Merawat Kebhinnekaan, Merawat NKRI

Merawat Kebhinnekaan, Merawat NKRI

- in Suara Kita
200
0

Ihwal Indonesia sebagai negara yang memiliki keragaman (kebhinnekaan) yang plural adalah kenyataan takdir yang tidak bisa ditengarai. Ia merupakan kenyataan yang mutlak harus diterima dan tidak bisa diperdebatkan. Tinggal, bagaimana kita harus menyikapinya hari ini? Apakah kita akan merawatnya? Atau justru mengingkari takdir itu, dengan menghancurkan sendi-sendi kebhinnekaan itu?

Tapi, yang perlu diketahui, kebhinnekaan akan menjadi kekuatan bila dirawat, namun akan merusak segala tatanan yang telah berdiri hari ini, kalau kita menghancurkan sendi-sendinya. Maka itu, hal utama yang perlu dilakukan dari dulu, sekarang, maupun yang akan datang adalah merawat kebhinnekaan. Tanpa perawatan kebhinnekaan, Indonesia hanya akan hancur berkeping-keping.

Secara lebih lanjut, Mukti Ali, Menteri Agama di Era Orde Baru pernah menuturkan, harmoni keberagamaan selayaknya dibangun atas dasar agreement in disagreement (sepakat dalam perbedaan). Artinya, umat selayaknya bertegur sapa dengan penuh ketulusan dan kedamaian. Mereka bersama menyatakan diri berbeda. Namun, perbedaan itu bukan alasan untuk berkonflik. Justru, perbedaan seharusnya menjadikan mereka semakin dekat dan mengagumi kekuasaan Tuhan. Sebab, sekiranya Tuhan mau menyatukan perbedaan, bukanlah perkara sulit. Namun, inilah ujian bagi makhluk berakal dan berbudi untuk menjalin harmoni.

Hanya saja, sendi-sendi kebhinekaan di Republik ini tampaknya semakin pudar. Kebhinekaan masih belum menyatu dalam deru langkah bersama bangsa. Bangsa ini masih suka saling cakar dan mengenyahkan. Tak heran, Ahmad Syafii Maarif pernah membuat pernyataan, kebhinekaan dan toleransi adalah modal besar bangsa yang selama ini tertutupi dan sengaja dipinggirkan oleh kepentingan-kepentingan. Inilah yang terlihat jelas hari ini.

Sebagai gambaran, di tengah perkembangan teknologi informasi semakin sengit dan tak terbedung, kita menghadapi bahaya merebaknya informasi bersifat propagandis yang mengarahkan pada runtuhnya kebhinnekaan. Ada yang sifatnya melakukan adu domba. Ada juga yang berupa informasi pemahaman keagamaan keliru yang mengarahkan pada permusuhan antarkelompok berbeda pandangan. Tentu saja, ini tidak dapat dibenarkan karena mengancam kebhinnekaan.

Untunglah, BNPT hadir memberikan narasi-narasi penangkal (mafhum mukhalafah) propaganda-propaganda tersebut. Ia menghadirkan konten-konten deradikalisasi yang bersifat positif di dunia maya guna merawat takdir kebhinnekaan Indonesia. Maka, pada momentum ulang tahun yang ketujuh ini, tidak berlebihan apabila kita turut mengucapkan terimakasih atas hal-hal yang telah dilakukan selama ini. Karena, lewat upaya-upaya tersebut, BNPT secara tidak langsung telah turut merawat NKRI.

Komunitas Beradab

Dari narasi-narasi di atas, jelas bahwa BNPT meminjam istilah Jurgen Habermas, telah menjalankan peran dalam membangun komunitas beradab (bonum communae).

Komunitas beradab terbangun atas pengakuan keberadaan antarkelompok. Kelompok lain bukan liyan (laisa minni, bukan golonganku). Kelompok lain adalah saudara yang perlu dijaga martabat, hak, dan kewajibannya. Melalui pandangan itu, surga tak lagi menjadi milik mutlak kelompok tertentu. Melalui pemahaman tersebut perdamaian menjadi mantra abadi. Perdamaian dalam bingkai kesalehan sosial inilah merupakan prasyarat keberagamaan yang sehat. Keberagamaan yang sehat membutuhkan kontribusi umat dalam membangun harmoni kehidupan menuju peradaban utama.

Peradaban utama terbangun atas fitrah manusia sebagai makhluk berakal, yaitu mereka yang senantiasa mau berkomunikasi dan berbesar hati untuk menerima perbedaan. Meminjam istilah Din Syamsuddin, agama sejati ialah agama yang membawa pesan perdamaian. Bukan malah menjadi pemantik konflik tak berkesudahan.

Disinilah spirit BNPT dalam narasi-narasi deradikalisasi bermuara. Ia melawan narasi radikal dan terorisme guna merawat kebhinnekaan dan NKRI, hingga terbentuklah komunitas beradab warga negara Indonesia. Komunitas yang berdiri atas spirit sila Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang tak pernah lepas dari roh dan esensi agama. Semua menyatu dalam deru dan derap langkah membangun tatanan masyarakat beradab, masyarakat madani, qaryah thoyiibah, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur. Ini dilakukan dengan menilik kembali keunggulan-keunggulan beragama yang tidak didasarkan pada apologisme, namun berdasarkan praktik nyata keseharian umat (best practices).

Pada akhirnya, sebagai warga negara, kita perlu mendukung langkah BNPT dalam merawat kebhinnekaan dan keutuhan NKRI, guna membangun komunitas beradab di republik kita tercinta.  Caranya, mari kita bersama mewujudkan persatuan dalam keseharian kita. Menyebarkan konten-konten informasi positif saja. Dan, tidak menyebarkan konten-konten provokatif dan adu domba yang mengancam kebhinnekaan. Karena, tidak akan keindahan dalam kebhinnekaan kecuali dengan tumbuhnya persatuan dan hilangnya provokasi adu domba. Dengan begitu, secara tidak langsung kita juga telah turut merawat NKRI. Wallahu a’lam.

Facebook Comments