Hidup Susah Setelah “Hijrah”

Hidup Susah Setelah “Hijrah”

- in Suara Kita
1813
1
Hidup Susah Setelah “Hijrah”

Setidaknya ada 600 eks WNI anggota ISIS terlonta-lonta di kamp-kamp yang berada di Suriah berharap negara asalnya bersedia memulangkan mereka. Mayoritas mereka ini adalah ‘korban’ narasi hijrah yang dipropagandakan oleh ISIS melalui berbagai cara.

ISIS berhasil mengerek ribuan orang Islam untuk bergabung bersamanya. Banyak cara yang dilakukan, mulai dari janji hidup sejahtera bagi yang mau hijrah ke Iraq dan Suriah hingga jaminan memperoleh pendidikan gratis, dilunasi hutang hutangnya dan lain sebagainya.

Sebagian orang atau kelompok yang pergi untuk kemudian bergabung dengan organisasi teroris itu karena alasan kesamaan ideologi. Masih banyak orang Islam yang tertipu oleh muslihat licik ISIS, bahkan mereka berpendapat bahwa ISIS adalah satu satunya harapan umat Islam yang dapat menegakkan sistem khilafah di muka bumi dan akan mengakhiri segala persoalan kehidupan dunia. Secara kasat mata, memang ISIS-lah yang terlihat gencar membawa misi itu dan bahkan sudah dijadikan sebagai sebuah ideologi.

Namun tak sedikit dari mereka, ketika sampai Suriah dan bergabung dengan ISIS, mendapati realita yang bahkan sebelumnya tak pernah mereka bayangkan. Iya. Pembunuhan yang begitu bar bar mereka saksikan secara kasat mata, wanita-wanita dijadikan ‘budak seks’ oleh para gerilyawan ISIS. Sementara yang lelaki, langsung dibebani senjata dipundaknya.

Hidup Semakin Susah

Hijrah membuat kehidupan mereka semakin susah, bahkan kehilangan kebahagiaan. Jangankan hidup sejahtera, makan berkecukupan, pendidikan gratis dan kesehatan tak bayar, harapan hidup normal pun masih menjadi misteri.

Memang fenomena hijrah ke Suriah sungguh nyata. Artinya, orang orang yang pergi untuk bergabung dengan ISIS disebabkan oleh motivasi atau keinginan kuat untuk hijrah.

Ada yang beralasan bahwa negara seperti Indonesia termasuk negara kufur karena menganut sistem demokrasi. Maka terhadap model negara semacam ini, wajib ditinggalkan dan menuju negara yang Islami. ISIS menjadi pilihan mereka untuk menjembatani keyakinan ini.

Orang yang terpapar ideologi dan propaganda ini biasanya berusaha mencari teman atau sanak keluarganya. Imaji indah seperti zaman Nabi benar-benar membiuas orang sekitarnya. Akhirnya, mereka sama-sama hijrah.

Sebagian “korban” hijrah menyesal dan kembali ke Tanah Air. Setelah itu, kini mereka mulai menata hidupl dan kehidupan (kembali). Penyesalan memang datang belakangan. Meskipun demikian, cukup cerita mereka menjadi pelajaran bagi mereka.

Selain hijrah, propaganda lain yang digencarkan ISIS adalah jihad. Dengan kata lain, hijrah dan jihad menjadi satu tarikan nafas, keduanya selalu menjadi inti gerakan ISIS terutama dalam merekrut anggota. Bagi ISIS, “tiada kehidupan tanpa jihad dan tiada jihad tanpa hijrah” (Iqbal, 2017). Inilah jargon mereka.

Propaganda hijrah dan jihad semakin bergemuruh seiring massifnya tulisan-tulisan tentang hijrah dan jihad di majalah Dabiq–sebuah majalah berbahasa Inggris yang dibawah kendali ISIS. Bahkan, pada Februari tahun 2015 silam, ISIS menerbitkan sebuah buku panduan bagi orang yang hendak hijrah ke Suriah bergabung dengan ISIS.

Mengambil Pelajaran

Hijrah untuk bergabung bersama ISIS memang bukanlah hijrah yang dirindukan. Terlebih pasca ‘kekhalifahan’ ISIS yang membentang dari Suriah hingga ke gerbang Kota Bagdad di Irak tamat pada Maret 2019 takluk di tangan Syrian Democratic Forces (SDF). Keruntuhan ini sekaligus awal para ‘muhajirin’ tersesat dan sadar bahwa keputusannya bergabung ISIS salah kaprah. Dan mayoritas dari mereka hidup susah, bahkan sampai tak tau arah karena tak punya kewarganegaraan dan status.

Saat ini ada ratusan eks simpatisan ISIS yang semula asal Indonesia yang berada di berbagai kamp pengungsian. Diperkirakan ada 600 eks WNI yang ikut ISIS, dengan rincian 47 orang ditahan, 553 orang (merdeka.com, 10/2).

Keruntuhan ISIS dan orang atau kelompok yang ‘termakan’ janji ISIS sehingga ikut hijrah patut dijadikan sebagai pelajaran berharga.

Pertama, tidak gampang terpengaruh oleh narasi-narasi yang belum terbukti atau terverifikasi secara baik dan tepat. Propaganda ISIS di dunia maya seperti media sosial memang terbukti manjur. Hal ini terkonfirmasi langsung oleh eks anggota ISIS yang berhasil lolos dan kembali ke Tanah Air. Mayoritas mereka tebuai oleh janji ISIS via internet.

Sekalipun ISIS sudah tamat di Suriah, tidak lantas gerakan mereka ikut berhenti. Mereka sangat berpotensi menggarap wilayah lain. Sehingga, jangan ada lagi masyarakat Indonesia terpengaruh oleh narasi-narasi ‘menyesatkan’ yang dibangun ISIS.

Kedua, pegiat perdamaian dan aktivis Islam moderat wajib melakukan edukasi kepada masyarakat, baik di dunia maya maupun nyata. Mengingat korban ISIS adalah mereka yang mencari dan mengkonsumsi konten via internet, maka pegiat perdamaian dan aktivis Islam moderat harus melakukan kontra narasi dan mengedukasi masyarakat agar tidak dicaplok oleh ISIS dan sejenisnya.

Ketiga, pemerintah harus hadir bersama masyarakat. Program-program pemerintah, selain BNPT, harus diarahkan menuju pembinaan masyarakat yang sifatnya berkelanjutan. Aspek-aspek keadilan dan pemerataan ekonomi harus benar-benar menjadi fokus pemerintah. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat sinergitas kelompok civil society yang ranahnya melakukan edukasi kepada masyarakat dan melakukan kontra narasi, sementara pemerintah menyentuh aspek fundamentalnya, bidang ekonomi dan lain sebagainya. Pada akhirnya, pemerintah melalui Menkopolhukam Mahfud MD sejauh ini belum ada tanda-tanda hendak memulangkan WNI eks simpatisan ISIS. Hal ini semakin menegaskan bahwa keputusan ‘hijrah’ yang mereka ambil justru semakin menambah masalah. Hidup susah setelah hijrah. Bukan ‘hijrah-nya’ yang menjadi masalah, akan tetapi keputusan mereka untuk bergabung bersama ISIS atas dasar atau motivasi ingin ‘hijrah’ yang salah.

Facebook Comments