Bagaimana Cara Menghormati Perbedaan?

Bagaimana Cara Menghormati Perbedaan?

- in Suara Kita
1303
0

Perbedaan adalah energi yang menciptakan warna-warni kehidupan. Dinamika kehidupan akan tercipta dengan adanya perbedaan. Sebaliknya, kehidupan hanya akan berjalan monoton tanpa adanya perbedaan. Di sinilah salah satu letak hikmah dari perbedaan. Allah Swt. menciptakan kita berbeda-beda agar kita mampu saling mengenal, saling belajar, dan mengelola perbedaan tersebut agar membawa kebaikan bagi kehidupan bersama. Perbedaan menjadi bahan baku yang harus bisa dimanfaatkan untuk memunculkan gagasan-gagasan penting untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

Syarat utama agar umat manusia bisa mengelola perbedaan adalah penerimaan dan menghormatan terhadap perbedaan itu sendiri. Kesadaran menghormati perbedaan, bisa kita gali salah satunya dengan merenungi asal-usul umat manusia. Jika dirunut dari awal, semua manusia berasal dari asal-usul yang sama, yakni keturunan Nabi Adam.

Penyair Kuswaidi Syafi’ie dalam bukunya Diusir dari Surga (2017), memberi narasi yang indah dan reflektif tentang perjalanan dan hikmah penciptaan Nabi Adam yang sarat nilai-niai kemanusiaan dan penghargaan atas keragaman umat manusia; “Nabi Adam ibarat pohon raksasa yang tangguh dan sakti dengan cabang-cabang yang sangat banyak beragam, ranting-ranting yang tak terhingga, juga buah-buahan yang sangat beraneka macam pula. Di antara mereka tidak saja berbeda, tapi lebih dari itu juga berseberangan dan bertentangan” Ungkapan tersebut menggambarkan betapa pada dasarnya seluruh umat manusia merupakan satu saudara yang berasal dari Nabi Adam. Jadi, sudah seharusnya umat manusia saling menghargai satu sama lain karena berasal dari nenek moyang yang sama.

Persoalannya, dewasa ini kita seakan gampang bertikai hanya karena perbedaan. Perbedaan primordial seperti suku, agama, ras, dan golongan, yang sebenarnya sudah menjadi kehendak Allah Swt., kini tiba-tiba menjadi persoalan karena ditunggangi pelbagai kepentingan, baik kepentingan politik, ekonomi, sosial-budaya, dan sebagainya.

Sedangkan perbedaan pemikiran, yang sebenarnya menjadi konsekuensi logis dari keragaman karakter dan pengalaman hidup setiap orang, seringkali menjadi persoalan dan menciptakan pertikaian, bahkan kekerasan, karena menguatnya sikap egois yang tak mau menghargai pemikiran dan pendapat yang berbeda. “Tapi aneh, sungguh aneh, ranting-ranting menusuk cabang, cabang-cabang menghempas ranting. Daun-daun terlibat cekcok dan permusuhan,” lanjut Kuswaidi Syafi’ie menggambarkan persoalan umat manusia saat ini.

Cara menghormati perbedaan

Kita sadar akan pentingnya penghormatan terhadap perbedaan. Sebab itu menjadi syarat utama menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai di antara sesama manusia. Namun, seperti apa sebenarnya wujud sikap menghormati perbedaan tersebut? Kita butuh indikator konkret untuk mengukur sejauh mana seseorang bisa dikatakan telah menghormati perbedaan. Menurut penulis, ada beberapa sikap yang menjadi wujud dari penghormatan terhadap perbedaan.

Pertama, bersikap ramah. Ramah bisa diartikan sebagai sikap mudah bergaul menjalin persaudaraan dengan orang lain. Di antaranya ditunjukkan lewat sikap sopan dan murah senyum. Ini merupakan sikap paling mendasar sebagai wujud penghormatan terhadap perbedaan. Misalnya, ketika kita bertemu dengan orang lain yang berbeda suku atau kepercayaan dengan kita, kita bersikap sopan dan menyenangkan di hadapannya. Ini akan menjadi awal perkenalan yang baik dan menjadi landasan membangun persaudaraan yang kuat untuk kedepannya.

