Mimbar Sebagai Media Persaudaraan

Mimbar Sebagai Media Persaudaraan

- in Suara Kita
745
0
Mimbar Sebagai Media Persaudaraan

Mimbar merupakan panggung kecil untuk berkhotbah atau pidato keagamaan. Di mana semua para pemuka agama dan pengikutnya saling berinteraksi satu sama lain. Dalam mimbar, seorang pemuka agama menyampaikan nilai-nilai ajaran agama agar terdengar secara jelas oleh penganutnya. Ironinya, beberapa pemuka agama menyalahgunankan mimbar sebagai alat propaganda serta memecah persaudaraan.

Penelitian yang dilakukan Wahid Institute terhadap 100 masjid yang ada di DKI Jakarta, mengindikasikan bahwa dari 100 masjid terdapat 40 yang terindikasi mengalami pemahaman radikalisme. Terlihat dari penyampaian ceramah yang dilakukan pada khotbah masjid dan kegiatan lainnya yang ada di masjid.

Ini terjadi dengan jumlah 100 masjid yang ada di DKI Jakarta, bagaimana dengan masjid yang ada di seluruh Indonesia yang memiliki jumlah masjid 800.000 masjid. Ini sungguh mengerikan bagaimana masjid memiliki peran terhadap terjadinya radikalisme yang ada. Pada dasarnya, masjid tidak tempat untuk ibadah semata, melainkan tempat di mana masyarakat bisa berkumpul semua tanpa melihat dari golongan mana. Dengan kata lain, masjid menjadi pusat peradaban dan kemajuan suatu masyarakat.

Pada zaman Rasullullah, masjid merupakan pusat pengembangan masyarakat di mana setiap hari masyarakat berjumpa dan mendengar arahan-arahan dari Rasul tentang berbagai hal. Prinsi-prinsip keberagaman, tentang sistem masyarakat baru, juga ayat-ayat alqur’an yang baru turun. Didalam masjid pula terjadi interaksi antar pemikiran dan antar karakter manusia. Azan yang dikumandangkan lima kali sekali sehari sangat efektif mempertemukan masyarakat dalam membangun kebersamaan.

Bersamaan dengan perkembangan zaman, terjadi akses-akses dimana bisnis dan urusan duniawi lebih dominan dalam pikran disbanding ibadah meski didalam masjid, dan hal ini memberikan inspirasi kepada Umar bin Khatab untuk membangun fasilitas di dekat masjid, dimana masjid lebih utama untuk hal-hal yang jelas makna ukhrawinya, sementara untuk berbicara tentang hal-hal yang lebih dimensi duniawi, umar membuat ruang khusus disamping masjid. Itulah asal usulnya sehinnga pada masa sejarah zaman klasik hingga sekarang, pasar dan sekolahan selalu ada masjidnya.

Menurut Suryo AB (Al-tasamuh-2003) mengatakan Diera kebangkitan umat saat ini. Fungsi dan peran masjid mulai diperhitungkan. Setidaknya ada empat fungsi dan peran masji dalam manjemen potensi umat; pertama, pusat pendidikan dan pelatihan. Saat sumber daya manusia menjadi salah satu ikon penting dari proses peletakan batu pertama pembangunan umat. Proses menuju kearah pemberdayaan umat dimulai dengan pendidikan dan pemberian pelatihan-pelatihan.

Kedua, Pusat perekonomian rakyat. Koperasi dikenal sebagai guru perekonomian rakyat Indonesia. Namun dalam kenyataannya justru koperasi menjadi barang yang tidak laku. Tterlepas dari berbagai macam alas an mengenai koperasi, tak ada salahnya bila masjid mengambil alih sebagai koperasi yang positif bagi umat.

Ketiga, pusat penjaringan bagi umat. Masjid dengan jama’ah yang selalu hadir sekedar untuk menggugurkan kewajibannya terhadap tuhan bisa saja mencapai puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang jumlahnya.

Keempat, pusat kepustakaan, perintah pertama Allah kepada Nabi Muhammad adalah “membaca” . dan sudah sepatutnya kaum muslimin gemar membaca, dalam pengertian konseptual maupun kontekstual. Saat ini sedikit kali dijumpai dari kalangan yang dikategorisasikan sebagai golongan menengah pada tataran intelektual.

Secara umum pengelolaan masjid kita masih memprihatinkan, apa kiranya solusibyang bisa dicoba untuk ditawarkan dalam mengaktualkan fungsi dan peran masjid diera modern. Hal ini selayaknya perlu kita pikirkan bersama agar masjid dapat menjadi sebtra aktivitas kehidupan umat kembali sebagai mana telah ditauladankan oleh Rasullullah saw bersama para sahabatnya.

Pada masa sekarang masjid semakin perlu untuk difungsikan, diperluaskan jangkaun aktifitas dan pelayanan nya serta ditangani dengan organisasi dan manajemen yang baik, tegasnya, perlu tindakan-tindakan mengaktualkan fungsi dan peran masjid dengan member warna dan nafas modern. Pengertian masjid sebagai tempat ibadah dan pusat kebudayaan islam telah memberi warna tersendiri bagi umat Islam modern. Tidaklah mengherankan bila suatu saat, Insya Allah, kita jumpai masjid yang dikelola dengan baik, terawatt kebersihannya, kesehatan dan keindahannya. Terorganisir dengan manjemen yang baik serta memiliki tempat pelayanan social seperti: poliklinik, TPA, Sekolah, madrasah diniyah, majelis ta’lim, dan lain sebagainya.

Facebook Comments