Membendung Arus Radikalisme dengan Benteng Islam Indonesia

Membendung Arus Radikalisme dengan Benteng Islam Indonesia

- in Editorial
597
0

Sebagaimana gencarnya upaya memerangi terorisme di berbagai negara, upaya tersebut tidak akan menemukan kata berhasil sebelum mencoba membendung ideologi dan pemikiran yang dapat mendorong lahirnya aksi kekerasan dan teror. Berulangkali dikatakan bahwa terorisme bukan sekedar persoalan aktor, jaringan dan aksi, tetapi lebih dari itu terorisme merupakan ekspresi dari keyakinan, paham dan ideologi yang mendorong lahirnya aksi kekerasan.

Memang banyak faktor yang menyebabkan seseorang jatuh dalam lingkaran dan jaringan terorisme seperti faktor sosial, politik, psikologis, ekonomi dan lainnya. Namun, hal yang tidak boleh diabaikan bahwa akar ideologi, pemikiran, paham dan keyakinan merupakan katalisator seseorang terjerumus dalam aksi-aksi kekerasan dan terorisme.  Masyarakat mungkin saja muak dengan aksi kekerasan dan terorisme, tetapi masyarakat juga seringkali mentolerir  atau bahkan mengamini narasi radikalisme yang berkeliaran liar di lingkungannya. Tumbuh suburnya radikalisme inilah yang menyebabkan masyarakat menjadi rentan jatuh dalam perangkap terorisme.

Memerangi terorisme, dalam konteks ini, harus menjadi satu paket dengan upaya mengikis pemikiran radikalisme dan ekstrimisme.  Lantas bagaimana menangkal akar terorisme tersebut?

Jika Noam Chomzky  mengatakan bahwa realitas kehidupan manusia dibentuk oleh kata-kata, sejatinya ruang sosial ini terbentuk oleh bagaimana masyarakat memandang realitas dengan ekpresi kata. Ideologi yang secara sederhana mempunyai arti teoritis (pemahaman) dan praktis (tindakan) yang membentuk dan dibentuk oleh bahasa (narasi) memainkan peran penting dalam mengkonstruksi realitas.

Penyebaran ideologi terorisme dalam bingkai narasi-narasi radikalisme dan ekstrimisme setiap hari baik yang terjadi secara offline dan online dapat mempengaruhi masyarakat dalam memandang diri, agama,  masyarakat dan negaranya. Ideologi yang sudah masuk dalam diri seseorang akan membentuk paradigma dan cara pandang dalam melihat realitas di sekelilingnya.  Proses pembentukan cara pandang baru ini yang kemudian disebut tahapan radikalisasi.

Indikasi pada tahapan ini seseorang akan melihat sekelilingnya yang tidak sejalan, sepaham, dan sepemikiran sebagai sesuatu yang salah dan harus dirubah. Ketidakmampuan seseorang untuk memanifestasikan cara pandang barunya akan membentuk jiwa asosial, ekslusif dan menutup diri dari arena sosial yang telah dianggap salah. Jadi, bisa dipahami bahwa sikap tertutup merupakan cara paling lemah yang ditunjukkan oleh mereka untuk melawan diri dari keadaan sekitarnya.

Virus ideologi ini akan berkembang dengan cepat ketika seseorang mempunyai penyakit lain seperti dendam, galau, kekecewaan, kemiskinan, ketertindasan, perasaan terbuang, perasaan didzalimi, dan emosi lainnya yang dapat mempercepat penyebaran virus ideologi radikalisme. Hanya dengan sentuhan indoktrinasi pengabsahan kekerasan, perlawanan, dan perang suci akan meyakinkan seseorang untuk melanjutkan tahap berikutnya dalam bentuk nyata aksi kekerasan dan teror.  Panggung teror akan mereka persepsikan sebagai perang dan perlawanan suci melawan kondisi yang mereka anggap salah.

Memerangi terorisme berujung pangkal pada melawan ideologi terorisme. Sementara itu, perang ideologi hanya bisa dilakukan apabila masyarakat memiliki imunitas dan daya tahan yang kuat dari penyebaran virus radikalisme. Ingat, masyarakat yang tidak memiliki daya tahan ideologi yang kuat sangat rentan terhadap penyebaran virus radikal terorisme. Lalu bagaimana meningkatkan kekebalan ideologi masyarakat untuk menangkal virus terorisme?

Radikalisme dan terorisme sejatinya tidak mempunyai akar kuat di Indonesia. Ia merupakan virus alien yang diimpor dari luar untuk memecah umat dan bangsa. Radikalisme dan terorisme telah berhasil membuat beberapa negara khususnya di Timur Tengah tercerai dan terbelah. Dalam arti yang lain, sesungguhnya radikalisme dan terorisme merupakan manhaj (metodologi) subversif, dalam arti memiliki tendensi untuk merongrong kekuasaan dan kedaulatan suatu negara. Karena itulah, virus yang telah menyebar secara global ini pun sedang menyasar Indonesia.

 Bagaimana virus radikal terorisme ini bekerja dalam suatu negara? Ada dua narasi penting yang dimainkan yakni tema keagamaan dan kenegaraan. Agama ditunggangi untuk meradikalisasi masyarakat sebagai senjata menyerang negara. Tidak usah kaget apabila narasi negara kafir, aparat thagut, pemimpin kafir, kewajiban hijrah dan jihad, penggantian ideologi, penegakan negara baru menjadi ramai dikembangkan. Narasi-narasi itu dikembangkan untuk menanamkan ketidakpercayaan masyarakat (public distrust) terhadap negara.

Obat penangkal virus radikal terorisme itu sebenarnya sudah ada lama dalam jantung nusantara. Keagamaan yang mengakar di bumi nusantara merupakan corak pemikiran keagamaan yang tidak mengenal manhaj subversif terhadap negara. Justru keagamaan yang subur di Indonesia adalah pemikiran keagamaan yang menguatkan wawasan kebangsaan. Agama merupakan pilar kokoh yang menopang ke-Indonesiaan.

Penguatan arus keagamaan (baca: Islam) Indonesia merupakan ramuan penting dalam menangkal virus radikal terorisme.  Indonesia sangat beruntung memiliki banyak organisasi keagamaan yang menjadi jangkar persatuan negara di tengah mulai munculnya ormas yang  selalu mendorong perpecahan bangsa. Kita harus bersyukur dianugerahi banyak tokoh-tokoh agama yang berjuang dalam menegakkan ajaran agama yang moderat dan toleran di tengah mulai munculnya tokoh-tokoh baru yang rajin menebar kebencian, hasutan dan fitnah.

Facebook Comments