Munir Kartono : Dulu Saya Menganggap Indonesia ini Negara Thagut!

Munir Kartono : Dulu Saya Menganggap Indonesia ini Negara Thagut!

- in Wawancara
0
0
Munir Kartono : Dulu Saya Menganggap Indonesia ini Negara Thagut!

Deradikalisasi adalah program yang dilaksanakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terhadap narapidana terorisme, mantan narapidana teroris dan mereka yang terpapar paham radikal terorisme. Program ini bertujuan untuk membua mata hati mereka yang akhirnya mengalami transformasi ideologi dari paham kekerasan ke arah pemahaman yang moderat, toleran dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Bagaimana proses itu terjadi?

Redaktur Pusat Media Damai (PMD) BNPT berkesempatan mewawancarai mantan napiter, Munir Kartono yang pernah menjalani tahanan dalam kasus bom Mapolresta Solo.

Reza: Barangkali bisa diceritakan lebih dulu Pak, terkait pengalamannya mengikuti proses deradikalisasi Pak? Silahkan Pak.

Munir: Untuk proses deradikalisasi saya ya, yang saya alami itu kan sebuah rangkaian proses panjang ya. sebetulnya proses deradikalisasi itu sudah dimulai sejak masih di rutan. Jadi di rutan itu ya proses deradikalisasi pertama itu yang dimulainya itu kan proses dialog diskusi gitu kan, brainstorming.

Yang pertama pasti yang dilakukan itu pertama saya dari Densus ya, karena pada saat itu kan masih di rutan Densus juga yang ngajak membawa beberapa pihak seperti dari BNPT juga, dari akademisi dan tokoh-tokoh agama. Mengadakan diskusi, memberikan pencerahan atau pendapat yang berbeda lah. Pada akhirnya mengasih insight ke kita ada pendapat yang lain seperti apa yang dulu saya pendapat yang kita pahami.

Proses itu kemudian berlanjut pada, kemudian dilapas. Dilapas itu kan makin banyak lagi gitu kan namanya, pihak-pihak yang ikut serta melakukan pembinaan terhadap saya karena hatinya kan ya selain BNPT ada dari Ditjenpas ya, dan itu pamong-pamong lapas ikut membina saya, melakukan pembinaan-pembinaan yang berusaha untuk memberikan saya pemahaman yang lebih luas gitu kan. Tidak hanya seperti apa yang saya pahami.

Sampai kemudian ya, bisa dibilang kawah Candradimuka nya itu pada saat saya masuk di pusat deradikalisasi BNPT. Itu pembinaannya saya bilang komprehensif, sangat komprehensif. Karena di situ ya, proses deradikalisasi saya dibina dari dari sisi keagamaan, kemudian wawasan kebangsaan, sampai psikologinya juga. Jadi benar-benar komprehensif apalagi di sana melibatkan banyak pihak, akademisi-akademisi yang yang saya bilang ya, sangat, bukan hanya berpengalaman, tapi juga berwawasan sangat luas. Dari situlah kemudian ya, akhirnya ya saya tidak gamang lagi, bahwa “oh apa yang saya pendapat saya adalah pendapat yang keliru.”

Karena ternyata dari berbagai pihak yang secara keilmuan lebih mumpuni dari saya, mereka lebih apa ya, ternyata pendapat saya yang salah ya, akhirnya saya merubah pemikiran saya yang dulu radikal menjadi apa yang sekarang saya pahami.

Reza: Oke baik pak. Kalau boleh bisa gak sih pak, disebutkan secara lebih spesifik? Barangkali ada satu atau beberapa poin yang menjadi titik balik seorang pak Munir, dari yang tadinya ya bapak bilang sendiri radikal ya, sampai menjadi pro terhadap Pancasila dan NKRI ini pak, dan sistem demokrasinya? Silahkan pak.

Munir: Ya pertama yang pada saat pembinaan di Pusderad itu, ada dua pembinaan utama yang saya membuat saya berubah ya. Yang pertama pembinaan keagamaan, yang kedua ya wawasan kebangsaan. Dulu saya berfikir bahwa ya negara ini adalah negara yang tidak menjalankan syariat Islam. Akhirnya karena tidak menjalankan syariat Islam, bahwa negara ini adalah negara thogut, negara yang tidak berhukum pada hukum Allah.

