Maulid Nabi, Nilai Kepemimpinan, dan Persaudaraan Kebangsaan

Maulid Nabi, Nilai Kepemimpinan, dan Persaudaraan Kebangsaan

- in Suara Kita
825
1
Maulid Nabi, Nilai Kepemimpinan, dan Persaudaraan Kebangsaan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi refleksi penting bangsa ini dalam menegakkan etos kepemimpinan bangsa. Kepemimpinan bukan sekedar atribut dan pangkat dalam birokrasi atau partai politik. Kepemimpinan merupakan gerak hidup manusia untuk selalu berdiri tegak membangun diri sendiri dan bangsa. Dalam kepemimpinan, tak ada kepentingan sesaat, karena kepentingan jangka panjang dan kepentingan bangsa harus selalu di depan.

Bangsa Indonesia membutuhkan referensi etos kepemimpinan. Semangat kerja yang ditunjukkan Presiden Joko Widodo dan kabinetnya harus dibarengi etos kepemimpinan yang berkarakter dan bervisi masa depan. Etos kepemimpinan Nabi Muhammad bisa menjadi oase yang sangat tepat untuk memecahkan kebuntuhan dan kemacetan yang menghadang. Kita bisa melihat berbagai kepala daerah yang usai menjabat langsung mendekam di bui tahanan. Anggota dewan, sebagai wakil rakyat, justru selalu mencederai amanat rakyat. Kasus korupsi menjadikan pemimpin bangsa ini kehilangan jiwa kepemimpinnya. Inilah problem serius yang masih mendera Indonesia masa transisi reformasi sekarang ini.

Menurut Syafi’i Antonio (2010), dijelaskan bahwa paling tidak ada tiga faktor mengapa umat Islam tidak mampu menangkap suri tauladan Muhammad SAW secara holistik dan komprehensif. Pertama, adanya distorsi citra yang secara subjektif sengaja dimunculkan oleh para orientalis. Kedua, munculnya prasangka buruk (prejudice) yang berlebih dari beberapa kalangan ketika nilai-nilai positif (uswah hasanah) Rasulallah SAW akan dikaji dan dipraktekan di lapangan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga : Kembali Pada Kiblat Kebangsaan dengan Meneladani Ajaran Nabi Muhammad Saw

Faktor yang ketiga, adalah tradisi dan kebiasaan kebanyakan umat Islam yang melihat dan menempatkan sosok Muhammad SAW hanya dari satu sisi. Seringkali kita terjebak ke dalam ‘pengkultusan’ individu sosok Muhammad. Mungkin tanpa disadari banyak diantara kita yang memposisikan sosok Muhammad SAW terlalu melangit, tinggi, dan jauh diatas sehingga beliau menjadi ‘asing’ bagi kita untuk di tiru dan dijadikan suri tauladan. Padahal Rasulallah SAW sendiri dalam beberapa kesempatan pernah mengatakan: “Janganlah kalian terlalu mengagung-agungkan aku seperti halnya kaum Kristen mendewakan Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku ini manusia biasa putra seorang wanita Mekkah yang memakan daging yang dikeringkan (lauk sederhana). Panggillah aku Rasulallah dan hamba Allah” (HR. Tirmidzi).

Ketiga hal tersebut juga menjangkiti para pemimpin bangsa ini. Makanya, sudah saatnya sekarang ini Maulid Nabi dijadikan sebagai starting point bangsa ini untuk terus menggali keteladanan Muhammad sebagai pemimpin yang sukses dalam mengelola rakyatnya. Muhammad merupakan pemimpin yang bisa mengayomi rakyatnya, begitu membela kaum miskin, dekat dengan kaum pinggiran, orang pertama yang selalu menjenguk rakyatnya yang sedang sakit, memberikan apapun yang dimiliki untuk kepentingan rakyat, teguh dalam menegakkan keadilan, bahkan anaknya sendiri kalau mencuri, maka ia sendiri yang akan dipotong tangannya.

Bagi Muhammad, kepemimpinan adalah amanah. Suatu amanah akan dimintai pertangungjawabannya. Ini dikatakan dengan jelas oleh beliau: “Sesungguhnya imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR. Al-Buchari dan Muslim). Jika seorang pemimpin menjalankan amanah kepemimpinannya dengan benar, ia pun akan di cintai oleh rakyatnya. Kata-katanya akan di dengar, seruannya akan dijalankan, kehormatan dan kewibawaannyapun akan terjaga dimata rakyatnya. Ia juga tidak akan merasa dijauhi dan dibenci rakyatnya. Bahkan ia akan dicintai rakyatnya, jika ia memimpin rakyatnya dengan penuh kecintaan.

Segitiga Sukses dalam Kepemimpinan

Menurut Wahidunnaba’ (2009), ada segitiga sukses dalam kepemimpinan Muhammad, yakni pemimpin yang holistic, accepted, dan proven. Muhammad merupakan pemimpin yang holistic karena ia mampu mengembangkan leadership dalam mengembangkan leadership dalam berbagai bidang kehidupan. Kepemimpinannya mampu meresap ke berbagai nuansa kehidupan melalui celah-celah tanpa disadari oleh manusia pada saat itu. Beliau memulai mengembangkan kepemimpinannya berawal dari dirinya sendiri (self development) terlebih dahulu. Semangat kepemimpinan bisnis dan entrepreneurship yang ditunjukan semasa masih muda sangat menakjubkan. Kegiatan bisnis yang dilakukan hampir tidak pernah mengalami kerugian.

Saat menjadi kepala rumah tangga, beliau mampu mengembangkan leadership dalam kehidupan rumah tangganya. Kepemimpinannya mewarnai kehidupan sehari-hari bersama istri-istrinya sehingga nuansa harmonis tercipta begitu indah. Beliau dapat bersifat adil terhadap mereka semua. Dalam kehidupan yang lebih heterogen, yaitu tatanan kehidupan masyarakat, beliau melahirkan era baru. Era yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kepemimpinannya menjadikan kehidupan masyarakat menjadi pusat peradaban dunia. Sistem perpolitikan yang beliau terapkan mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat menjadi bermartabat. Sistem pendidikan dalam masyarakat berubah total. Pendidikan yang diterapkan menjadikan masyarakatnya bermoral dan nampak cerah

Beliau juga pemimpin yang accepted. Seorang pemimpin yang diterima dan diakui oleh semua masyarakatnya. Bahkan, kepemimpinan beliau masih diterima sampai saat ini. Jika terhitung sudah berapa miliar orang yang mengakui kepemimpinannya. Terlepas dari wahyu yang disampaikan, akhlak beliau juga patut diterima dan dijadikan suri tauladan. Dan yang ketiga, Nabi Muhammad saw adalah pemimpin yang proven. Figur pemimpin yang terbukti telah membawa perubahan bagi masyarakat. Kepemimpinan yang selalu berorientasi pada bukti riil, tidak sekadar kata-kata persuasif. Pemimpin yang berorientasi ke depan.

Dari sinilah, pemimpin bangsa ini mestinya segera mengambil hikmah dari kepemimpinan Muhammad. Mulai dari diri sendiri, setidaknya inilah yang sangat tepat bagi seluruh warga bangsa ini, khususnya para pemimpinnya. Dengan belajar menjadi pemimpin bagi diri sendiri, maka pelan tapi pasti akan bisa menjadi pemimpin yang baik bagi bangsa ini. Sebagai penutup, camkanlah pernyataan Muhammad ini: “Sebaik-baiknya pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian.  Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian”. (HR Muslim, Ahmad dan ad- Darimi).

Facebook Comments