Meneguhkan Komitmen Keislaman dan Kebangsaan

Meneguhkan Komitmen Keislaman dan Kebangsaan

- in Editorial
1035
0

Jika kita membela Islam tetapi tidak membela nasionalisme, maka sejatinya kita membiarkan Islam tidak menemukan tempat berpijak di muka bumi. Islam merupakan ide langit dan nasionalisme adalah pemikiran bumi yang menyediakan tanah lapang bagi tumbuh kembangnya ide-ide langit bernama agama.
Islam membutuhkan perangkat institusional yang bernama negara sebagai tempat berpijak dan ladang untuk tumbuh kembang. Persoalannya adalah apakah Islam itu harus mewujud dalam Negara, atau apakah Negara itu harus berbentuk Islam, atau negara itu cukup dijiwai oleh pemikiran Islami? Pertanyaan ini hanyalah mengulang perdebatan klasik yang tak kunjung usai.
Teladan bernegara yang diwariskan Nabi melalui komunitas Madinah menggambarkan suatu bentuk negara multikultur yang dijiwai oleh semangat Islam. Nabi merangkai perbedaan agama dan suku di Madinah dengan suatu konstitusi universal yang menghargai perbedaan. Bahkan Nabi tidak pernah menajiskan perasaan cinta terhadap tanah air sebagai tempat berlindung. Bahkan Nabi sangat mencintai tanah air dan mengajak umat Islam dan seluruh umat yang terikat dalam Madinah untuk melindunginya.

Itulah nasionalisme yang dijiwai oleh semangat Islam. Madinah adalah tipe ideal bermasyarakat, bernegara dan beragama yang mencerminkan penghargaan perbedaan dan penghormatan dan jaminan hak kewargnegaraan tanpa pandang identitas. Hampir sulit menemukan Islam tanpa nasionalisme. Nabi menyadari hal itu sehingga tidak menyandarkan komunitas Madinah kepada dasar agama, tetapi dasar ruh Islam yang menghargai persamaaan hak kewargnegaraan.
Persoalan bahwa ada perluasan kekuasaan Islam itu bukan bagian dari ajaran Islam, tetapi etos zaman yang masih diselimuti nuansa penaklukan. Tidak hanya Islam, semua kerajaan besar ketika itu berupaya meluaskan cengkraman kekuasannya. Tetapi benteng nasionalitas Islam adalah Madinah.
Bagaimana dengan Indonesia? Negara Indonesia diciptakan oleh imajinasi pemuda. Sebuah imajinasi dan impian yang ingin menyatukan keragaman bangsa dalam satu negara. Barangkali itulah momentum hijrah terbesar pemuda Indonesia yang sangat fenomenal dalam sejarah bangsa. Hijrah pemikiran dan cara pandang yang lokal ke nasional. Dari situlah, bisa dipahami bahwa cikal bakal Indonesia adalah semangat kebangsaan. Agama masuk sebagai bagian nafas penting dalam perjuangan negara. Agama adalah semangat, tetapi tidak pernah berniat menaklukkan negara.
Hijrah terbesar kedua dalam sejarah bangsa adalah pada saat pemuda menemukan Pancasila sebagai dasar negara. Inilah momentum penting ketika imajinasi kesatuan berbangsa diwujudkan dalam bentuk falsafah negara yang dapat menaungi dan mematungi semua kelompok.Bagaimana posisi agama dalam falsafah tersebut? Agama tetap menjadi bagian penting dan bahkan terpenting dalam prinsip-prinsip bernegara.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah sebuah penegasan tauhid yang tidak hanya mengandung penegasan Ke-esa-an Tuhan, tetapi kesetaraan manusia di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Pada konteks itulah, tidak ada alasan menolak Pancasila. Menolak Pancasila bukan hanya menafikan ijtihad para ulama dan para pendiri bangsa, tetapi juga menolak Pancasila sama saja menolak prinsip tauhid yang menjadi sangat penting dalam agama. Menolak Pancasila sama saja menolak prinsip keadilan, musyawarah dan kemanusiaan yang menjadi maqasyidus syariah dalam Islam.

Pada bulan Oktober ini, ada tiga momentum penting yang patut kita pahami dalam rangkaian makna yang saling terkait. Hari Kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober, Tahun Baru Islam jatuh pada tanggal 2 Oktober dan di penghujung bulan ada Peringatan Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober. Makna yang patut kita renungi adalah meneguhkan komitmen pemuda Indonesia untuk Keislaman dan kebangsaan. Pemuda harus kembali hijrah untuk tidak lagi memiliki pemikiran yang sekterian, etnosentris, picik dan dangkal, tetapi meluaskan pandangan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Facebook Comments