Ibnu Jarir Al Thabari

Ibnu Jarir Al Thabari

- in Tokoh
8435
0

Perjalanan Intelektual

Al Thabari beruntung memiliki ayah yang peduli pada pendidikan. Sedari kecil ia telah dimotivasi untuk berguru kepada sejumlah ulama besar pada zamannya. Menurut pengakuannya sendiri, ia telah menjadi hafidzul Quran (Penghapal Alquran) di usia tujuh tahun dan telah dipercayakan menjadi imam masjid di usia delapan tahun. Sementara di bidang Hadits, Al Thabari mengaku sudah melakukan upaya kodifikasi ucapan Rasulullah itu di usia sembilan tahun.

Setelah puas menimba ilmu di kampung halaman, Al Thabari memutuskan merantau untuk mencari guru-guru baru yang memiliki keilmuan yang tinggi. Perjalanan intelektual pertamanya ia mulai Kota Rayy (sebuah kota tua di selatan Iran saat ini), dan beberapa kota di sekitarnya. Di kota ini ia belajar Hadits kepada Muhammad bin Humaid al-Razi dan Al Musanna bin Ibrahim al-Ibili. Di sini pula ia belajar sejarah kepada Muhammad bin Ahmad bin Hammad al-Daulabi.

Perantauan berikutnya dilanjutkan di kota Metropolitan Baghdad. Awalnya ia ingin berguru pada Imam Ahmad bin Hambal (salah seorang pendiri salah satu madzhab empat). Namun ternyata, Imam Ahmad bin Hanbal telah wafat dan kabar tersebut baru ia dengar setelah berada di Baghdad. Peristiwa ini terjadi pada tahun 241 H.

Mengetahui hal itu ia segera memutuskan menggeser petualangan inteletualnya ke Kota Kufah. Disini ia belajar ilmu Qiraat dari Sulaiman al-Tulhi. Ia pun belajar Hadits pada Ibrahim Abi Kuraib Muhammad bin al-A’la al-Hamdani, salah seorang ulama besar dibidang hadits. Di sini Al Thabari dikenal sebagai murid yang memiliki hapalan yang sangat tajam lantaran ribuan Hadits yangn diriwayatkan Abi Kuraib telah dihapalnya diluar kepala. Selain Kufah, ia juga kerap berguru pada sejumlah ulama di Kota Bashrah.

Setelah lama ‘nyatri’ di Kufah, ia memutuskan kembali ke Baghdad dan berguru pada Ahmad bin Yusuf al-Taghlibi dalam ilmu Qiraah. Disini pulalah ia mengenal fikih Syafi’i dari Al Hasan bin Al Sabbah Al Za’farani dan Abi Said Al Astakhari. Di kota ini ia berkesempatan belajar bahasa, sastra, dan sejarah dari ulama-ulama kenamaan.

Setelah Baghdad Kota Mesir menjadi sasaran berikutnya pada 253 H. Di Mesir Al Thabari tinggal di wilayah Fustat selama beberapa saat sebelum melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Syam (Syiria). Pada tahun 256 H ia kembali lagi ke Mesir memperdalam fikih Syafi’i pada Al Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi, Muhammad bin Abdullah bin Al Halim, dan Isma’il bin Ibrahim Al Muzanni. Di Mesir pula ia belajar Qiraah Hamzah dan Warsy kepada Yunus bin Abdul A’la al-Sadafi.

Setelah berkelana ke banyak kota, Al Thabari kembali ke Baghdad dan memutuskan untuk tinggal di sana dan mengajarkan pengetahuan yang ia dapat. Ia sempat kembali beberapa tahun di kampung halamannya yang kemudian dilanjutkan kembali mengajar di Baghdad hingga wafat di tahun 310 H.

Sejarah peradaban Islam mencatat Al Thabari sebagai ilmuan interdisipliner, menguasai berbagai disiplin pengetahuan. Kepandaiannya terbentang mulai Ilmu Alquran-Hadits, Bahasa, Sastra, Yurispundensi Islam (Fikih), Leksikografi, Matematika, Logika, Kedokteran, hingga Sejarah. Dia adalah penghapal Alquran yang menguasai ragam bacaan Alquran (ilmu Qiraat/Variae Lectiones). Ia pun mengetahui keilmuan kritik sanad untuk memverifikasi hadits Nabi.

Tidak cukup dikenal sebagai ulama yang sangat pandai, ia juga dikenal sebagai salah seorang ulama yang sangat produktif pada masanya. Puluhan kitab berhasil ia dedikasikan kepada umat Islam, meski tidak semuanya bisa diakses hingga sekarang. Setidaknya hingga saat ini tersisa dua karyanya yang masih sangat relevan dijadikan referensi keilmuan, yaitu Jami’ al-Bayan ‘An Ta’wiliy Ayyi al-Quran dalam bidang Tafsir yang merupakan kitab tafsir paling tua yang bisa diakses hingga kini dan Tarikh al-Umam wa al-Mulk dalam bidang sejarah.

Atas prestasi akademisnya yang luar biasa, ia diberi sejumlah gelar kehormatan yang luar biasa. Al Hafidz (penghapal Alquran), Al Mufassir (penafsir Alquran), Al Faqih (yang mendalami hukum Islam), Al Muarrikh (sejarawan), adalah sebagian gelar yang dinisbatkan kepadanya. Dalam pemahaman saat ini, barangkali tidak berlebihan jika Al Thabari disebut sebagai ulama ensiklopedik.

Sebagaimana tradisi keulamaan di dunia Islam, kecerdasan Al Thabari tidak hanya berhenti diakal ia pun dikenal memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur. Di kehidupan pribadinya ia dikenal sebagai seoranng Zahid, menjauhi kehidupan dunia. Ia disebut pernah beberapa kali menolak sejumlah imbalan atau posisi penting di pemerintahan.Selanjutnya

Facebook Comments