Kala Teror Menjadi Humor

Kala Teror Menjadi Humor

- in Keindonesiaan
2417
0

Ulasan tentang kesuksesan dan kesigapan penangangan aksi teror di Jalan Thamrin masih menghiasi pemberitaan. Searah mengalir dengan pemberitaan tersebut, kegagalan teror pun tak lepas dari kupasan media dari ragam perspektif para ahli, pengamat, dan pakar.

Hal menarik yang ingin saya singgung bahwa teror di jalan Thamrin bukan saja menunjukkan Indonesia kuat, seperti yang ramai bahkan menjadi trending topic di media sosial, tetapi rakyat Indonesia mampu mematahkan jalan pikiran para teroris. Jika teror bermaksud menebar kepanikan dan ketakutan, respon masyarakat tidak hanya berani dan tidak takut, tetapi membalik rasa takut menjadi lelucon, humor dan dagelan.

Simaklah beberapa konten kreatif dan lucu yang tersebar dalam memplesetkan teror. “Apakah teror di Jalan Thamrin, termasuk jihad? Jelas bukan, jihad itu di jalan Allah bukan di Jalan Thamrin”. “Teroris Budeg, disuruh ke Suriah, malah ke Sarinah”, dan narasi lucu lainnya.

Selain narasi-narasi lucu mengundang tawa, simaklah bagaimana para nitizen melakukan pembelokan framing dari ketakutan menjadi hal yang biasa dan santai. Siapa duga aksi teror yang “biasanya” mencekam justru dihiasi perbincangan “polisi ganteng, kami naksir” ulasan “tukang satai”, “penjual kacang” dan sebagainya.

Jika teror ditujukan sebagai panggung menebar ketakutan dan kepanikan, aksi para teroris ini terdengar sumbang. Ia bagaikan pagelaran konser, tetapi penonton justru menikmati pemandangan lain. Misi konser terlihat gagal total, atau justru ia ditertawai dan disoraki penonton.

Menertawai aksi teror, saya kira, secara positif bermaksud ingin membalikkan pesan semiotis dan jalan pikiran teroris yang ingin menanam kepanikan dan ketakutan. Bom itu meledak, tetapi ia justru membangkitkan semangat. Teror itu melukai, tetapi ia justru menuai semangat kebersamaan. Aksi itu pun mencederai, tetapi ia tidak mencerai-beraikan kesatuan.

Hal yang paling penting yang ingin saya katakan dari menertawai teror tersebut adalah semangat yang terbangun untuk melawan bersama aksi terorisme dan kekerasan. Itulah, saya kira, semangat penting bagaimana merespon teror bukan dengan kepanikan, tetapi keberanian, entah dalam ekspresi apapun ia dikemukakan.

Teror tentu saja bukan gurauan dan objek untuk ditertawai. Korban dan keluarga akibat aksi teror sangat merasakan betapa sakitnya menahan luka, bahkan menanggung cacat fisik yang kadang juga bisa menjadi permanen. Karenanya, menertawai teror sekaligus ingin menghibur korban dan keluarga bahwa mereka tidak sendiri. Ada banyak jutaan masyarakat yang siap dan sigap membantu mereka untuk melangkah maju melupakan trauma tragis peristiwa tersebut.

Tetaplah Waspada

Untuk tidak selalu larut dalam euphoria dalam menertawai teror, ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian kemaren : waspada itu sangat penting!. Dalam rekaman resmi CCTV yang dirilis kepolisian dari kejadian Bom di Jalan Thamrin menunjukkan bagaimana para teroris dapat bergerak santai di tengah kerumunan massa. Pelaku teror tidak bersembunyi, tetapi melebur dengan kerumunan, mencari kelengahan aparat dan menyerang.

Rumus itu juga berlaku bagi para kelompok teror di tengah kita. Lihatlah, berbagai penangkapan terduga teroris yang dilakukan oleh aparat kepolisian di berbagai daerah. Mereka berada di tengah masyarakat. Mereka tidak bersembunyi, tetapi seolah menjadi bagian dari masyarakat, menyusun strategi, merakit amunisi dan siap melancarkan aksi. Rumusnya semakin masyarakat apatis dengan lingkungannya, semakin para teroris menemukan tempat nyaman untuk bersembunyi di tengah masyarakat.

Semangat “bersama perangi terorisme” tidak berhenti hanya pada keinginan perlawanan dan penolakan pelaku teror semata, tetapi harus dalam tindak nyata. Peka dan sensitif terhadap hal mencurigakan di lingkungan sekitar adalah bagian partisipasi penting masyarakat dalam mencegah aksi teror. Tentu saja, peka terhadap lingkungan bukan berarti selalu menanam kecurigaan tanpa dasar antar sesama.

Yang terakhir yang tidak kalah penting dari peka dan peduli terhadap lingkungan adalah peka terhadap keluarga kita sendiri. Lindungi keluarga kita dari keterpengaruhan paham, ajaran dan ajakan kekerasan.

Simaklah beberapa pengakuan keluarga korban setelah mengetahui anak atau sanak saudaranya yang ditetapkan menjadi pelaku. Komentar yang muncul “dia anak baik, kami tidak tahu kalau di berubah dan bergabung dengan kelompok teror, dia sudah lama tidak menghubungi kami”. Keacuhan kita terhadap lingkaran inti keluarga menjadi salah satu mata rantai tumbuhnya radikalisme yang terselubung. Perhatian dan kasih saying keluarga dapat melunturkan ideologi kekerasan.

Karena itulah, mari jaga kampung halaman kita dari berbagai ancaman terorisme dan kekerasan. Mari bersama jaga tanah air kita dari segala upaya yang dapat mencerai-beraikan persatuan dengan mengusik keamanan masyarakat. Mari bersama buktikan bahwa kekerasan dan terorisme bukan watak dan tabiat bangsa Indonesia. #BersamaPerangiTerorisme.

 

Facebook Comments