Kesetiakawanan Sosial dalam Himpitan Pandemi

Kesetiakawanan Sosial dalam Himpitan Pandemi

- in Suara Kita
1221
0
Kesetiakawanan Sosial dalam Himpitan Pandemi

Tak lama lagi peringatan Idul Adha akan menghampiri. Umat muslim di seluruh dunia jelas memiliki perasaan tersendiri menjelang peringatan ini, terlebih lagi di periode pandemi Covid-19 ini tengah berlangsung. Perasaan berbeda menerpa pemikiran, sebab tradisi yang biasa terjadi di tahun sebelumnya terasa berbeda atau bahkan menghilang karena kondisi yang ada. Sunguh berat memang, namun tuntutan beradaptasi menjadi hal yang mendesak dan tak dapat terelakkan. Belum lagi himpitan kehidupan sosial dan ekonomi jelas mengganggu agenda dan kondisi kesejahteraan semua pihak karena Pandemi ini tak kunjung menghadirkan tren positif. Ancaman terhadap kesehatan yang terus-menerus mengganggu ini tak ayal menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi umat manusia, khususnya bagi perkembangan pemikiran kesetiakawanan sosial bangsa ini.

Mungkin sekilas, hal tersebut kurang berarti signifikan. Namun sadarkah kita bahwa agenda menjaga jarak dalam periode pandemi ini rentan mendapat penafsiran yang keliru. Bila dilihat secara kritis, agenda penjagaan jarak malah berpeluang menghadirkan pemikiran dan sikap asosial di masyarakat. Kesalahan penafsiran sangat mungkin hadir dan menggiring ketidak-pedulian terhadap sesamanya. Manusia semakin merasa bahwa semangat individualitas dan tidak lagi menggubris orang lain merupakan jalan terbaik untuk menjaga diri. Sehingga pada gilirannya perasaan-perasaan seperti pengabaian rekan atau kolega dan menjauhi mereka akan semakin kuat mengetengah.

Spirit Filantropi untuk Peradaban

Menyerah pada keadaaan jelas bukanlah pilihan dalam upaya menjaga peradaban manusia. Justru sebaliknya upaya lebih keras, mengakar dan bersifat masif mesti diketengahkan guna mengupayakan pemutusan mata rantai pandemi yang terjadi. Selain itu pemikiran kesetiakawanan sosial yang berkembang dari spirit filantopi sejatinya tidak hadir dalam ruang hampa. Perasan mengasihi dan berbagi hanya akan mengetengah ketika manusia menyadari adanya eksistensi dan peran serta subjek lainnya.

Baca Juga : Membentuk Karakter Bangsa Melalui Romantisme Sejarah

Guna mengupayakan pemutusan mata rantai pandemi melalui semangat yang mengakar, semua elemen masyarakat bersama pihak berwenang bekewajiban untuk mempertimbangkan hadirnya semangat filantropi dalam mengupayakan langkah penanggulangan bencana global ini. Secara etimologis, Filantropi berasal dari kata Philein atau Philos yang berarti cinta dan Antrophos yang berarti manusia. Secara sederhana Filantropi dapat diartikan sebagai sikap cinta kepada manusia dalam rupa kedermawanan sosial. Dalam kajian sosial seperti Hubungan Internasional, Antropologi, Sosiologi hingga kajian pembangunan, pengetahuan mengenai Filantropi telah hadir cukup lama dan telah menjadi diskursus yang dapat dilihat dari banyak aspek.

Semangat kedermawanan mesti dipahami sebagai sebuah spirit yang sejatinya berasal dari dalam diri manusia. Dorongan semangat tersebut telah melekati setiap individu. Seorang Immanuel Kant, filsuf besar dari Jerman melihat hal tersebut dalam diri manusia melalui bentuk Imperative Categoris, yang mesti terus dihidupkan bahkan dikobarkan guna menghadirkan kebaikan bagi semua pihak. Argumen Kant tersebut beragkat dari pengamatannya terhadap filsafat manusia dan kemanusiaan. Sehingga tak salah rasanya bila menempatkan buah pemikirannya tersebut dalam landasan konsepsi universalitas bagi semua pihak. Yang artinya Filantropi atau kedermawanan pun memiliki tautan dengan hal tersebut. Sehingga bisa dikatakan semangat kedermawanan sesungguhnya berasal dari dan selalu ada dalam diri setiap individu. 

Berangkat dari pemikiran bahwa keinginan berbagi sejatinya hadir dari dalam diri manusia, maka tentu mencari manifestasinya bukanlah hal yang sulit bagi bangsa ini. Teriakan-teriakan meminta pertolongan mudah kita jumpai. Sehingga dalam kondisi apa pun mestinya masing-masing dari kita dapat melakukan sesuatu lewat karya-karya kemanusiaan dan membantu sesama. Terlebih lagi dengan momentum hari raya kurban kali ini yang mestinya mampu menjadi pembakar semangat untuk menguatkan rasa berbagi dan kesetiakawanan sosial di antara masyarakat.

Perlu dicatat, berkurban tak hanya menjadi ritual kesalehan manusia terhadap sang Khalik semata. Ada elemen lain yang tak bisa diabaikan begitu saja dan malah menempeli tradisi ini. Hal tersebut adalah bagaimana berkurban menjadi media berbagi dan menghadirkan kesalehan sosial. Sehingga relasi manusia menjadi hal yang sejatinya tak mungkin diabaikan, khususnya dalam bingkai agama yang dihidupi oleh manusia. Yang oleh Meredith McGuire bingkai agama yang dihidupi itu disebut sebagai lived religion (McGuire, 2008). Di bagian ini agama tak lagi semata menjadi sebuah hal yang diatur oleh otoritas kegamaan, melainkan sudah dihidupi dalam realitas sehari-hari masing-masing individu, salah satunya lewat relasi dengan sesama. Sudah saatnya kita berfikir bersama mengenai upaya menyelamatkan banyak manusia dan kemanusiaan yang terancam karena pandemi ini. Apalagi dalam momentum perayaan Idul Adha, di mana ujian keimanan personal tidak hanya berkaitan dengan ritual agama semata melainkan juga menghidupkan semangat berbagi terhadap semua pihak. Menghadirkan kembali dan mengobarkan dengan lebih dahsyat lagi semangat ini, merupakan upaya bersama menjaga peradaban umat manusia. Mari kita sedikit menggunakan pemikiran dan hati untuk menjaga diri, menjaga sesama, menjaga keluarga, menjaga lingkungan dan menjaga peradaban manusia agar terhindar dari ancaman nyata ini.

Facebook Comments