Noor Huda Ismail : Jadi Teroris itu (Bisa) Hanya karena Ingin Berubah Baik, Tetapi Salah Pilih Guru!

Noor Huda Ismail : Jadi Teroris itu (Bisa) Hanya karena Ingin Berubah Baik, Tetapi Salah Pilih Guru!

- in Wawancara
466
0
Noor Huda Ismail : Jadi Teroris itu (Bisa) Hanya karena Ingin Berubah Baik, Tetapi Salah Pilih Guru!

Pada tanggal 14 Agustus 2023 masyarakat dikejutkan dengan penangkapan seorang tersangka teroris, inisial DE, di wilayah Bekasi, Jawa Barat. DE (28) diketahui ternyata seorang karyawan PT KAI. Bahkan, sebelum masuk ke BUMN tersebut, menurut keterangan Densus 88, yang bersangkutan telah berbaiat ke ISIS dan tergabung dengan Mujahidin Indonsia Barat (MIB).

Adanya penangkapan tersebut mengindikasikan bahaya radikalisme dan terorisme telah benar-benar masuk hingga jantung pemerintahan dan berada nyaman di tengah masyarakat. Apakah ada perubahan pola strategi kelompok teror dengan masuk lembaga pemerintahan?

Dalam kesempatan ini redaksi Pusat Media Damai (PMD), Reza, mewawancarai Noor Huda Ismail, pengamat terorisme sekaligus pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian.

Reza: Siapakah sebenarnya DE dan bagaimana awalnya dapat menyatakan baiat terhadap ISIS?

Noor Huda : Sejak 2010, Danan (DE) telah bergabung di kajiannya William Maksum. Tahun 2013, sejak kelompok MIB banyak ditangkap, Danan geser ke ISIS dan ikut bai’at sejak 2014. Tahun 2016 bergabung bersama KAI, tapi aktif di sosial media melakukan kampanye ISIS. Tahun 2018 saat rusuh, dia juga ikut monitoring bahkan dalam beberapa tahun belakang dia aktif kampanye ISIS di Facebook, galang dana di Telegram dan sebar propaganda untuk lawan pemerintah. Tapi KAI seolah benar-benar tidak sadar ada pegawainya yang sudah terlibat jauh dengan jaringan teror. Dia dapat akses senjata dan berhasil koleksi 16 pucuk untuk dipakai amaliyah menjelang Pilpres 2024 nanti.

Reza: Ini kan tersangka DE ini juga ya warga sipil ya, yang seharusnya tidak punya akses ke persenjataan seperti itu. Apakah ada dugaan awal keterlibatan pihak lain?

Noor Huda: Iya kan ini permasalahnya masalah korupsi itu, ketertarikan para aparat yang punya akses senjata. Dengan tergiur duit itu, mau dapat duit, “asal lu ada duit, gue kasih itu amunisinya” gitu.

Ya itu kalau kita mau niat nyari, itu barang pasti ada. Kita tanya terus, ada, dan sering kali itu tidak terkait langsung dengan ideologi. Tampaknya yang tertangkap polisi kemarin itu lebih ke arah ekonomi, “ya udah lu ada duit gue ada barang,” as simple as that sebetulnya. Jadi artinya memang harus di apa ya ada aspek di internal keamanannya dari pihak aparat yang punya akses senjata, sama akses peluru.

Reza: Berarti memang secara pengawasan dan regulasi ya kita masih lemah ya untuk persenjataan?

Noor Huda: Sebetulnya (memang) perlu ditingkatkan di level itu, ini kan permasalahan klasik. Apa yang terjadi di Papua juga begitu. Apa yang terjadi dulu juga begitu. Lho yang bikin senjata itu kan siapa, yang bikin ini (senjata) kan aparat, yang kalau bisa bocor kan jadi aparatnya, keluarga kita gak bisa, yang kemarin kan terbukti akhirnya, oknum lah.

