Meneguhkan Disiplin, Menjaga Laku di Media sosial

Meneguhkan Disiplin, Menjaga Laku di Media sosial

- in Suara Kita
251
0

“Disiplin bukan hanya penting melainkan genting “ kevin keegan.

 Sejarah Indonesia mencatat, Gerakan Disiplin Nasional (GDN) sudah digaungkan sejak masa orde lama lewat pembangunan watak bangsa (National And Character Building). Pada masa Suharto pun (orde baru) aksi disiplin nasional tak alpha untuk sekali lagi diggelorakan. Setelah sekian lama tak terdengar gaungnya di ranah publik, pada 29 november 2015 silam, disiplin yang mati suri dan diabaikan, dibangunkan kembali oleh mendagri  Tjahjo Kumolo. Mendagri secara khusus mengkampanyekan pentingnya disiplin nasional untuk Indonesia dimasa mendatang terutama dilingkungan pemerintahan terkhusus dikemendagrian.

Fenomena wake up call gerakan disiplin nasional ini menjadi penanda bahwa ketertiban menjadi hal urgen untuk mampu menciptakan perdamaian dan perkembangan Indonesia kedepannya. Mengingat kebebasan yang diusung reformasi meninggalkan jejak indisiplin yang cukup mengkhawatirkan. Disisi lain semua bidang menghendaki adanya ketaatan, kepatuhan untuk selalu mengindahkan tata tertib dan adab yang berlaku. Hal ini dipertegas juga dengan kondisi dewasa ini, dimana bangsa yang dikenal ramah, sopan dan toleran mulai mudah sekali naik darah, tersinggung dan ngotot apalagi ketika diingatkan tentang disiplin. Dijalanan, di pemerintahan, bahkan di media, disiplin menjadi hal yang mulai langka. Hukum kian mengerdil dan indisiplin semakin menguat.

Meningkatkannya penetrasi dunia maya yang serba membolehkan dan longgar akan hukum, disiplin memiliki peran yang sangat urgen. Seperti ungkapan Keegan di atas bahwa disiplin bukan lagi sekedar prihal penting namun genting. Genting karena kendornya apalagi ketiadaannya akan mempengaruhi hasil dengan signifikan. Keberadaannya ibarat otak yang memberikan arahan untuk melatih seseorang agar mampu melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi.  disiplin memiliki implikasi yang luas terutama dimensi kesabaran, kehati-hatian, menahan diri, dan komitmen yang dapat diterapkan pada semua bidang dan segi kehidupan. Baik itu kehidupan sosial, bermedsos bahkan dalam seni bela diripun disiplin memegang peranan penting.

Disiplin tidak hanya mempengaruhi laku semata namun juga tutur dan hati seseorang. Bukan hanya untuk menjaga namun juga bentuk benteng pada setiap pribadi untuk tertib dan taat baik dalam dunia real maupun dunia maya yang kini mulai menjadi dunia kedua terutama dalam bermedia Karenanya perlu segera digalalakkan dengan tegas gerakan disiplin nasional dan media.

Disiplin Sebagai Budaya

Menerapkan disiplin sebagai budaya dalam keseharian bukan berarti menerapkan cara hidup robot. Bayangkan saja jika para pengguna jalan tidak disiplin terhadap peraturan lalu lintas yang terjadi adalah kesemerawutan, kemacetan dan perasaan egois berkembang. Toleransi dikerdilkan, semua menuntut hak sebagai pengguna jalan namun lupa akan kewajiban dan hak pengguna jalan lainnya. Akhirnya emosi dan amarah serta perasaan dongkol yang muncul. Mood buruk dijalan akhirnya terbawa kemana-mana. Sama halnya jika warganet memiliki kedisiplinan tinggi dalam memanfaatkan dunia virtual alanglah damainya arus inforasi yang berkembang. Setiap pengguna akan bersabar untuk tidak menshare berita buruk, tidak ringan tangan dan mampu menahan diri untuk tidak melakukan hal yang tidak pantas termasuk mempost hal privasi. Setiap netter memiliki komitmen yang tinggi untuk berlaku sesuai etika dan hukum yang berlaku.

Dengan disiplin diri yang tinggi diharapkan seseorang, masyarakat dan bangsa memiliki pengendalian diri yang baik dan kejernihan pikiran untuk mampu menalar dan bersikap kritis. Paling tidak seorang yang berdisiplin tidak akan melanggar peraturan moral maupun perundang-undangan. Sehingga seseorang yang dalam kehidupan nyatanya memiliki kedisiplinan akan menjaga prilaku bermediannya. Sehingga tidak ringan tangan menshare, mudah mempost dan berkomentar yang penuh kebencian, kenyinyiran.

 Ruang kedisiplinan tetap terjaga sehingga tata-tertib dipahami sebagai sesuatu yang dibuat untuk dipatuhi bukan dilanggar. UU ITE yang ditelurkan untuk melindungi setiap orang dari fitnah media dan kejahatan dunia maya (cybercrime) berfungsi sebagaimana mestinya. Maraknya hoax yang memicu kreatifitas banyak pihak untuk mengembangkan aplikasi anti hoak dan pos-pos pengaduan seperti yang dibuat oleh BNPT (badan penanggulangan teroris nasional) atau patroli tim siber niscaya kerjanya akan jauh lebih ringan jika masyarakat sudah terdisiplinkan. Dengan masyarakat yang sudah terdisiplinkan maka masyarakat akan memiliki kesadaran penuh untuk tidak melanggar dan melaporkannya.

Facebook Comments