Sikap ramah menjadi semacam “pintu masuk” yang bisa menghubungkan kita dengan orang lain yang berbeda, untuk selanjutnya menjalin perkenalan dan hubungan bersama yang harmonis. Sebaliknya, sikap pemarah dan keras akan menciptakan keresahan dan ketidaknyamanan bagi orang lain. Dalam Islam, sikap ramah dan lemah lembut menjadi hal yang diperintahkan, bahkan dalam berdakwah, sebagaimana ditunjukkan Rasulullah Saw dalam hubungan dengan para sahabat. “Maka dengan rahmat Allah-lah engkau menjadi berlaku lemah lembut kepada mereka; dan sekiranya engkau berperangai jahat dan kasar hati, niscaya larilah mereka dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran [3]: 159)

Kedua, tidak egois. Sikap menghargai perbedaan selanjutnya adalah kemampuan untuk meredam egoisme. Tidak egois berarti tidak memaksakan kehendak atau kepentingan kita sendiri pada orang lain yang berbeda dengan kita. Sebab kita menyadari bahwa selain kepentingan kita, ada kepentingan-kepentingan lain yang mana mereka juga sama-sama punya hak untuk menjalankannya. Misalnya tidak mengganggu, merusak, atau membubarkan aktivitas orang atau kelompok lain yang sama-sama punya hak, meskipun itu berbeda dengan kita.

Sikap egois, keras kepala, dan kebekuan hati dalam menerima pandangan atau pendapat orang lain yang berbeda akan menjadi penghalang terciptanya perdamaian. Sebab, orang akan sulit diajak berdialog dan sulit menerima pendapat yang berbeda, meskipun itu demi kepentingan bersama. Dalam konteks sikap beragama, kita mengenal sikap fanatik yang tak jarang mengganggu terciptanya keharmonisan dengan sesama. Yusuf Qardhawi bukunya Islam Jalan Tengah (Mizan, 2017) menyebutkan, salah satu tanda sikap berlebihan dalam beragama adalah sikap fanatik pada suatu pendapat dan tak mengakui pendapat lain. Tandanya, kebekuan pikiran yang bersikeras pada suatu paham dengan sangat ketat, sehingga tak dapat melihat dengan wajar sesuatu demi perbaikan masyarakat atau tujuan agama, serta terpenuhinya kehendak bersama.

Hal tersebut merupakan satu bentuk sikap yang perlu dihindari, terlebih dalam konteks upaya membangun kehidupan bersama yang harmonis dan damai di tengah perbedaan. Apalagi jika sikap fanatik sudah diiringi pemaksaan kehendak pada orang lain untuk mengikuti pendapat yang dianutnya, atau bahkan sampai terjerumus dalam jurang pengafiran, penuduhan, dan penyerangan terhadap orang lain yang mengikuti pendapat berbeda. Ini menjadi sikap-sikap yang kontraproduktif dan bertolakbelakang dengan sikap penghormatan pada perbedaan.

Ketiga, tolong menolong tanpa memandang perbedaan. Bisa dikatakan ini merupakan tingkatan penghormatan terhadap perbedaan yang lebih dalam, sehingga wujud penghormatan tak lagi sekadar bersikap ramah dan tidak memaksakan kehendak, namun sudah melangkah lebih jauh pada sikap saling tolong-menolong. Sikap ini dilandasi oleh empati dan rasa kebersamaan sebagai sesama manusia yang kemudian menggerakkan orang untuk turut membantu orang lain yang sedang membutuhkan, tanpa memandang perbedaan yang ada. Dengan tolong menolong, sekat-sekat perbedaan seakan melebur sehingga perbedaan tak menghalangi kita untuk saling membantu dan memberi manfaat kepada sesama.

Facebook Comments