Reza: Untuk tersangka DE sendiri ya pengembangan kasus terakhir ini kan diketahui bahwa dia bukan orang yang tertutup ya, tapi justru orang yang aktif di masyarakat dan dikenal ramah oleh lingkungan. Jadi maksudnya di luar stereotype yang kita tahu lah bahwa teroris ini penyendiri

Noor Huda: Kalau kita fokus ke stereotype seperti itu akan menjadi masalah, karena kemudian sering meleset, karena memang gak ada stereotype ciri-ciri teroris. Yang bisa kita pahami itu adalah proses orang bergabungnya, itu satu. Nah dan kemudian apa dampak ketika orang bergabung, itu yang paling penting.

Ini menjadi perkembangan menarik apabila si orang ini ditemukan di masyarakatnya kan terutama kalau dari kelompok JI kita tahu, salah satu doktrin mereka itu kan namanya tamkin. Tamkin itu ya artinya tidak perlu harus merubah sistem negara, tapi cukup mempengaruhi. Jadi, kalau lihat dari aku kan udah wawancara beberapa orang JI, itu malah justru mereka menjadi, dalam tanda petik, tokoh masyarakat.

Yang terakhir ditangkap di Semarang, itu dia menjadi ketua RT di tempat walikota Semarang. Jadi, di kota penangkapannya dia menjadi ketua RT sudah berapa lama, dan ketika di situ dia menyelesaikan permasalahan RT yang ada, yaitu tentang pendidikan anak-anak belajar ngaji, tapi dia mempunyai posisi di dalam JI, dan JI itu akan selalu begitu. Memang dia akan membaur sama masyarakat.

Nah, ini yang menarik adalah apabila dia itu JAD yang mendukung ISIS, dia mendukung ISIS tetapi memakai pola santun ala JI. Jadi bacaan kita terhadap orang-orang JAD yang biasanya, kalau lo ke penjara, orang-orang mendukung JAD itu kelihatan, pakai cingkrang lah, pakai baju khusus lah, nggak mau kasih salam sama pegawai penjara, gak mau makanan penjara. Nah, tapi ini (JAD) berbaur, artinya kan ada pergeseran dari pola bergeraknya pendukung ISIS pun sudah mengikuti JI dan menjadi mainstream. Kalau bahasa Inggrisnya sebetulnya headline yang lu bisa pakai itu adalah Going Mainstream, bagaimana radikalisme itu Going Mainstream. Apa ya penulisan bahasa Indonesia biasanya, mereka menjadi mainstream, ya masyarakat biasa, masalahnya kan di situ.

Reza: Jadi percuma juga apa ya, istilahnya mencirikan teroris dengan stereotype bahwa ia penyendiri, ini tidak bergaul dengan lingkungan, dan segala macem itu karena juga sebenarnya dinamis ya?

Noor Huda: Ya itu makanya, kalau kita fokusnya ke ciri ya agak repot, pasti akan lepas-lepas, dan seringkali yang dicirikan cingkrang, banyak yang cingkrang tapi mereka enggak (terlibat kelompok radikal), yang cadar tapi mereka juga enggak, kita akan repot kalau gitu.

Harus memang, kalau menurut saya yang dipahami perlu itu namanya jaringan sosial. Kan dia sudah ketahuan jaringan sosialnya, ngajinya dengan orang-orang yang pro-ISIS, ya William Maksum,. Memang jaringan ini yang kita pahami itu adalah individu dan jaringannya, dan jaringan sosial. Tahu jaringan sosial itu? Ya kayak pertemanan, sekolahnya, bahkan saudaranya, itu kan itu yang sangat terpengaruh itu jaringan sosial, bukan ideologinya.

Ideologi itu bekerja dengan baik apabila orang itu sudah masuk ke jaringan, tapi alasan bergabung sering kali, alasannya itu misalnya dia sudah dari keluarga itu, atau ikut kajian yang sama, atau diajak teman, ini yang harus kita pahami.

