Islam (bukan) Agama Kekerasan

Islam (bukan) Agama Kekerasan

- in Suara Kita
650
0

Pada tanggal 27 Maret 2008, beredar film “Fitnah” yang menggemparkan masyarakat, terutama muslim. Dalam film ini menceritakan bagaimana keadaan Islam yang menghalalkan perang demi menyebarluaskan ajaran. Film yang memiliki durasi selama 14 menit merupakan karya Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda.

Wilders menganggap bahwa Islam telah mengurangi kebebasan di Belanda dan perilakunya Muhammad tidak cocok dengan kemoralan Barat. Tidak hanya itu, ia juga ingin membuktikan atau membenarkan bahwa al-Quran adalah kitab yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan serta membenarkan aksi teror.

Apa yang dilakukan Wilders  tidak salah tatkala melihat dari sisi orang-orang yang mengatasnamakan penganut agama Islam yang dibawa Muhammad melakukan kekerasan, bahkan menghalalkan nyawa yang tidak sepaham. Lihat saja bagaimana orang yang mengaku sebagai penganut agama Islam paling benar, teriak-teriak menggunakan simbol agama Islam melakukan kekerasan.

Melihat film karya Wilders bukan berarti kita marah pada dirinya, tetapi menjadi cerminan untuk menunjukkan bahwa Wilders dan yang lain bahwa Islam dan ajaran Muhammad adalah ajaran yang mengajarkan cinta damai dan menghargai keragaman. Bukan kita lantas mencaci Wilders sebagai sosok yang merusak citra Islam. Kita boleh marah, tetapi kemarahan kita tunjukkan dengan cara santun dan logis yang dapat diterima dengan baik oleh mereka.

Melihat lebih dalam kembali mengenai ajaran Islam, makan kita akan melihat berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh Wilders. Secara garis besar, ajaran Islam bahwa perdamaian merupakan kunci pokok menjalin hubungan antar umat manusia, sedangkan perang dan pertikaian adalah sumber mala petaka yang berdampak pada kerusakan sosial. Hal ini sangat ditujukan dalam kitab suci maupun aplikasi yang dilakukan oleh Muhammad.

Persamaan derajat di antara manusia merupakan salah satu hal yang ditekankan dalam Islam. Tidak ada perbedaan antara satu gologan dengan golongan lain, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. Kaya, miskin, pejabat, pegawai, perbedaan kulit, etnis dan bahasa bukanlah alasan untuk mengistimewakan kelompok atas kelompok lainnya. Hal ini sangat tergambar di al-Quran surat Al-Hujurât (49) ayat 13.

Dari ajaran kesetaraan ini semua orang mendapatkan hak yang sama di mata Islam yang dibawa Muhammad. Kemudian Muhammad mengaplikasikan ajaran-ajaran suci Al-Quran dalam kehidupan keseharian. Dia menerjemahkan keindahan langit menjadi keindahan dunia. Seperti waktu menyebarkan Islam, dia mendapat pertentangan dari semua kalangan. Bahkan para pemuka masyarakat di daerah Muhammad tinggal. Ancaman kekerasan selalu hadir setiap hari.

Apa yang dilakukan Muhammad? Dia tidak lantas membalas dengan melakukan kekerasan. Ia menggunakan ajaran Islam, yakni kesetaraan dan kemanusiaan. Membalas kekerasan tersebut dengan kelembutan dan kasih sayang. Terlebih mendapat ancaman dari Umar Ibn Al-Khaththab RA. yang notabene seorang tokoh masyarakat Jahiliyah yang amat disegani , bahkan disegani oleh masyarakat Islam sejak masa Muhammad. Bahkan Umar pernah mengancam Muhammad akan membunuhnya.

Ancaman itu tidak lantas dibalas dengan kekerasan. Muhammad melihat sisi kemanusiaan Umar sebagai manusia yang memiliki hati yang lembut. Melihat sisi ini, Muhammad menggunakan tindakan tersebut untuk meredam ancaman Umar. Tindak ini tidak sisa-sisa. Atas petunjukan Allah, Umar pada waktu itu marah dan ingin membunuh Muhammad. Belum sampai di rumah Muhammad berjumpa dengan kawannya, kemudian dia suruh mengurungkan niatnya karena keluarganya sudah masuk Islam.

Mendengar cerita itu, amarah semakin memuncak. Kemudian ia berbalik ke rumah ipar dan saudara iparnya itu. Di sana ia mendengar lantunan ayat al-Quran. Ia sangat terpesona dengan pesan-pesan yang disampaikan. Ia pun penasaran dan bertanya kepada iparnya, apa yang ia baca. Singkat cerita, ia mendapatkan lantunan pesan itu dari al-Quran. Ia akhirnya luluh mendengarkan dan masuk Islam.

Masuk Umar mengubah segalanya dalam kehidupannya. Ia yang selalu menggunakan kekuatan dan tenaga dalam kesehariannya, setelah masuk Islam ia memperlihatkan keadilan dan kemanusiaannya seperti apa yang dicontohkan Muhammad. Tindak ini mengubah dari sifat keras menjadi kasih.

Dari sepenggal cerita ini, kita dapat memperlihatkan bahwa Islam mengajarkan tentang kesetaraan serta kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala  dalam menjalankan Islam masih mengedepankan kekerasan dan egoisme individu, maka keislaman yang dijalankan masih dipertanyakan. Sebab Islam dan Muhammad secara tegas mengajarkan rasa kemanusiaan.

Dari cerminan ini, kita harus memperlihatkan bagaimana Islam harus dibangun dengan landasan kesetaraan, keadilan serta kasih sayang. Tindakan ini akan mengubah cara pandangan seperti  Wilders bahwa Islam merupakan ajaran penuh kedamaian. Kejahatan atas nama Islam itu hanya dilakukan oleh segelintir penganut ajaran Muhammad.

Facebook Comments