanya persentase gerakan terorisme di tahun 2022 terbilang rendah.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, memasuki tahun politik, Kewaspadaan tetap terus dibangun, terutama menjelang Pemilu 2024. Sebab, berdasarkan pengalaman sebelumnya, aksi teror meningkat menjelang Pemilu 2019 (Kompas.id, 06/7/2023). Menjelang Pilpres 2019, tercatat terdapat 11 kali serangan terorisme. Dan terdapat 15 perencanaan serangan teror yang berhasil digagalkan oleh aparat keamanan. Sebab itu, bagaimana pun kondisinya, kita tak boleh lengah.

Facebook Comments