Kalau di kasus DE ini memang dia memang orang yang niat, jadi ada orang niat untuk memperbaiki hidupnya, tapi ngajinya salah, plus kemudian ketertarikan untuk pembelahan umat Islam yang tertindas yang difasilitasi oleh media sosial itu, ya internet lah. Dulu kan kalau orang harus gabung kelompok ini kan harus datang ke wilayah konflik, sekarang kan proses apa tergetarnya emosi itu tidak perlu harus datang ke konflik, tetapi cukup dengan lihat video-video pertempuran, umat islam di bantai, kira-kira kaya gitu.

Reza: Dan DE ini melalui itu semua, gitu ya?

Noor Huda: Tapi dia ada kombinasi, online sama offline. Mungkin kenanya pertama kali itu online, tapi terus kemudian kan ketika masa ISIS berjaya, itu kan ada kajian-kajian majelis taklim – majelis taklim ya memang para pendukung ISIS, salah satunya kan William Maksum itu yang di Bandung itu.

Reza: Berarti juga memang harus disorot juga ya, tidak kalah penting bawa jaringan sosial dan arus orang keluar masuk, dari siapa dia ya mungkin awalnya teman gitu ya?

Noor Huda: Nah, makanya kan sebetulnya kalau ada kejadian kaya seperti ini, teroris ditangkap gitu, kita cara angle pembahasannya itu jangan murni hanya karena ideologinya, tapi proses masuknya itu kaya gimana sih? Karena ada proses, kan kita tahu orang jadi, nggak ada orang terlahir sebagai teroris, tapi ada proses bergabung, ya itu paling penting ini proses bergabung ini. Sampai detailnya lewat mana dulu, apakah lewat online dulu, apakah offline, ataukah online-offline? Jadi kita mulai tahu nih proses masuknya, lewat pintu masuk mana ini, ini harus paham se detail-detailnya.

Terus kemudian bagaimana dia kok bisa masuk ke lembaga negara, apakah karena proses screening-nya kurang oke selama ini, gitu. Screening orang masuk itu gimana, atau kemudian kalau ketika sudah ada masuk, perlu nggak misalnya penguatan dari sisi apa itu namanya, ke NKRI-an lah di kalangan pegawai-pegawai BUMN ini ditekankan lagi, kira-kira kaya gitu.

Karena kan teroris, ideologi itu kan gak kelihatan. Misalnya lu pilih Anies Baswedan, atau pilih Ganjar, atau pilih Prabowo, orang nggak tahu apa yang dipilih. Kalau ketahuan, lu sudah mulai nyoblos, orang ketahuan lu pilih apa. Kalau lu pake kaosnya Ganjar atau simbol-simbol itu kan bisa ketahuan, itu pun belum tentu lu pilih nanti itu, sama persis (dengan orang yang berpaham radikal).

Reza: Barangkali ada ya mungkin closing statement ya untuk kan ini ternyata juga fokusnya harusnya lebih nyorotin ke jaringan pertemanan ini pak, dibanding ya (ideologi). Ini untuk pembaca kita ya dan mungkin aparat-aparat ya, silahkan.

Noor Huda: Oke kalau aku sih closing statement-nya sederhana aja, ideologi memang berperan penting, tapi itu tidak jadi yang utama, dan alasan orang masuk itu beragam, dan salah satunya bisa jadi karena ingin memperbaiki diri gitu. Aku nggak tahu harus memperbaiki diri, kayak aku yakin ini orang ini ingin memperbaiki diri, misalnya apakah dulunya dia preman dan ingin bertobat, apakah dia ingin mengetahui Islam, tapi ngajinya salah, gitu lho bos. Jadi kan untuk ke depan itu kalau harus ngaji ya, jangan satu ustad, mulai curiga terhadap kajian-kajian yang mulai menyalahkan orang lain, yang kemudian melawan negara, itu kan bukan jenis keislaman yang harus dirayakan bos.

Facebook Comments