Jihad Literasi: Dakwah Santri Melawan Provokasi

Jihad Literasi: Dakwah Santri Melawan Provokasi

- in Suara Kita
1087
0
Jihad Literasi: Dakwah Santri Melawan Provokasi

Di era digital yang sangat cepat dalam transformasi informasi, memang ketara sekali manfaatnya. Dengan sepersekian detik saja, sebuah informasi dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Hanya bermodalkan sebuah gadget dan paket data, penyampaian informasi menjadi murah dan mudah.

Ketersambungannya dengan internet, telah menciptakan dunia maya, yang wujudnya difasilitasi dengan alat-alat digital seperti gadget, laptop, atau komputer. Internet telah menjadi dunia baru, dunia yang semua orang di seluruh bumi ini bisa berkumpul dan bercengkrama. Menghapus batas-batas daerah, suku, ras, atau bahasa. Sehingga, setiap orang tanpa terkecuali, bisa mengunggah sekaligus mengetahui informasi tersebut di dunia maya dengan mudah.

 Jika menilik Indonesia, banyak dari masyarakatnya telah dan akrab menggunakan media digital. Indonesia terdaftar sebagai negara yang masyarakatnya paling banyak menggunakan gadget. Sebanyak 100 juta lebih masyarakat Indonesia yang menggunakannya, sehingga dalam peringkat dunia, Indonesia menduduki posisi ke-5 sebagai pengguna gadget terbanyak. Ditambah ketahanannya dalam ‘menatap’ gadget 9 jam sehari, menjadikan masyarakat kita hari-harinya dihabiskan di dunia maya.

 Agaknya, kemudahan transformasi informasi di dunia digital ini, dimanfaatkan dengan baik oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka, menggunakan internet sebagai sarana menyebarkan informasi hoaks dan provokasi guna mengadu domba satu pihak dangan pihak lain. Sebutlah kaum-kaum radikalis Islam.

Dakwah-dakwah kaum radikalis Islam, pada intinya menginginkan umat Islam untuk tidak patuh pada pemerintah. Bagi mereka, negara Indonesia dengan sistem pemerintahan demokrasi serta dasar negara Pancasila dan UUD ’45 dianggap tidak sah dan kafir. Haram hukumnya menaati segala aturan dari negara ‘kafir’.

Kaum radikalis Islam sangat getol memperjuangkan berdirinya pemerintahan yang berlandaskan Islam, dengan Al-Quran dan Hadis sebagai undang-undang dasarnya. Sekilas saya cermati, memanglah bagus konsep yang mereka tawarkan. Apalagi saya sendiri adalah orang Islam, pasti setuju negara ini berdasar syariat Islam. Umat Islam mana yang tidak mau kalau agamanya dijadikan dasar negara?

Namun, tafsiran Islam versi mereka dengan tafsiran Islam versi saya beda jauh. Islamnya mereka itu terlalu saklek, mau menang sendiri, tidak mau menghormati perbedaan, bahkan cenderung otoriter. Sedangkan Islam yang saya pahami selama ini, seperti yang sering NU kampanyekan. Islam yang rahmah, moderat, dan sangat menghormati perbedaan. Jika Islam versi mereka bener-benar diterapkan di Indonesia, maka tinggal nunggu waktu kehancurannya saja. Indonesia akan pecah dan perang saudara. Indonesia beragam agama dan budaya. Nah, dalam hal ini, saya tidak setuju jika negara ini berdasar Islam versi mereka. Sebaliknya, saya sepakat jika Islam yang diterapkan, Islam yang seperti NU gaung-gaungkan selama ini.

Di platform media sosial seperti google, youtube, twitter, facebook, atau instagram, saat ini sudah penuh dengan konten-konten yang mengajak bughot kepada negara. Dengan dalil-dalil Islam begini dan begitu, masyarakat kita mudah terpengaruhi dengan provokasinya. Apalagi kaum Islam radikalis sangat mahir dalam membuat konten, sehingga membuatnya menarik dan seakan-akan konten tersebut benar.

Gerakan-gerakan berbalut agama seperti demo 212, Pemuda Hijrah, HTI, FPI, atau KAMI (koalisi aksi menyelamatkan Indonesia), mendapat dukungan dan sambutan hangat dari masyarakat yang berjumlah cukup banyak, tak lain karena ajakan-ajakan massifnya di dunia maya. Saya kira, masyarakat kita yang menjadi pengikut gerakan-gerakan tersebut karena masih minim bacaan dan pengetahuan. Padahal, secara nyata mereka telah bughot dan ingin mendirikan negara Islam secara saklek. Dan itu sangat berbahaya bagi masa depan Indonesia.

Lalu, siapa yang bisa mengimbangi dan melawan gerakan-gerakan mereka?

Di titik ini, pemerintah tidak bisa melawan dengan kuat. Tersebab, negara ini bukan atas dasar agama. Jadi, semisal pemerintah melawan mereka secara terang-terangan, maka akan di-framing oleh mereka bahwa ‘pemerintah  telah menistakan agama’, ‘pemerintah telah menindas orang Islam’, ‘pemerintah telah mendiskriminasi ulama’, dan perkataan-perkataan semacamnya, yang hal itu akan menurunkan citra pemerintah dan menghilangkan kepercayaan di masyarakat.

Dalam pengamatan saya, yang bisa melawan narasi-narasi atau gerakan kaum radikalis Islam seperti itu harus dari orang Islam sendiri. Dan hal itu akan adil, tidak akan ada lagi framing buruk tentang pemerintah.

Saya kira, santri-santri adalah orang yang tepat untuk melawan mereka. Dengan kajian ilmu agama di pondok pesantren selama bertahun-tahun, membuat mereka paham dengan seluk beluk agama Islam. Oleh karena itu, jika kaum radikalis Islam menyebarkan informasi di media sosial, para santri sudah langsung mengerti bahwa hal tersebut adalah kebohongan dan provokasi semata.

Lalu bagaimana caranya santri dalam melawan mereka? Kuasai media sosial. Santri, harus lihai dengan piranti alat digital ini. Buat konten-konten seperti video, gambar, atau artikel yang memuat ajaran Islam yang rahmah, moderat. Bungkus dengan cara-cara yang menarik. Sehingga, dalam berjalannya waktu, masyarakat pun akan paham mana gerakan Islam yang mengadu domba, dan mana gerakan Islam yang benar-benar untuk kemaslahatan umat.

Semisal kaum radikalis membuat konten hoaks dan provokatif, santri juga harus membuat konten tandingan dengan model yang menarik dan dalil-dalil Islam yang kuat. Karena sejatinya, kaum radikalis Islam selalu merujuk dalil-dalil yang lemah dan diputar-balikkan faktanya sehingga seakan-akan konten tersebut benar. Padahal sejatinya salah.            

Dan akhir-akhir ini, para santri sudah mulai massif gerakannya. Website seperti NU Online, Islami.co, Alif.id, Harakatuna, atau Iqra.id yang memuat  narasi-narasi Islam rahmah dan moderat, sudah mulai digemari netizen. Ratingnya pun naik. Media-media tersebut, adalah milik santri. Dan kebanyakan para kontributornya adalah santri sendiri. Dan hal itu sebagai wujud santri dalam jihad literasi di media sosial.

Facebook Comments