Dakwah Washatiyah; Menjadikan Al-Quran sebagai Penuntun Dakwah yang Santun

Dakwah Washatiyah; Menjadikan Al-Quran sebagai Penuntun Dakwah yang Santun

- in Suara Kita
734
0
Dakwah Washatiyah; Menjadikan Al-Quran sebagai Penuntun Dakwah yang Santun

Dakwah pada hakikatnya adalah panggilan menuju jalan spiritualitas. Jalan spiritualitas menuju Tuhan yang bisa dianalogikan menggunakan kereta dakwah yang melibatkan berbagai elemen termasuk iman, ilmu, serta bekal-bekal lain yang diperlukan. Selain bekal fisik  dan stamina, bekal non fisik seperti komitmen, ketabahan dan kesabaran juga sangat menentukan dalam perjalanan dakwah. Semua itu bertujuan agar dakwah yang disampaikan kepada orang lain bisa tersampaikan dengan santun dan memiliki nilai yang positif untuk diserap. Sehingga bisa memberikan nilai tersendiri untuk kebaikan bagi yang mendengarkan.

Dalam buku psikologi dakwah yang Dikarang effendi dan Faizah juga memberikan sebuah penjabaran bagaimana dakwah harus menjadi orientasi yang penting diketahui dan dihayati oleh pelaku dakwah. Misalnya, bagaimana situasi psikologis yang dialami baik oleh pelaku dakwah maupun objek dakwah dalam hal ini masyarakat, maka akan mempengaruhi proses dakwah. Hal ini dikarenakan proses dakwah pada hakikatnya ialah transformasi ide dan pengetahuan, yang kemudian akan melibatkan pikiran dan emosi yang secara psikologis memberikan pengaruh yang besar bagi kedua belah pihak, subjek dan objek dakwah. Maka mengetahui situasi-situasi psikologis menjadi sangat penting dalam proses dakwah ini, terlebih dalam etika dakwah itu sendiri.

Progress yang bisa diambil dari pemahaman tersebut ialah bagaimana menjadikan dakwah sebagai meditasi yang bisa membawa seseorang pada keadaan yang menyenangkan dan mendamaikan. Dengan kata lain, bahwa menjadi pendakwah tidak melulu tentang ketenaran ataupun materi, kita juga harus benar-benar paham bagaimana ayat suci tersebut memberikan sumber kebaikan, hingga dakwah yang disampaikan bisa diterima oleh pendengar dengan keadaan yang tenang dan mendamaikan.

Untuk itu, sudah menjadi keharusan bagi seorang pendakwah itu memahami ayat-ayat suci Al-Quran dengan benar dan matang. Dengan tujuan ketika berdakwah bisa memberikan sebuah rujukan bagaimana menjadi Islam yang romantis. Sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam surah Ali-Imran yang mengatakan, disebabkan karena rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu berlaku kasar dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri darimu. Lebih dari itu, dalam surah Al-Asr ayat 1-3 juga memberikan sebuah pemahaman yang mengatakan, Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran.

Ada dua poin penting yang bisa dipetik dalam ayat suci al-Quran tersebut. Pertama ialah bagaimana menjadi manusia yang senantiasa mengedepankan lemah-lembut dalam bertutur kata dan sapa. Sebab, melalui ucapan inilah manusia akan dipercaya dalam hal kebaikan ataupun keburukan. Yang kedua ialah orang yang senantiasa menasihati dalam kebaikan. Sebagaimana Rasulullah yang bersabda, bahwa sesungguhnya kelemahan-lembutan tidak berada pada sesuatupun kecuali dia akan memperindahkannya dan dia tidak hilang dari sesuatupun kecuali akan memperburuknya. Barang siapa yang tidak mendapatkan sifat lemah lembut, maka dia tidak akan mendapatkan kebaikan.

Sangat jelas di sini, mendeklarasikan pesan-pesan perdamaian dari ayat-ayat al-Quran memang sudah menjadi keharusan setiap orang. Sebab, dari sinilah bangsa ini tidak akan gampang terkena doktrin Islam yang berhaluan dengan kode etik bangsa Indonesia. Sehingga praktik dakwah yang santun bisa tersuarakan degan damainya.  Sebab, pada faktanya diciptakannya manusia tidak untuk saling menjatuhkan. Bahwa jalan perdamaian akan bisa ditempuh dengan cara kita menghargai satu dengan yang lainya. Sederhananya perbedaan di bangsa ini bukanlah suatu halangan untuk senantiasa berkomunikasi dan menjalin persaudaraan bersama. Karena berawal dari perbedaan inilah manusia bisa membangun dan menguatkan persaudaraan untuk menjadi manusia yang rahmat. Sebagaimana yang terkandung dalam surah Al-Hujuraat ayat 13, yang mengatakan, hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal.

Bisa diambil titik kesimpulan, seseorang yang benar-benar mengimami al-Quran, pastinya dirinya menyadari betapa pentingnya sebuah perdamaian. Karena dalam al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menyuarakan kebersamaan, bagaimana menjadi orang yang empati kepada orang lain. Yang kemudian bisa berujung pada cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Ketika seseorang sudah merasakan hal ini, maka hanya ada percikan perdamaian yang bersemanyam dalam kehidupannya.

Facebook Comments