Meneguhkan Pancasila sebagai Cita-Cita Bersama

Meneguhkan Pancasila sebagai Cita-Cita Bersama

- in Suara Kita
149
0

“Sekarang saya sudah mengerti apa itu Pancasila. Sekarang bila ada orang Indonesia, orang Islam, orang NU, yang anti Pancasila berarti ia anti padaku” (KH. Bisri Syansuri)

Pernyataan Rais ‘Aam PBNU 1971 – 1980 di atas menegaskan bahwa penerimaan terhadap Pancasila bukan hanya dilakukan oleh para politisi yang memang berjibaku dalam urusan kenegaraan, juga bukan hanya dilakukan oleh tentara yang memperjuangkan bangsa. Bahkan ulama sekaliber Kiai Bisri sekalipun menerimanya. Ini menandakan bahwa pancasila merupakan ideologi yang bisa diterima oleh semua kalangan, termasuk kalangan agamawan.

Sepanjang perjalanannya, penerimaan terhadap pancasila memang mengalami berbagai gejolak, mulai dari upaya penggantian terhadap pancasila, politisasi pancasila untuk kepentingan penguasa, sampai pada upaya penghinaan terhadap pancasila dalam berbagai bentuk. Meski demikian, pancasila sampai hari ini masih kokoh berdiri dan menjadi ideologi pemersatu. Sifat pancasila yang mengapresiasi semua perbedaan sebagaimana dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadikan ideologi ini dipandang paling ideal bagi Indonesia.

Visi Kebangsaan

Berdirinya bangsa Indonesia memang menapak di atas kebhinekaan. Inilah yang senantiasa menjadi visi bangsa ini, yakni menyatukan dan mendamaikan berbagai perbedaan yang ada. Persatuan yang berujung pada perdamaian bangsa menjadi nafas dari Pancasila yang secara khusus diejawantahkan dalam sila ketiga. Dalam hal ini, para pendiri bangsa pun telah menunjukkan sikap betapa mereka senantiasa bahu-membahu menjaga persatuan. Meski terkadang berbeda sikap dan pandangan dalam menata bangsa, tetapi mereka senantiasa menjaga keutuhan NKRI karena jiwa pancasila telah tertanam di lubuh hati. Bagi mereka, persatuan dan keutuhan bangsa lebih diutamakan dari pada friksi antar pribadi.

Dahulu Soekarno dan Hatta pernah bersitegang karena perbedaan visi dan misi politik. Klimaksnya adalah ketika Bung Hatta mundur dari jabatan Wakil Presiden pada 1 Desember 1956. Meski demikian, kedua tokoh ini tetap saling menghargai dan menjaga persahabatan. Ketika tahun1963 Bung Hatta terkena stroke, Soekarno datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Ia mendesak agar Hatta mau berobat ke Swedia dengan biaya dari negara.

Ketika Bung Hatta berkunjung ke Amerika dan mendengar Soekarno diberondong cemooh dan hinaan, Bung Hatta tegas menukas, “Baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya!”. Begitu juga ketika Soekarno tergolek sakit dan kondisinya kritis, Hatta mewakilinya untuk menjadi wali dalam pernikahan Guntur Sukarnoputra tahun 1968.

Kisah teladan lain juga hadir antara Soekarno dan H. Agus Salim. Keduanya adalah murid dari Hos Tjokroaminoto dan pernah sama-sama dibuang ke Muntok, di Bangka Belitung, oleh Belanda. Meski tunggal guru, keduanya tak mesti satu pandangan. Seperti dalam soal nasionalisme, Soekarno sebagai nasionalis menggambar cinta kebangsaan didorong oleh cinta tanah air, oleh kecintaan kepada birunya gunung dan moleknya ladang. Hal ini dibantah oleh Agus Salim dari golongan Islam, bahwa nasionalisme itu karena Allah SWT. Nasionalisme seperti ini tidak peduli apakah tanah air cantik, molek atau tidak. Bantah-berbantah ini dituangkan dalam puisi-puisi mereka, namun mereka tetap erat menjalin persahabatan.

Begitu juga kisah antara Soekarno dan HAMKA. Keduanya adalah sahabat karib yang telah memulai pertemanan pada tahun 1941. Persahabatan itu berlanjut sampai tahun 1955 dimana HAMKA menjadi anggota Konstituante. Sejak saat itulah, keduanya mulai terlibat ketegangan yang berujung pada penahanan HAMKA dengan tuduhan melanggar undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11, yaitu tuduhan merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno. Meski demikian, ketika Soekarno wafat, HAMKA-lah yang menjadi imam shalat jenazah atas wasiat dari Soekarno sendiri.

Berbagai kisah heroik dari pada pendiri bangsa di atas menjadi penegas bahwa mereka lebih mementingkan persatuan dan stabilitas bangsa, dari pada friksi pribadi. Mereka mampu memegang teguh prinsip persatuan yang merupakan salah satu visi dari NKRI.

Tanggung Jawab Bersama

 Visi persatuan yang telah terejawantahkan dalam Pancasila tentu menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa untuk menjaga dan merawatnya. Bahkan lebih dari visi persatuan saja, tetapi semua gerak kebangsaan yang termaktub dalam pancasila harus dikawal bersama. Pacasila harus menjadi cita-cita bersama sebab pancasila dipandang yang paling ideal untuk bangsa Indonesia. Kita tidak bisa mengawal dan menyerahkan pancasila hanya pada satu atau dua golongan, sebab pancasila adalah milik seluruh bangsa Indonesia.

Karena itu, kesadaran untuk mengawal pancasila sebagai cita-cita bersama harus terus digelorakan. Apapun agamanya, apapun suku dan budayanya, selama mereka adalah warga NKRI, maka berkewajiban untuk mengawal pancasila. Dengan demikian, keharmonisan dan perdamaian bangsa akan senantiasa terjaga.

Facebook Comments