Membumikan Dakwah Washatiyah di Era Pasca-kebenaran dan Disrupsi Keberagamaan

Membumikan Dakwah Washatiyah di Era Pasca-kebenaran dan Disrupsi Keberagamaan

- in Suara Kita
543
0
Membumikan Dakwah Washatiyah di Era Pasca-kebenaran dan Disrupsi Keberagamaan

Dunia Islam kini memasuki alaf zaman baru yang ditandai dengan adanya revolusi digital terutama di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Digitalisasi komunikasi dan informasi ini tidak pelak telah mengubah nyaris seluruh lanskap keberagamaan di kalangan umat Islam di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Keberadaan internet dan media sosial sebagai sarana produksi, distribusi sekaligus konsumsi pengetahuan Islam telah mengubah cara umat Islam menjalani praktik keberagamaannya. Agama (Islam) kini telah memasuki ruang-ruang virtual alias cyberspace yang nyaris tanpa batas, dimana didalamnya berdesakan informasi dan pengetahuan yang saling tumpang-tindih, centang-perenang dan nyaris tidak dapat dibedakan mana benar mana yang salah.

Inilah yang oleh para pakar ilmu sosial kontemporer disebut sebagai era disrupsi, yakni pergeseran dari era analog-konvesional ke era digital. Berbagai temuan di era revolusi industri 4. 0, terutama kecerdasan buatan yang disematkan dalam jaringan internet dan media sosial telah mengubah perilaku kehidupan manusia. Kini, algoritma internet dan media sosial mulai merasuk dalam kehidupan manusia, dan mempengaruhi selera kita dalam kehidupan. Pendek kata, makanan apa yang kita makan, tempat yang kita kunjungi, buku yang kita baca, film yang kita tonton atau musik yang kita dengarkan sedikit banyak ditentukan dan dibentuk oleh algoritma media sosial. Apa yang tengah viral dan menjadi trending topic di media sosial, itulah yang akan menjadi budaya arusutama di tengah masyarakat.

Fenomena serupa tampaknya juga terjadi dalam konteks keberagamaan, termasuk dalam hal dakwah Islam. Beberapa tahun belakangan ini, kita mengalami disrupsi dakwah dari teknologi analog-konvensional ke media digital, terutama sekali media sosial. Bermunculannya konten dakwah di media digital merupakan bukti bagaimana disrupsi dakwah itu tengah terjadi di depan mata. Awalnya, kita menyambut secara antusias fenomena dakwah digital di media sosial. Sampai kemudian kita dihadapkan pada berbagai persoalan terkait fenomena disrupsi dakwah tersebut.

Berbagai residu persoalan itu antara lain ialah munculnya fenomena pasca-kebenaran (post-truth) dalam hal keberagamaan, dimana umat beragama lebih mempercayai sentimen emosi atau kepercayaan individual terhadap sebuah keyakinan atau wacana ketimbang fakta ilmiah. Dengan kata lain, umat beragama kini lebih mempercayai opini dan asumsi sebagai sumber kebenaran yang diyakininya. Konsekuensinya, mereka hanya kaan menerima informasi dan pengetahuan yang mendukung keyakinannya. Selain itu, ia akan mengangapnya sebagai informasi atau pengetahuan palsu yang tidak berguna.

Sindrom pasca-kebenaran telah menjadi semacam penyakit sosial (social patology) serius yang menggejala di masyarakat sejak beberapa tahun belakangan. Dimulai dari ranah politik, sosial dan kini agama. Di ranah keagamaan, fenomena pasca-kebenaran ini mengejawantah dalam munculnya dakwah yang berkelindan dengan ujaran kebencian, hoaks dan fitnah yang sengaja disemburkan di ruang publik guna menggiring opini publik atas isu tertentu. Publik dibombardir dengan beragam isu sumir yang belum jelas kebenarannya namun dipropagandakan secara berulang. Implikasinya, publik pun tidak memiliki alternatif atau kesempatan untuk berpikir kritis dan akhirnya menganggap isu sumir itu sebagai kebenaran.

