Islam Moderat Haluan Dakwah Kaum Santri

Islam Moderat Haluan Dakwah Kaum Santri

- in Suara Kita
391
0
Islam Moderat Haluan Dakwah Kaum Santri

Kaum santri sebagai pionir dakwah, mengemban tanggungjawab besar atas pemahaman ke-Islam-an di negeri ini. Mengingat di saat ini, banyak penyebaran-penyebaran ideologi yang mencoba membenturkan agama dengan negara. Tidak main-main gerakan ini ada yang sampai berhasil melakukan tindakan-tindakan terorisme, sebut saja misalnya, bom bunuh diri yang beberapa bulan lalu terjadi di Surabaya. Ditambah lagi dengan pembibitan benih-benih radikalisme yang kian subur dan gencar menyerang mangsanya yang pada umumnya saat ini menyentuh jantung krusial dari generasi bangsa, yaitu, kaum milenial.

Agaknya, narasi-narasi kasar yang dihadapkan pada negara yang acap kali dituturkan oleh oknum berhaluan ekstrim di negeri ini, memupuk benih-benih kebencian dan menyetir nalar kaum milenial agar tidak lagi percaya pada konsep negaranya, hingga berdampak pada sikap penolakan bahka perlawanan. Itulah sebabnya, sering kali kita jumpai banyak anak muda saat ini menganggap NKRI sebagai negara yang anti agama tertentu. Berkedok agama dan kebebasan berpendapat menjadi jualan yang amat laris dibeli oleh generasi milenial. Kemudahan untuk mengakses paham-paham seperti ini mempercepat laju penyebaran yang menggempur berbagai sisi negeri ini.

Kaum santri yang sejak dulu sudah menjadi tonggak perjuangan, sejatinya, melestarikan semangat itu dan mewarisi jiwa patriotis para pendahulu dalam mempertahankan bangsa ini. Jika dulu para santri berjuang untuk memahat nama Indonesia di atas kerasnya batu penindasan dan penjajahan, kini kaum santri hadir dan berperan sebagai penopang keutuhan NKRI. Pertanyaannya kemudian, apa senjata yang harus diangkat untuk bergrilia melawan penyebaran ideologi anti NKRI ini? Salah satu di antara proteksinya adalah mendakwahkan Islam yang Rohamatan lil ‘alamin (Islam moderat).

Berdakwah dengan menyesuaikan perkembangan zaman dan mempertimbangkan lokalitas kebudayaan setempat merupakan cara dakwah kaum santri sejak dulu. Tentu seperti saat ini, di mana kaum milenial lebih banyak hidup di alam maya, sangat rentan terperangkap penyesatan pikiran yang disetir oleh kelompok anti NKRI dan kebhinekaan. Di saat itulah sejatinya kaum santri hadir untuk memberikan perlawanan sebagai dakwah dalam bentuk jihad mempertahankan bangsanya. Kegigihan kaum santri bergrilia dengan dakwah melawan fitanah dan caci maki terlebih-lebih propoganda kelompok-kelompok pengganggu NKRI adalah upaya menghidupkan dan melestarikan perjuangan kaum santri di masa lalu.

Oleh karenanya, kaum santri sebagai pionir dakwah harus mampu lebih terdepan dari kelompok pecinta perpecahan yang selalu menggencarakan khotbah anti NKRI. Jika mereka yang anti NKRI datang dengan khotbah-khotbah yang membakar emosi, kaum santri semestinya hadir dengan khotbah-khotbah yang menyejukkan dan memadamkan emosi. Jika mereka datang dengan tema jihad melawan bangsanya, kaum santri datang dengan tema Jihad mempersatukan bangsanya. Begitulah karakter Islam moderat, hadir dengan merekat kembali pikiran yang tidak utuh dan mempersempit ruang perbedaan agar tidak menjurus kepada perpecahan. Khazanah kekayaan ini, bisa dijadikan postulat, bahwa dakwah kaum santri bukanlah dakwah yang melulu menggunakan orasi, bukan dakwah yang ngamuk-ngamuk, bukan dakwah yang melulu menggunkan tema teologi, akan tetapi dakwah yang lembut  dan santun dengan ucapan, malah untuk sekarang yang relevan bagi kaum santri adalah dakwah media.

Pesantren sebagai markas besar kaum santri, bukan hanya memproduksi pikiran dengan pemahaman-pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Namun juga hadir memperkaya varian dakwah dan menyesuaikannya dengan kebutuhan nusantara. itulah sebabnya dakwah kaum santri tidak menegasikan kearifan lokal, bahkan menjadikannya sebagai alat untuk menyiarkan dakwah. Tokoh ternama, Sunan Kalijaga berdakwah dengan seni kebudayaan lokal dengan memasukkan nilai-nilai ke-Islam-an kedalam cerita pewayangan. Dakwah dengan memadukan local whisdom, ternyata lebih berterima di tengah-tengah masyarakat nusantara yang jamak dengan kebudayaan yang merupakan nafas dari Islam moderat itu sendiri.

Facebook Comments