Belajar dari Teroris Perempuan Pertama di Indonesia; Bagaimana Dia Terpapar?

Belajar dari Teroris Perempuan Pertama di Indonesia; Bagaimana Dia Terpapar?

- in Editorial
532
0
Belajar dari Teroris Perempuan Pertama di Indonesia; Bagaimana Dia Terpapar?

Ini bukan bom bunuh diri secara saya putus asa ingin mengakhiri hidup saya, tetapi bom bunuh diri ini yang istilahnya istisyhadi ini adalah untuk menggapai ridho Allah dan mendapatkan keutamaan jihad fi sabilillah” demikian pernyataan tegas tanpa sesal dari seorang perempuan narapidana terorisme pada 13 Desember 2016, Dian Yulia Novi, dalam wawancara eksklusif reporter senior tvOne, Ecep S Yasa.

Pernyataan serupa sebenarnya pernah dilontarkan Dani Dwi Permana pelaku bom JW Marriot Juli 2009. Rekaman video sebelum peledakan ini ditemukan dalam laptop Noordin M Top. Kira-kira berikut ini petikan penegasan Dani yang begitu yakin “ ini bukan putus asa, tetapi cara meraih 72 bidadari dan cara menggetarkan musuh”.

Dian Yulia Novi memang bukan perempuan pertama dalam jaringan terorisme. Namun, ia dikenal sebagai perempuan pertama yang menjadi aktor terorisme sekaligus perempuan pertama yang dijerat tindak pidana terorisme dengan vonis 7,5 tahun penjara. Perempuan berdarah Cirebon ini ditangkap Densus 88 di Bekasi pada 11 Desember 2016 karena berencana meledakkan diri di istana Presiden Jakarta.

Dian ditangkap bersama suaminya. Dialah Nur Solihin, laki-laki yang mengajak untuk menikahinya dua bulan sebelum aksi bom dilakukan. Pernikahan terbilang unik karena dilakukan tanpa wali orang tua dan dilakukan secara virtual. Bagi mereka itu pernikahan sah karena dilandasi untuk mencari ridho Allah.

Apa yang membuat seorang Dian mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Singapura dan Taiwan terjerat dalam jaringan terorisme? Dian bukan bagian dari tokoh penting. Ia hanya pengagum kelompok jihadis di media sosial. Rasa penasarannya terhadap aktivitas jihad di Suriah membawanya berselancar di dunia maya mencari pengetahuan tentang jihad.

Dian membaca secara rutin tulisan-tulisan Aman Abdurrahman yang kala itu disebar di website millahibrahim. Keyakinannya semakin kuat dan tambah kokoh dengan berinteraksi langsung secara online dengan mereka yang sudah berada di Suriah. Dalam penuturannya, hanya waktu 1 tahun, ia meyakini untuk melakukan amaliyah yang mempertemukannya dengan jaringan ISIS di Indonesia hingga memutuskan nikah dengan Nur Solihin.

Apa yang diyakini seorang Dian? Bahwa melakukan aksi bom bunuh diri adalah bagian dari Jihad untuk mencari Ridho Allah. Perkara itu memang dicela oleh kebanyakan orang. Tetapi, baginya Islam sebagaimana ia kutip hadist Nabi muncul dalam keadaan terasing dan di akhir zaman akan menjadi terasing (ghuraba). Ia bangga menjadi pejuang yang terasing.

Kalau kita amati proses radikalisasi Dian yang begitu cepat, kita bisa mengakui bagaimana kuatnya pengaruh media digital dan media sosial dalam proses indoktrinasi. Merasa kesepian dalam pencarian identitas membuat ia nyaman berselancar dan menemukan interaksi dengan dunia luar. Rasa penasaran dalam pencarian identitas baru mampu diisi oleh kelompok yang secara tegas memberikan rambu-rambu hitam dan putih.

Ketika keyakinan itu sudah kokoh, ia menganggap bahwa kebenaran hanya miliknya. Pandangan orang lain terhadap keyakinan yang dimiliki hanyalah seperti mayoritas yang tidak memahami esensi agama yang sebenarnya. Ia meyakini seperti perjuangan zaman dahulu yang dicela, disalahkan dan diasingkan.

Berawal dari pencarian identitas baru. Bermula dari ingin merubah diri menjadi lebih baik dalam pandangan agama. Tetapi pada akhirnya harus berpapasan dengan doktrin ekstrem yang mencuci otak untuk meraih cara instan. Tidakkah perempuan-perempuan seperti Dian hari ini banyak sekali?

Mungkin saja banyak. Tetapi, bisa jadi mereka tidak seberani Dian langsung mengukuhkan diri untuk segera berjuang. Meyakini perjuangannya akan dibalas dengan ridha Allah. Meyakini apa yang dilakukan walaupun dalam bentuk kekejian adalah sebuah perjuangan.

Mungkin saja banyak perempuan yang merasa dirinya sedang melakukan perubahan dalam dirinya. Mencari pengetahuan dengan berselancar di dunia maya. Mencari penegasan identitas diri agar tidak mudah tergoyah dengan lingkungan luar yang menurutnya sudah rusak dan dzalim. Mereka masih bertahan diri hingga hari ini karena belum menemukan komunitas yang besar dan kuat untuk mendukung aksi mereka.

Perempuan ketika terdoktrin akan lebih sulit disembuhkan. Loyalitas dan kesetiaannya tidak mudah digoyah oleh negoisasi. Lihatlah kasus istri teroris Husain Alias Abu Hamzah, yang memilih meledakkan dirinya bersama anaknya setelah bertahan lama 13 jam di dalam rumahnya di Sibolga. Bahkan, bujukan suaminya sendiri tidak bisa meluluhkannya.

Lihatlah Zazkia Aini yang dengan keyakinannya nekat menerobos markas Kepolisian dan beraksi secara mandiri. Tidak ada keraguan dan ketakutan dalam dirinya meskipun masuk dalam kendang macan sekalipun. Perempuan ketika mengalami radikalisasi akan lebih militan, loyal dan nekat.

Apa yang harus dilakukan? Membentengi perempuan dengan membangun kesadaran yang kritis. Membangun kesadaran yang mencerahkan agar tidak mudah dimanipulasi secara emosi dengan eksploitasi dalil-dalil keagamaan. Mendampingi perempuan milenial yang dengan niat tulus ingin berubah kebaikan dalam beragama dengan komunitas yang inklusif.

Harus ada keyakinan dalam diri bahwa berubah menjadi baik tidak harus dengan memandang buruk orang lain. Upaya meneguhkan keyakinan tentang kebenaran agamanya tidak harus memandang salah kebenaran agama orang lain. Persoalan hidup adalah tentang berbagi, sementara persoalan akhirat adalah tentang berserah diri.

Facebook Comments