Kembali Pada Kiblat Kebangsaan dengan Meneladani Ajaran Nabi Muhammad Saw

Kembali Pada Kiblat Kebangsaan dengan Meneladani Ajaran Nabi Muhammad Saw

- in Suara Kita
671
1
Kembali Pada Kiblat Kebangsaan dengan Meneladani Ajaran Nabi Muhammad Saw

Secara umum  Nabi Muhammad Saw diyakini lahir pada 12 Rabiul awal tahun gajah (570 Masehi). Dari kelahirannya inilah, sekarang seluruh  masyarakat dunia, khususnya muslim, berbondong-bondong untuk menyerukan namanya. Untuk memperingati hari kelahiran beliau. Atau orang Jawa sering menyebutnya Muludhan.

Di bulan Rabi’ul Awal yang dianggap berkah ini, mayoritas masyarakat Indonesia akan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Kelahiran nabi Muhammad yang dianggap sakral dan memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Islam. Karena lahirnya Muhammad dan kemudian menyebarkan Islam adalah titik balik penting yang menandai era baru. Yaitu era yang mendamaikan.

 Sebagaimana yang terdapat dalam buku Agama-Agama manusia karangan Huston Smith, menyebutkan bahwa Arab sebelum kelahiran nabi Muhammad sampai dengan kelahirannya digambarkan negeri yang kacau: Hidup dalam suatu padang pasir yang tidak menemukan kedamaian. Kaum Badui hampir tidak pernah merasa ada tanggung jawab pada siapapun di luar kabilahnya. Kurangnya harta benda dan sifat bermusuhan satu sama lain yang selalu dikorbankan oleh teriknya matahari menyebabkan perampokan melembaga di kawasan itu dan merupakan bukti dari kejantanan.

Dalam abad ke-6 Masehi kemacetan kehidupan politik dan runtuhnya kewibawaan para penegak hukum dalam kota utama Makkah semakin memperburuk keadaan yang memang sudah rusak. Pesta mabuk-mabukan yang sering dibarengi dengan perkelahian dan pertumpahan darah menjadi kebiasaan sehari-hari. Hasrat bermain judi yang selalu kuat menjadi tradisi yang tidak bisa terbendung, sehingga meja judi kota Makkah sangat ramai sepanjang malam. Perempuan-perempuan penari berpindah dari satu tenda ke tenda lain untuk membakar nafsu putra padang pasir yang bergelora. Sementara itu, agama yang dianut orang banyak tidak mampu memberikan kendali apapun atas keadaan itu.

Baca juga : Pancaran Akhlak Nabi, Teladan Menciptakan Perdamaian Negeri

Berangkat dari keadaan yang demikianlah kemudian nabi Muhammad mendapatkan wahyu yang pertama di Goa Hira. Wahyu yang diisyaratkan seseorang untuk membaca. Sebuah wahyu awal perdamaian ini muncul, untuk menghentikan kekejaman dan kejahatan yang terjadi di Tanah Arab pada masa itu.

Sebagaimana yang menjadi simbol dari perdamaian yang ditawarkan oleh agama Islam, yaitu rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua orang). Lahirnya agama Islam sebagai sumber untuk mendamaikan sesama, memberikan jalan perdamaian dan persatuan. Hingga masyarakat bisa menikmati hidup dengan penuh ketenangan. Tidak ada kejahatan dan permusuhan. Karena setiap manusia sudah mengarahkan pemahamannya untuk persatuan bangsa.

Sudah semestinya masyarakat yang memperingati hari kelahiran nabi Muhammad ini, tidak hanya sekedar memperingati semata. Tetapi memahami makna mendalam tentang ajaran yang disampaikan, yaitu pentingnya sebuah kebebasan dan perdamaian. Hingga masyarakat sekarang selalu berjalan pada arah yang mendamaikan dan mengutamakan sikap saling membatu, tanpa memandang perbedaan. Karena kebersamaan bisa dinikmati keindahannya, dari tangan-tangan orang yang tulus.

Menemukan Perdamaian di Bulan Maulid

Sebagai hamba yang spesial, manusia yang dipilih Allah untuk menyuarakan perdamaian di dunia. Maka orang sekarang, generasi millennial, generasi yang melek media, seharusnya menelusuri dan memahami jejak terbang beliau, dalam menyuarakan perdamaian. Selain hal ini bertujuan menemukan wawasan baru, ini juga menjadi jalan pintas untuk meneladani sikap baiknya. Hingga bisa disebarkan juga kepada orang-orang yang di sekitar kita.

Bisa dikatakan dengan konsep rahmatal lil alamin yang diusung, beliau berhasil menciptakan peradaban manusia untuk bersatu untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Mengajak semua orang untuk menegakkan kebersamaan, hingga mampu menciptakan perdamaian yang mengglobal. Perdamaian yang menenangkan jiwa dan tentunya menegakkan semangat kebangsaan, untuk menjaga keutuhan yang ada di dalamnya.

Sebagaimana yang terdapat dalam surat an-Nahl [16] ayat 125. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

Di dalam ayat ini Allah Swt telah memberikan petunjuk bahwa dakwah harus dilakukan dengan mengedepankan cara-cara yang damai dan bijaksana. Dan hal inilah yang menjadi spirit dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Dan, berdakwah menjadi bukti nyata bahwa Islam tidak pernah dipaksakan kepada siapapun. Karena tugas beliau hanyalah sebagai penyampai amanah Ilahi untuk semua manusia yang mendaki bumi ini.

Perdamaian itu lahirnya dari hati, yang kemudian akan mengakar menjadi kebahagiaan untuk orang-orang yang melakukannya. Ciptakan kebersamaan yang tanpa memandang siapa dan dari mana asal kita, karena perdamaian tidak memandang status sosial dan keadaan. Selagi kita siap untuk bersama dan menerima kebersamaan, itulah perdamaian yang sebenarnya.

Facebook Comments