Melacak Dalil Toleransi Dalam Alquran dan Alkitab

Melacak Dalil Toleransi Dalam Alquran dan Alkitab

- in Keagamaan
529
0
Melacak Dalil Toleransi Dalam Alquran dan Alkitab

Peringatan kenaikan Isa Al Masih yang bertepatan dengan momen bulan Ramadan seolah menyiratkan pesan bahwa dua agama ini (Kristen dan Islam) memiliki keterkaitan erat. Baik secara teologis, historis, maupun sosiologis. Secara teologis, Islam dan Kristen merupakan dua agama yang berakar dari rumpun Abrahamik. Keduanya memiliki konsep keimanan yang dalam beberapa titik saling beririsan.

Secara historis, Islam dan Kristen juga memiliki sejarah panjang relasi yang diwarnai pasang surut. Sedangkan secara sosiologis, penganut Islam dan Kristen di banyak negara hidup berdampingan dan berbagai ruang publik yang sama. Termasuk dalam konteks Indonesia. Peringatan hari kebaikan Isa Al Masih yang bertepatan dengan bulan Ramadan menggambarkan bagaimana kedua komunitas agama ini saling menghormati dan menghargai.

Hal ini sebenarnya tidak mengagetkan. Mengingat kedua agama tersebut sangat kental dengan ajaran tentang cinta kasih dan perdamaian. Islam sendiri sesuai namanya merupakan agama yang mengajarkan keselamatan dan perdamaian. Jargon Iskam ialah rahmatan lil alamin. Maknanya, kehadiran Islam diharapkan mampu membawa kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam semesta. Sedangkan Kristen identik sebagai agama kasih-sayang. Salah satu kredo terkenal dalam Kristen ialah pernyataan Yesus yang menyebut “Jika pipi kirimu ditampar, berikanlah pipi kananmu”.

Ajaran tentang toleransi itu kiranya dapat dilacak dari kitab suci kedua agama tersebut. Yakni Alquran dan Alkitab. Menurut Zuhairi Misrawi dalam bukunya Alquran Kitab Toleransi, konsep tasamuh alias toleransi memang tidak secara eksplisit disebutkan di dalam Alquran. Namun demikian, banyak ayat Alquran yang bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan toleransi.

Dalil Toleransi Dalam Alquran dan Alkitab

Antara lain Surat Al Mumtahanan ayat ke 8-9. Di dalamnya Allah berfirman “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan adil pada orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusirmu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang mengusirmu dari kampung halamanmu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Ayat ini mengandung pesan agar umat Islam berbuat baik dan adil kepada pemeluk agama lain kecuali dalam urusan agama. Ayat ini menyiratkan pesan toleransi sekaligus batasannya. Yakni bahwa dalam kehidupan sosial, umat Islam harus berlalu baik dan adil pada kelompok agama lain.

Pesan toleransi juga terkandung di dalam Surat Al Lukman ayat ke 15. Bunyinya, “Dan jika keduanya mengajak kamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya. Dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepadaku”.

Selain itu, ada satu ayat yang kerap dikutip dalam persoalan toleransi, yakni ayat “lakum dinukum waliyadiin”. Yang artinya, bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Ayat ini bukanlah pengabaian terhadap kelompok yang berbeda. Namun, bentuk afirmasi alias pengakuan pada agama yang berbeda.

Dalam tradisi Kristen, dalil toleransi dapat dilacak di Alkitab. Antara lain dalam Surat Yohanes 13:34 yang berbunyi “Aku memberikan perintah baru kepasamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu saling mengasihi”. Juga pada Surat Yakobus 2:8 yang berbunyi “jika kamu menjalankan hukum utama sesuai dengan kitab suci, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, maka kamu telah melakukan sesuatu yang benar”. Pesan toleransi dalam Alkitab juga termaktub di dalam Surat Korintius 13:5 yang berbunyi “Kasih tidak berlaku tidak sopan, tidak mementingkan diri dan tidak cepat marah. Dia juga tidak menyimpan kekesalan”.

Haryatmoko, dalam makalahnya berjudul “Dialog dan Toleransi dalam Tradisi Kristiani” menjelaskan bahwa pada prinsipnya doktrin agama Kristen membolehkan umatnya menjalin relasi dengan kelompok yang tidak mengakui atau beriman pada Yesus. Dalam konteks relasi sosial, politik, dan budaya, Kristen tidak mempersoalkan perbedaan agama. Bahkan dalam lingkup teologis pun Kristen mengakui bahwa agama-agama l drain juga kemungkinan memiliki jalan keselamatan (salvation). Hal itu dinyatakan di dalam dokumen Konsili Vatikan 2 yang dirilis tahun 1962.

Pesan toleransi dalam Alquran dan Alkitab ini perlu dielaborasi lebih lanjut. Diperlukan tafsir yang kontekstual agar ayat-ayat tersebut dapar diaplikasikan dalam konteks kekinian. Terutama dalam konteks keindonesiaan. Di dalam konteks keindonesiaan, relasi Islam dan Kristen kerapkali diwarnai oleh relasi kuasa berbasis mayoritanisme. Umat Islam sebagai kelompok mayoritas kerapkali memaksakan kehendaknya pada kelompok minoritas, termasuk umat Kristen.

Sebaliknya, umat Kristen sebagai minoritas kerap tidak memiliki posisi tawar yang kuat untuk menolak pemaksaan kehendak kaum mayoritas. Relasi kuasa berbasis tirani mayoritas ini jelas harus diakhiri. Kita perlu mengembangkan model relasi antaragama yang inklusif dan toleran. Sebagaimana diajarkan oleh Alquran dan Alkitab.

Facebook Comments