Dakwah Nusantara Itu Akomodatif, Bukan Konfrontatif

Dakwah Nusantara Itu Akomodatif, Bukan Konfrontatif

- in Narasi
1009
0
Dakwah Nusantara Itu Akomodatif, Bukan Konfrontatif

Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Islam Nusantara adalah Islam masuk ke wilayah ini dengan cara damai. Islam masuk melalui dakwah yang bijak. Ada proses akulturasi, proses saling sapa antara normativitas agama dengan historisitas budaya setempat.

Itulah sebabnya, proses “Islamisasi” di wilayah ini cukup cepat dibandingkan dengan wilayah lain. Dalam teorinya, sebagaimana disebutkan Hugh Kennedy dalam bukunyaThe Great Arab Conquest, proses penaklukan dan pendudukan suatu wilayah itu membutuhkan waktu sekitar 10-30 tahun, dan proses konversi agama lama menuju agama baru para penakluk biasanya butuh waktu 300 tahun.

Nusantara adalah pengecualian. Tidak ada penaklukan dan pendudukan. Tidak ada upaya pemaksaan konversi agama yang dilakukan oleh para juru dakwah ketika itu. Yang ada adalah terjadinya perubahan secara damai, aman, dan dengan waktu yang cukup relatif singkat.

Ini adalah suatu yang mengagumkan. Ribuan tahun Nusantara beragama Hindu dan Budha, dengan waktu yang cukup singkat, bisa berubah –tanpa ada pertumpahan darah dan penolakan keras dari penduduk setempat – menjadi wilayah dengan penduduk muslim terbanyak saat ini.

Apa rahasia yang dimiliki oleh para juru dakwah waktu itu? Mengapa mereka bisa sukses dengan waktu yang cukup singkat?

Akomodatif

Dakwah Nusantara adalah dakwah akomodasi. Dilakukan dengan cara-cara yang sejuk dan tidak menimbulkan konfrontasi. Agama dan budaya bergandengan tangan.

Para juru dakwahnya berada pada jalan tengah, tidak ekstrem kanan, menawarkan satu sistem politik khilafah tertentu umpamanya, juga tidak ekstrem kiri, mendoktrin para penduduk untuk melawan penguasa atau mengharamkan semua hal yang dilakukan oleh penduduk waktu itu, misalnya.

Akomodasi disertai upaya untuk memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam suatu budaya atau tradisi itu, misalnya, itulah yang dilakukan oleh para walisongo. Tradisi sesajen umpamanya, tidak langsung ditolak oleh para dai ketika itu, apalagi dikit-dikit haram, bid’ah, dan musyrik.

Yang dilakukan adalah pemaknaan ulang sambil memasukkan nilai-nilai baru Islam ke dalamnya. Sesajen tidak lagi dijadikan sebagai persembahan untuk dewa atau makhlus halus, tetapi dijadikan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Para juru dakwah ketika itu melakukan strategi kebudayaan. Budaya dijadikan sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai ideal Islam. Cara-cara yang dilakukan adalah cara-cara persuasif, bukan konfrontatif.

Para dai ketika itu tidak sungkan-sungkan menghilangkan anasir-anasir Arab yang dianggap bukan sesuatu yang substansial dalam Islam demi tercapainya tujuan dakwah.

Dakwah seperti inilah yang dicontohkan Nabi. Nabi pun melakukan hal yang sama. Proses tasyri’ setidaknya menempuh tiga cara: tahmil (mengambil), tahrim (menolak), dan taghyir (mengubah).

Jika ada tradisi yang tidak bertolak belakang dengan prinsip dasar Islam itu diambil (tahmil)oleh Nabi. Jika bertolak-belakang, tetapi masih bisa diubah (taghyir), itu juga diambil oleh Nabi, baru ketika tidak bisa diubah sama-sekali, baru ditolak(tahrim).

Artinya metode yang sering dilakukan oleh Nabi menurut penelitian Alyasa’ Abu Bakar adalah taghyir (akomodatif-selektif). Nabi tidak langsung bilang: “ ini haram, ini tak boleh, itu syirik,” tetapi nabi melakukan penelitian secara bijak.

Menakar Dakwah Era Digital

Dakwah yang bijak dan bersifat akomodatif inilah yang justru mulai hilang dari dakwah zaman sekarang. Dakwah yang berseliweran di media sosial justru tidak lagi mencerminkan ciri khas dakwah Nusantara sebagaimana dilakukan oleh para walisongo.

Dakwah sekarang justru bersifat konfrontatif. Disampaikan dengan cara-cara yang membuat orang lari. Tak jarang membuat citra Islam itu sendiri jadi buruk. Semangat moderasi dengan mengambil jalan tengah dalam berdakwah mulai memudar dalam ruang keberagamaan kita.

Atas nama amar ma’ruf nahi mungkir, seolah-olah semua cara jadi halal. Tidak perlu apakah cara ini menyakiti pihak lain atau tidak; tidak ada lagi pembahasan apakah ini merobek tenun kebangsaan atau tidak; tidak ada lagi pengkajian, apakah dakwah seperti ini justru menimbulkan polarisasi dan konflik atau tidak. Semua cara dilakukan meski itu terkadang dengan cara-cara kasar, kotor, dan kekerasan.

Saat-saat seperti ini, kita seharusnya “memanggil” kembali para wali songo itu. Bagaimana agar dakwah itu tidak menabrak nilai-nilai kebangsaan. Bagaiama berdakwah tetap dengan budaya dan tradisi kenusantaraan. Bagaimana agar agama dan negara bisa satu tarikan nafas dalam berdakwah. Jika ada satu tantangan besar bagi para tokoh agama, tantangan itu adalah mengahadirkan kembali dakwah Nusantara yang bersifat moderat, akomodatif, dan tidak keluar dari kesepakatan-kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara. Itu adalah PR kita semua.

Facebook Comments