Mewujudkan Milenial Anti Hoaks

Mewujudkan Milenial Anti Hoaks

- in Suara Kita
124
2
Mewujudkan Milenial Anti Hoaks

Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang lebih banyak dibandingkan lima negara Asia lainnya yang memiliki produk domestik bruto (PDB) besar seperti China, Jepang, India, dan Korea. Negara-negara itu, kata dia, saat ini justru mulai memasuki fase aging population karena penduduk tuanya mulai mendominasi total jumlah penduduk. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan, penduduk usia muda yang besar yaitu 90 juta milenial (berusia 20-34 tahun), total fertility rate (angka kelahiran) 2,28 (per 1.000 orang per tahun), angka kematian anak 24 (per 1.000 kelahiran), angka harapan lama sekolah masih 12,72 tahun,

Jumlah generasi muda ini, harus memiliki pemikiran mengenai Indonesia merupakan negara yang dibangun antar perbedaan suku, agama dan kebudayaan. Sehingga ruang publik terbuka itu bertumpu pada toleransi antarbudaya serta interaksi keseharian. Akan tetapi, seiring dengan waktu, perlu ada pewarisan ingatan serta membentuk interaksi sosial yang lebih segar di antara anak muda. Generasi muda antar- etnis dan agama haruslah membangun interaksi yang lebih intensif untuk mencipta ruang publik yang lebih segar, selain interaksi berbasis komunikasi digital.

Ironinya survei Wahid Foundation menemukan sejumlah data yang dinilai cukup mengkhawatirkan. Dari total 1.520 responden, sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci. Kelompok yang dibenci meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan lainnya.

Baca juga : Santri Milenial: Mendakwahkan Toleransi di Media Sosial

Sedangkan penelitian lain yang dilakukan Wahid Foundation bahwa 306 siswa, yang tak setuju mengucapkan hari raya keagamaan orang lain seperti mengucapkan selamat natal 27%, ragu-ragu 28%. Siswa-siswi yang akan membalas tindakan perusakan rumah ibadah mereka sebanyak 15%, ragu-ragu 27%. Sementara mereka yang tak mau menjenguk teman beda agama yang sakit 3%, ragu-ragu 3%.

Secara umum, merujuk data ini, pandangan kaum pelajar di sekolah negeri di Jabodetabek memang terbuka dan toleran. Tapi, kecenderungan intoleransi dan radikalisme rupanya terus menguat. Riset Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang dipublikasi empat tahun lalu lebih mengkhawatirkan lagi.

Pandangan intoleransi dan islamis menguat di lingkungan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan pelajar.  Ini dibuktikan dengan dukungan mereka terhadap tindakan pelaku pengrusakan dan penyegelan rumah ibadah (guru 24,5%, siswa 41,1 %); pengrusakan rumah atau fasilitas anggota keagamaan yang dituding sesat (guru 22,7%, siswa 51,3 %); pengrusakan tempat hiburan malam (guru 28,1%, siswa 58,0 %); atau pembelaan dengan senjata terhadap umat Islam dari ancaman agama lain (guru 32,4%, siswa 43,3 %).

Terlebih keadaan generasi sekarang sangat mengawatirkan tatkala mereka tidak dikendalikan saat berselancar di dunia maya. Sebab di dunia maya merupakan kebebasan yang luar bisa di dapat. Kita bisa mengakses apapun untuk menambah informasi, begitu juga dengan anak-anak rasa ingin tahu cukup tinggi.

Dilansir VR-Zone, diketahui jika pada 2010 lalu, tercatat jika 37 persen dari jumlah total situs yang ada di internet merupakan situs yang berbasis pada konten pornografi. Data ini sendiri diambil dari penelitian yang dilakukan oleh perusahaan web filtering asal Swedia bernama Optenet.

Hasil tersebut diperoleh dari metode sampling yang mereka lakukan pada 4 juta web address yang tersebar di seluruh dunia. Untuk saat ini sendiri, dilaporkan Extreme Tech, situs tersebut menyimpulkan jika 30 persen dari semua trafik internet yang berjumlah 0,5 exabyte saat ini mengacu ke situs berbau pornografi.

Ini baru berupa situs dalam konteks pornografi, belum lagi situs-situ yang menyebarkan paham permusuhan antar sesama. Keberadaan kotens negatif dari hari ke hari buka berkurang, tetapi semakin besar. Kita bisa melihat pada 1998 ada 12 situs, kemudian berkembang pada 2003 situs kelompok teroris ini sudah mencapai 2.650. Pada 2014, angka itu meningkat tajam menjadi 9.800. Pada 2016 ini diperkirakan mereka akan mengelola lebih dari 15 ribu situs. Bagaimana tahun ini?

Semakin merebaknya situ-situ negatif bukan suatu hal yang dibiarkan oleh pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan dinas pemerintahan yang terkait, telah memblokir sebanyak 27 ribu situs yang memuat unsur radikalisme dan pornografi selama tahun 2017 ini. Sedangkan dalam situs yang dianggap radikal sudah dilakukan pemblokiran sudah dilakukan sejak 2010 hingga saat ini. Dan situ yang sudah diblokir mencapai 814.594 situs.

Melihat data di tas, kita diperlukan pendekatan multi dimensi dalam proses pembelajaran masyarakat agar terdidik secara digital, melek teknologi sekaligus cerdas, kreatif dan berbudaya. Di tengah sebaran informasi di media digital, maka kemampuan literasi digital menjadi sesuatu yang strategis.

Kemampuan mencari sumber informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, menjadi krusial di tengah percepatan teknologi digital saat ini. Kata kuncinya adalah kembali kepada pendidikan berkualitas, kurikulum yang tepat di sekolah sekolah serta edukasi menyeluruh yang harus dilakukan oleh segenap komponen bangsa untuk Indonesia yang lebih baik.

Facebook Comments