Menggali Narasi Lokal: Menjaga Indonesia

Menggali Narasi Lokal: Menjaga Indonesia

- in Suara Kita
627
2

Bulan Desember ini, sepertinya kita semua bisa memprediksikan bagaimana konstelasi sosial akan berjalan. Rasanya, masing-masing dari kita dapat memproyeksikan bagaimana pertarungan di media sosial dan kehidupan nyata berkaitan dengan kehidupan kita masing-masing dalam masyarakat. Setidaknya beberapa isu yang akan tetap tersaji untuk dikonsumsi khalayak antara lain persoalan haram tidaknya dalam mengucapkan selamat natal, izin dalam melakukan peribadatan bagi pihak yang merayakannya, penggunaan atribut natal serta tahun baru di wilayah publik dan seterusnya. Persoalan semacam ini belakangan telah menjadi agenda rutin tatkala memasuki bulan penutup tahun ini. Kuatnya narasi-nasrasi tersebut sepertinya cukup berhasil membuat kita terbelah menjadi beberapa bagian. Setidaknya, bibit-bibit ketidak-inginan memahami pihak yang berbeda telah hadir dalam benak beberapa orang di negeri ini. Hal ini jelas cukup mengkhawatirkan sebab bangsa kita sepertinya semakin berjarak dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.

Tidak salah bila kemudian kita sedikit mengkhawatirkan keadaan ini, sebab dalam catatan beberapa pihak saja jelas menunjukkan bahwa beberapa kejadian demikian sangat rentan melahirkan perpecahan yang lebih parah. Masih tingginya angka tindakan intoleransi membuat hal ini sulit untuk disangkal. Dalam catatan Setara Institut untuk tahun 2016 saja setidaknya terdapat 270 tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan. Pihak yang menjadi pelakunya pun beragam dan dengan cara yang beragam pula. Mulai dari aksi lapangan, pembiaran, hingga hal-hal yang memang jelas dan terang sebagai penyataan provokatif. Dalam penelitian yang berbeda, survei dari Wahid Institut bersama LSI menemukan bahwa masih adanya nuansa permusuhan di antara beberapa golongan masyarakat yang berbeda. Dari 1.520 orang di 34 provinsi yang di survei secara random, didapati bahwa 59.9 persen orang tersebut memiliki kelompok yang dibenci. Salah satu kelompok yang masuk dalam kategori yang dibenci tersebut adalah kelompok yang berbeda agama (non muslim).

Narasi Lokal untuk Indonesia

Berpangku tangan dan bersikap apatis hanya akan menyuburkan aksi-aksi intoleran tersebut. Mengembalikan bangsa ini pada narasi awal berdirinya merupakan jalan keluar yang mesti diupayakan bersama guna menguatkan relasi yang belakangan ini retak karena berbagai intrusi ideologi radikal dari luar yang menunggangi agama. Memperoleh narasi tersebut sebenarnya tidaklah susah. Narasi lokal yang dimiliki setiap masyarakat di negri ini sebenarnya dapat digunakan untuk mengeratkan kembali tali persaudaraan yang sempat terurai. Sebut saja salah satu konsepsi dari wilayah timur yaitu “Pela Gandong” di masyarakat Maluku. Konsepsi ini belakangan jadi tenar terutama pasca kerusuhan yang telah meluluh-lantakkan ikatan persaudaraan yang akhirnya melahirkan korban jiwa di wilayah yang terkenal dengan sebutan Ambon Manise tersebut.

Selain konsepsi Pela Gandong dari wilayah Timur, ada pula konsepsi lokal yang  yang berasal dari wilayah Indonesia Barat. Salah satunya adalah konsepsi “Orang Kito…” yang familiar di wilayah Sumatera bagian Tengah, khususnya wilayah provinsi Jambi. Sebagai contoh penyebutannya adalah Orang Kito Jawa, Orang Kito Banjar dan seterusnya. Mungkin sekilas, konsepsi tersebut hanyalah sebentuk ungkapan biasa untuk menyebutkan orang lain yang berbeda etnis dengannya. Namun bila diperhatikan dalam penggunaannya, ada semacam unsur yang menyiratkan makna bahwa sejatinya perbedaan merupakan sebuah keniscayaan, namun tetap ada perekat diantara mereka. Hal ini bisa dilihat dari penyematan kata Kito yang dalam bahasa Indonesia berarti Kita, sebelum menyebutkan etnis orang yang ingin disebutkan tersebut. Dengan pemakaian kata Kito tersebut, bisa diamati bahwa sejatinya masyarakat Jambi tidak ingin memiliki jarak dengan masyarakat dari identitas mana pun. Melalui penggunaannya, masyarakat di wilayah Jambi ingin memiliki keterikatan antara dirinya dengan masyarakat lainnya. Pemunculan ungkapan “Orang Kito…” seolah ingin mengatakan bahwa adanya jalinan relasi yang tak bisa lepas antara semua masyarakat Jambi meskipun berangkat dari identitas yang berbeda.

Bila sedari awal penguatan konsepsi-konsepsi semacam itu bisa dibuat mengakar sejak dini di ranah akar rumput, bukan tidak mungkin jalinan relasi sosial di antara masyarakat akan sulit dikoyakkan oleh isu apa pun. Penguatan kembali narasi-narasi lokal semacam ini menjadi penting, sebab Indonesia merupakan sebentuk Ikhtiar atas keberagaman bangsa ini dan nilai kemanusiaannya. Menjaga hidupnya narasi-narasi lokal pemersatu bangsa merupakan sebentuk langkah kecil penguatan kembali kesetiakawanan sosial di antara anak bangsa. Pada gilirannya arus intrusi ideologi luar model apa pun yang hendak masuk, hanya akan berjumpa dengan tembok besar yang tak dapat ditembusi. Sebab masyarakat telah dibentengi oleh narasi lokal penguat kesetiakawanan nasional.

Facebook Comments