Hidup Laiknya Sebuah Karya Seni

Hidup Laiknya Sebuah Karya Seni

- in Narasi
388
0
Hidup Laiknya Sebuah Karya Seni

Dalam sebuah wawancara bersama Dreyfus dan Rabinow, Michel Foucault mempertanyakan kenapa orang selalu mengaitkan karya seni dengan seonggok patung atau goresan cat pada sebidang kanvas? Kenapa tak ada yang menganggap bahwa hidup kita dapat pula dijadikan sebuah karya seni?

Foucault, dalam hal ini, tengah menerangkan perihal kekuasaan (yang selalu tertaut dengan pengetahuan) dan relasinya dengan subyek. Sepanjang sejarah manusia, berbeda dengan eksistensialisme dan juga liberalisme, pada dasarnya manusia bukanlah subyek yang benar-benar otonom. Tak sebagaimana Karl Marx yang menyatakan bahwa subyek hanyalah bentukan belaka dari realitas sosial yang melingkupinya, Foucault justru berpendapat bahwa diskursuslah yang membentuk subyek dan bahkan realitas sosial itu sendiri.

Kisah hidup manusia pada dasarnya adalah kisah subyektivikasi dimana apa yang kita anggap sebagai jati diri ternyata sekedar efek dari relasi kekuasaan dan pengetahuan. Jadi, kita tak pernah benar-benar merdeka dan sadar diri. Kerapkali apa yang kita sangka “aku” hanyalah efek dari kontestasi pengetahuan/kekuasaan. Taruhlah majdzub atau orang yang tengah jadzab—sebuah fenomena yang cukup akrab di pesantren-pesantren tarekat atau yang lekat dengan sufisme (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV. Kekata Group, Surakarta, 2020).

Diskursus psikiatri ataupun psikologi, dengan psikiater dan psikolognya serta asilumnya, akan mendamik sang majdzub sebagai orang yang tengah terganggu jiwanya atau gila yang mesti dirawat atau disendirikan dalam ruang sosial. Sementara pesantren ataupun tarekat-tarekat yang karib dengan al-Hikam Syekh Ibn ‘Athaillah akan mendamiknya sebagai seorang yang spesial yang telah dimerdekakan dari segala hukum, baik hukum positif maupun hukum agama yang seringkali dipercayai membawa berkah tertentu (Jalan Jalang Ketuhanan: Gatholoco dan Dekonstruksi Santri Brai, Heru Harjo Hutomo, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2011).

Kedua bentuk diskursus di atas, psikiatri atau psikologi dan tasawuf beserta tarekat-tarekatnya, memiliki subyektivikasi yang berbeda dengan orang yang memiliki kondisi yang secara sosial sama. Pada kasus diskursus psikiatri ataupun psikologi orang tersebut akan diidentifikasi sebagai orang abnormal yang kasarnya sama dengan orang gila. Tapi dalam kasus diskursus tasawuf dan tarekat-tarekatnya orang yang bersangkutan justru dianggap sebagai seorang yang telah mengatasi kemanusiaannya atau bahkan dipercayai sebagai seorang wali yang patut dimintai barokahnya.

Diskursus psikiatri ataupun psikologi dan tasawuf pada akhirnya akan berkontestasi atau berebut kuasa dalam mendefinisikan status seseorang. Dengan kata lain, kehidupan dan segala fenomenanya pada dasarnya adalah ruang kosong dimana rezim-rezim pengetahuan/kekuasaan saling berkontestasi untuk mengisinya dengan standar ataupun paremeternya sendiri-sendiri. Dalam hal ini, pada dasarnya identitas manusia, atau dengan bahasa yang tepat, jati dirinya, sangat tergantung pada rezim pengetahuan/kekuasaan yang tengah menguasai ruang publik penafsiran. Konfigurasi sosial pun, karenanya, akan berubah seturut dengan rezim pengetahuan/kekuasaan yang tengah dominan: pembedaan dan pemisahan antara orang yang waras dan orang yang gila dengan didirikannya rumah sakit jiwa ataupun asilum, atau justru pembiaran sekaligus peleburan antara orang yang waras dengan orang yang gila dengan segenap kepercayaan dan tradisi yang melingkupinya. Pada titik inilah realitas sosial ternyata juga hasil bentukan belaka dari diskursus.

Mengingat terdapat beragam rezim pengetahuan/kekuasaan yang saling berkontestasi, Gilles Deleuze, seorang yang karib dengan luar dan dalamnya seorang Michel Foucault, merangkum proyek filsafat Foucault dalam sepenggal slogan: “life as a work of art” (Mengulik Interkulturalisme dalam Musik Etnik, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id). Hal ini tak sesederhana tangkapan para seniman dadaisme yang “gila-gilaan” dengan gaya pakaian, tubuh, dan kehidupannya. Life as a work of art merupakan seruan etis untuk tak mengelak dari rezim pengetahuan/kekuasaan yang dominan karena jelas tak ada sesuatu apapun yang dapat eksis di seberang diskursus. Foucault pada dasarnya tak mengetengahkan konsep kekuasaan yang benar-benar absolut sehingga terkesan seperti sebentuk fatalisme. Dalam dirinya sendiri kekuasaan selalu terkait dengan resistensinya, sebab kekuasaan tak mungkin terpecah dan tersebar tanpa adanya resistensi. Tapi resistensi yang bersifat komplementer dengan kekuasaan tersebut tak dapat sama sekali mengatasi kekuasaan itu sendiri. Resistensi hanya mungkin hidup dan terjadi dalam kekuasaan laiknya komunisme yang mesti hidup dalam logika dan mekanisme kapitalisme: buku-buku ataupun seni-seni yang berkecenderungan “kiri” yang justru akan hidup ketika dalam kondisi yang kontradiktif. Dalam politik praktis inilah yang menjadi acuan PKS dan partai-partai yang sejenis: melawan demokrasi dan kapitalisme dengan jalan yang demokratis dan kapitalistik. Di sinilah saya kira rangkuman Deleuze atas proyek besar filsafat Foucault menemukan kegamblangannya: hidup laiknya sebuah karya seni.

Facebook Comments