Lawan Radikalisme dengan Khutbah Santun

Lawan Radikalisme dengan Khutbah Santun

- in Suara Kita
482
1
Lawan Radikalisme dengan Khutbah Santun

Baru-baru ini, Badan Intelejen Nasional (BIN) merilis hasil survei atas 100 masjid milik pemerintahan, berkaitan dengan indikasi persebaran radikalisme di dalamnya. 41 dari 100 masjid terindikasi menjadi tempat persebaran radikalisme, melalui khutbah para khatib atau penceramah yang memuat konten intoleran. Hal ini tentu amat mengkhawatirkan, mengingat masjid sebagai media untuk berkumpul jamaah, dan dari tempat inilah para jamaah mendapatkan pelajaran agama –dari khutbah-khutbah yang ada.

Survei tersebut dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat Nahdhatul Ulama (P3M NU) terhadap aktivitas khutbah di masjid-masjid, yang disampaikan kepada BIN sebagai early warning, yang kemudian ditindak lanjuti pendalaman dan penelitian oleh BIN. (viva.co.id)

Dalam penelitian tersebut, digunakan tiga kategori untuk membedakan tingkat radikalisme, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Pada level radikalisme tingkat rendah, yakni mereka yang tidak setuju dengan intoleransi tapi tetap memakluminya, ditemukan di 7 masjid. Contoh radikalisme tingkat rendah adalah orang yang tidak setuju dengan khilafah, tapi tetap memaklumi kalau ada yang memperjuangkan.

Baca juga : Mendamba Khutbah Jumat Bernutrisi, Bergizi

Sementara di level sedang, adalah mereka yang menyetujui tindakan intoleran dan sejutu dengan pendirian negara Islam di Indonesia. Kategori ini ditemukan pada 17 masjid. Sementara di tingkat tinggi, adalah mereka yang memprovokasi orang lain untuk ikut andil dalam perjuangan kelompok intoleran.

Meski survei ini hanya memfokuskan pada konten khutbah, sehingga masih perlu dilakukan penelitian tindak lanjut, setidaknya menjadi peringatan bagi kita, agar secepatnya bersikap sebelum semuanya terlambat. Sehingga, paham radikalisme tidak menyebar ke setiap batok kepala jamaah, hanya karena itu disampaikan oleh khatib di atas mimbar –yang lalu diyakini sebagai kebenaran tunggal.

Temuan ini menjadi aneh, karena berada di lingkungan pemerintahan. Boleh jadi, persebaran radikalisme ini tidak disadari oleh pemerintah, karena minimnya lembaga terkait dalam memerhatikan masjid. Ujaran kebencian pun mewarnai konten khutbah, yang mestinya memuat nilai-nilai luhur dari ajaran Islam.

Dalam persebarannya, kelompok intoleran menggunakan berbagai macam media. Mulai dari selebaran, media online, hingga melalui dai yang diamanahi memberikan ceramah di hadapan jamaah. Berkaitan dengan metode infiltrasi radikalisme ke kantong-kantong dakwah umat Islam (moderat) dijelaskan dengan apik dalam buku Ilusi Negara Islam. Bahwa awalnya, agen radikalisme atau Islam garis keras, merebut masjid-masjid dengan perlahan. Mulai dari mengambil simpati marbot, hingga pada akhirnya dipercaya untuk menjadi takmir, dan tentu juga ditugasi mengisi ceramah, baik dalam khutbah jumat maupun kultum seusai shalat fardlu.

Sebenarnya, tidak adil jika hanya masjid saja yang disurvei, berkaitan dengan ancaman radikalisme. Rumah ibadah agama lain pun, khususnya para pemuka agamanya, perlu disurvei untuk mengetahui perspektif keagamaannya. Karena, sekalipun kasus terorisme kerap dilakukan orang Islam yang berpaham garis keras, tidak menutup kemungkinan oknum pemeluk agama lain juga melakukan indoktrinasi yang menempatkan liyan sebagai musuh dan wajib disingkirkan.

Berangkat dari survei yang dilakukan P3M NU, agaknya lembaga yang bertanggung jawab atas masjid tersebut lebih jeli lagi dalam menyeleksi para dai, untuk mengisi ceramah di dalamnya. Adapun kriteria paling sederhana dalam memilih dai adalah, mereka yang tidak alergi dengan perbedaan. Kategori ini bisa dijadikan satu elemen terpenting untuk menyaring para pengkhutbah, agar jangan sampai khutbah berubah menjadi orasi intoleran, atau provokasi kebencian.

Sebenarnya, masjid-masjid yang berada di lembaga-lembaga pemerintahan tersebut –yang terindikasi radikalisme atapun tidak- bisa melakukan kerja sama di bidang keagamaan. Bahwa di Indonesia, ada dua organisasi Islam besar yang semenjak pra kemerdekaan, telah berkontribusi untuk memperjuangkan asa bangsa. Pun setelah merdeka, selalu aktif dalam merawat NKRI supaya tidak pecah-belah lantaran radikalisme-terorisme, baik melalui dakwah lisan, tulisan, maupun amalan. Dua ormas Islam tersebut adalah Muhammadiyah dan NU.

Pengerahan kader-kader dua organisasi Islam moderat tersebut untuk mengisi masjid-masjid pemerintahan bisa dijadikan alternatif solusi. Dai-dai hasil kaderisasi ormas Islam tersebut, diharapkan mampu menularkan pemahaman keislaman yang lebih santun dan sesuai konteks keindonesiaan, melalui ceramah-ceramahnya di masjid. Karena, materi dakwah sebaik apapun, jika disampaikan keliru, dampaknya tidaklah baik. Apalagi, dakwah yang dari zat-nya saja sudah intoleran atau menguar kebencian; tentu jauh lebih buruk dampaknya!

Dakwah bermuatan positif dan disampaikan dengan santun, menjadi alternatif yang perlu dioptimalkan oleh masjid-masjid pemerintahan. Kerja sama antar pemerintah dan ormas Islam moderat juga perlu diharmoniskan, supaya perjuangan untuk melawan radikalisme berbasis masjid bisa kuat. Lawan radikalisme dengan khutbah santun, untuk mencetak umat yang cinta perdamaian!

Facebook Comments