Dalam konteks ini, kita diingatkan pada pernyataan seorang propagandis Nazi, Jenderal Joseph Goebels yang mengatakan bahwa kebohongan yang disampaikan satu kali akan diingat sebagai kebohongan, namun kebohongan yang disampaikan berulang kali akan dianggap sebagai kebenaran. Fenomena propaganda negatif inilah yang saat ini mewarnai dunia dakwah Islam kita. Begitu banyak pendakwah yang justru mengingkari fungsi dan perannya sebagai pencerah umat, alih-alih sebagai agen provokasi dan pemecah belah umat. Mereka menyampaikan pesan keagamaan dengan bumbu ujaran kebencian, hoaks dan fitnah yang membuat publik berada dalam ketidakpastian.

Dakwah Washatiyah; Pendekatan Ilmiah dan Berbasis Data

Fenomena dakwah di era pasca-kebenaran dan disrupsi keberagamaan yang mengandung ujaran kebencian dan narasi perpecahan umat tidak diragukan lagi merupakan batu sandungan bagi arah perjalanan bangsa ke depan. Jika tidak diselesaikan, hal ini akan menjadi kerikil yang menganggu langkah kita menuju peradaban yang lebih baik. Di titik inilah pentingnya membumikan dakwah washatiyah di era pasca-kebenaran dan era disrupsi keberagamaan. Dakwah washatiyah kiranya bisa menjadi narasi tandingan untuk membendung corak dakwah yang disusupi propaganda negatif yang saat ini harus diakui cukup mendominasi ruang publik virtual kita. Dakwah washatiyah dalam konteks ini bertujuan untuk mengubah paradigma berpikir umat yang kadung terjebak dalam nalar pasca-kebenaran.

Tentunya hal ini tidak semudah membalik telapak tangan. Kegandrungan umat pada nalar pasca-kebenaran bukanlah yang dapat diubah dalam waktu yang singkat. Diperlukan upaya yang serius dan proses keberlanjutan untuk mengembalikan paradigma berpikir umat agar lebih percaya pada fakta-ilmiah ketimbang sentimen emosi dan keyakinan diri. Mula pertama yang harus kita lakukan ialah beradaptasi dengan metode dakwah digital. Mau tidak mau, dakwah washatiyah pun harus masuk ke dalam ruang publik virtua dan berkontestasi dengan dakwah-dakwah bermuatan propaganda negatif yang sudah terlebih dahulu mendominasi.

Kaum moderat sebagai penyokong penting dakwah washatiyah harus sepenuhnya memahami bahwa arena battle ground kontestasi dakwah hari ini terdapat di media sosial dan internet (online). Pada titik tertentu, dakwah washatiyah juga perlu mengadaptasi pola keberulangan yang menjadi strategi para propagandis. Yakni bahwa sesuatu yang disampaikan berulang kali pasti berpengaruh pada paradigma berpikir publik. Maka, kalangan moderat harus terus-menerus memasarkan gagasan moderasi keberagamaannya, berulang-kali tanpa mengenal lelah terutama di kanal-kanal media sosial yang mampu menjangkau khalayak luas.

Langkah kedua, dan tidak kalah pentingnya ialah dakwah washatiyah harus menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan mengedepankan pendekatan ilmiah, analisa logis dan pemaparan data yang valid. Hal ini menjadi penting lantaran fenomena pasca-kebenaran hanya bisa dilawan dengan sajian data yang valid dan logika berpikir yang sahih. Metode dakwah dengan mengedepankan data dan analisis ilmiah ini akan menjadi senjata ampuh untuk melawan corak dakwah yang mengumbar ujaran kebencian, fitnah dan hoaks. Dalam konteks ini, kita perlu mengembangkan secara intensif model dakwah yang mengajak umat Islam berpijak pada kebenaran rasional dan data ilmiah ketimbang perasaan emosional atau sentimen keyakinan yang didasari oleh fanatisme.

Era disrupsi keberagamaan yang ditandai dengan fenomena pasca-kebenaran ini merupakan tantangan berat bagi seluruh umat manusia, tidak terkecuali umat Islam. Disrupsi yang diwarnai oleh fenomena pasca-kebenaran telah mengakibatkan manusia terjerumus dalam kesesatan. Kini, sebagian manusia tidak lagi percaya pada kebenaran, namun lebih percaya pada asumsi, opini dan wacana yang dipersepsikan seolah-olah sebagai sebuah kebenaran.  Dalam situasi serba tidak menguntungkan inilah, kiranya dakwah washatiyah bisa menghadirkan model keberagamaan yang tidak hanya berhenti pada capaian toleransi, inklusivitas dan pluralisme, melainkan juga mengajak umat untuk berpikir ilmiah, logis dan berbasis data valid.

Facebook Comments