Beriman dengan Cara Mengkafirkan?

Beriman dengan Cara Mengkafirkan?

- in Keagamaan
1764
0

Terjadi kesalahan-untuk tidak mengatakan kesesatan-dalam cara berpikir segelintir umat. Seorang akan diakui keimanannya manakala ia mudah mengumbar kekafiran terhadap yang lain. Nampaknya tidak absah keimanannya ketika belum mengkafirkan yang lain. Orang demikian sudah pada tingkat mengkaburkan antara kebatilan dan kebenaran atau dengan kata lain menjual kebatilan dengan kemasan kebaikan. Sungguh ini bagian dari malapetaka keimanan dan cara beragama di masa kini.

Berlomba-lomba dalam kebaikan mengandung makna bahwa seluruh umat sedang menapaki jalan kebaikan. Menjadi pemenang dan terbaik dalam kebaikan tidak lantas mempunyai anggapan bahwa yang lain sedang tidak mengikuti perlombaan kebaikan. Mereka semua adalah peserta perlombaan menuju kebaikan. Kebaikan yang kita raih tidak mungkin hilang hanya karena kita melihat yang lain melakukan kebaikan. Dan kebaikan tidak akan diraih dengan cara keburukan.

Ada banyak kebaikan untuk disampaikan, tetapi kadang kita lupa banyak sekali metode penyampaian yang baik untuk dipilih sebagai cara menyampaikan kebaikan. Banyak di antara kita terjebak hanya pada misi menyampaikan kebaikan, tetapi menyepelekan cara yang baik menyampaikan kebaikan.

Saya terinspirasi dari satu kisah Nabi yang tepat sebagai suatu teladan dalam menyampaikan kebaikan. Ketika masa awal nabi hijrah, masjid yang berdiri di kota Madinah sangat sederhana tanpa alas, mimbar dan batas bangunan yang belum jelas. Seorang badui datang dengan keawamannya membuang air kecil di pojok masjid. Para Sahabat marah ketika itu, tetapi Nabi menunggu orang tersebut hingga selesai membuang hajatnya kemudian mendekati dan menegornya dengan santun.

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana Nabi sangat cerdas mengenali situasi dan mengendalikan emosi untuk menyampaikan suatu yang baik. Menyampaikan hal baik harus dengan cara yang baik. Jangan mengotori kebaikan hanya karena penggunaan cara menyampaikan yang keliru. Nabi adalah teladan terbaik bagaimana menjadi penyampai kebaikan dengan cara yang baik.

Hari ini banyak umat beragama hanya terjebak pada apa yang disampaikan tetapi mengerdilkan pengetahuan tentang bagaimana menyampaikan. Banyak umat yang seolah bertingkah menjadi pemilik tunggal kebaikan sehingga layak menyampaikan dengan cara apapun, bahkan dengan kekerasan sekalipun. Akibatnya, kebaikan yang semestinya ditularkan menjadi kebaikan yang melipatganda terhadap orang lain justru menjadi musibah dan sumber celaka bagi yang lain.

Selain persoalan cara menyampaikan kebaikan dan kebenaran, terkadang kita juga lupa memahami untuk apa kebenaran dan kebaikan itu disampaikan. Dalam hal ini saya teringat dengan kisah populer Sayyidina Ali ketika menanggapi ketidakpuasan kelompok pendukungnya dalam perang Siffin. Arbitrase antara kelompok Sayyidina Ali dengan kelompok sahabat Muawiyah yang menginginkan perdamaian ditolak, dicerca dan dimaki dengan menggunakan ayat Qur’an : tidak ada hukum keculi dari Allah. Itulah awal mula munculnya kelompok khawarij. Lalu, apa jawaban Sayyidina Ali ketika: Benar, kalimat tersebut adalah kebenaran, tetapi digunakan untuk kebatilan.

Banyak kalimat kebenaran dan kebaikan tetapi digunakan untuk melakukan kebatilan. Untuk kasus ini sangat relevan menggambarkan kelompok radikal yang selalu mengutip ajaran agama untuk melakukan kebatilan. Apa yang disampaikan oleh kelompok teror tentang ajaran agama adalah benar. Ayat Qur’an yang mereka kutip adalah sumber kebenaran, tetapi mereka menggunakan ayat-ayat tersebut untuk kebatilan dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka tafsirkan ayat kebenaran dengan cara yang salah untuk menghasilkan tindakan keburukan.

Banyak kata kafir mereka lontarkan justru kepada saudara seiman dan seagama. Miris sekali mendengar kalimah takbir menggema bukan untuk lantunan ajakan kebaikan, tetapi justru ketika ingin melakukan tindakan kekerasan dan teror. Sesungguhnya dengan cara seperti itu, kita seakan mengkerdilkan Kebesaran Allah dengan tindakan tercela. Kita secara sadar mengotori kalimah kebenaran dengan tindakan keburukan.

Saya mendapatkan kesimpulan bahwa menjadi pribadi baik itu tidak cukup melakukan tindakan yang baik terhadap diri sendiri, tetapi juga harus berdampak baik terhadap orang lain. Sungguh mutiara kata yang sangat indah ketika Nabi menyampaikan: Sebaik-baiknya di antar kalian adalah orang yang paling banyak banyak berbuat baik (memberikan manfaat) untuk manusia.

Barangkali kita tidak perlu mengklaim diri sebagai pribadi yang baik apalagi terbaik sebelum kebaikan yang kita miliki disebar dan tersebar untuk orang lain. Tidak perlu rasanya kita berlomba mengkampanyekan diri sebagai pribadi terbaik, sebelum orang lain yang merasakan kebaikan kita. Sesungguhnya menjadi umat terbaik bukan karena kita memiliki setumpuk kebaikan, tetapi karena kita selalu menebar kebaikan itu terhadap orang lain.

Rasanya tidak perlu kita mengaku paling muslim dan beriman tetapi tindakan kita justru menghancurkan citra Islam yang telah lama dibangun oleh Nabi dengan pilar akhlaqul karimah. Tak perlu kita terburu-buru dan terprovokasi dengan ajakan membangun daulah Islam, tetapi mimpi komunitas yang kita agung-agungkan justru merusak peradaban Islam yang telah lama dibangun oleh para mujahid dan mujtahid kita.

Seharusnya kita bisa intropeksi diri, untuk menjadi pribadi yang baik sesungguhnya perlu mempertanyakan apa yang telah kita berikan sebagai manfaat kepada umat? Jangan-jangan kita hanya memberikan dan mengumbar fitnah yang menyebabkan umat jatuh dalam hasutan, kebencian, kekerasan dan perpecahan. Inikah manfaat nyata yang telah kita sumbangkan untuk umat sehingga layak disebut pribadi terbaik?

Haruskah kita mengkafirkan orang lain sehingga kita layak mendapatkan label orang beriman? Orang beriman pasti diangkat marabat dan harga dirinya dengan tanpa mengkafirkan dan merendahkan yang lain. Begitu pula sebaliknya, orang kafir tidak akan naik peringkat beriman walaupun rajin mengkampanyekan diri sebagai orang beriman.

Facebook Comments