Tapi ternyata pada saat kemudian di situ, pada saat pembinaan saya diberikan pemahaman tentang maqashid syariah, kemudian pemahaman juga tentang sejarah kebangsaan kita bagaimana, peran ulama-ulama dalam kemerdekaan Indonesia bagaimana, sampai pada saat peran-peran semua golongan masyarakat di Indonesia ini untuk mewujudkan negara Indonesia bagaimana.

Akhirnya kan ya dari situ kemudian saya memahami bahwa, oh ternyata Indonesia itu bukan negara thogut, karena pada saat di situ dipahami tentang, oh kalau saya diberi pemahaman tentang maqashid syariah itu ternyata bahwa hukum-hukum Islam juga digunakan dalam dalam sistem hukum di Indonesia. Itu yang akhirnya membuat saya merasa bahwa apa yang saya pahami itu salah kemudian menjadi titik balik bagi saya untuk kembali ke pangkuan NKRI.

Reza: Nah belum lama ini kan juga ada kejadian nih pak ya. Seperti yang kita tahu eks atau mantan pentolan dari kelompok JI yang bernama Abu Bakar Baasyir ini kan, dia mendeklarasikan dukungannya terhadap pemilu di Indonesia, bahkan sudah, yang baru-baru ini kita tahu, sudah menyatakan dukungannya terhadap salah satu calon, tidak kita sebutkan nama calonnya.

Apakah hal yang dilakukan Abu Bakar Baasyir ini, memberikan atau bisa memberikan dampak positif nih pak, terhadap ya mungkin rekan-rekan yang masih, dalam tanda petik merah gitu loh, pemahamannya terhadap kebangsaan? Silahkan Pak.

Munir: Saya juga membaca ya, membaca berita tentang dukungan Abu Bakar Baasyir terhadap salah satu paslon itu. Secara pribadi ya, saya nggak mau pesimis gitu ya, nggak mau pesinis bahwa ini langkah yang buruk atau bagaimana, atau hanya akal-akalan. Tapi ya saya positive thinking dan optimis gitu, bahwa mungkin ini adalah salah satu perubahan yang di alami oleh Abu Bakar Baasyir gitu kan, yang dari dulunya anti NKRI, kemudian sekarang berubah gitu kan. Tapi kan ya pasti dengan harapan-harapan tertentu gitu kan, yang ada dalam pikiran dia. Itu cuma jadi catatan aja lah buat saya.

Tapi apakah kemudian itu akan menjadi sebuah, ada, ada apa ya, ada sisi positif ya, terhadap mantan-mantan atau mungkin para mantan-mantan narapidana yang teroris dengan masih merah, ataupun para pendukungnya, ya satu sisi, iya gitu kan. Karena bagaimanapun Abu Bakar Baasyir itu salah satu tokoh dan ditokohkan dalam kelompok radikal. Tapi saya juga nggak bisa lupa bahwa di dalam kelompok radikal itu pula ada banyak-banyak faksi gitu kan, ada yang bisa, bisa jadi dia mau ikuti apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Baasyir, tapi bisa jadi ya betul ada yang bersikap sebaliknya, mengatakan bahwa Abu Bakar Baasyir ya mungkin benar-benar bisa dibilang dikatakan seperti yang dikatakan pada saya, Abu Bakar Baasyir sudah murtad. Ada, ada kemungkinan seperti itu.

Reza: Ya oke baik pak. Nah ini andaikata nih pak, terjadi potensi segregasi atau pemecahan kelompok masyarakat ya, menggunakan sentimen-sentimen keagamaan ya. Misalnya ya, sebenernya contoh paling gampang itu di Pilkada DKI 2017 lalu lah ya, “yang milih ini nanti jenazahnya nggak kita solatin lah” gitu, atau “yang milih ini, wah dia pro-kafir nih,” “yang milih ini, ini sudah sesuai ijtima ulama” misalnya.

Nah ini kalau dari Pak Munir sendiri, kira-kira melihatnya seperti apa nih langkah antisipasinya nih, supaya masyarakat kita tidak gampang dipecah belah? Silahkan Pak.

Munir: Yang jelas gini, bahwa sekarang ya kalau saya untuk antisipasi, bahwa yang perlu banyak diperhatikan terutama ya dari pimpinan tokoh masyarakat, tokoh agama. Ini kan harus memberikan sebuah pencerahan, sebuah pengetahuan mereka tentang tentang politik, tentang kemudian juga tentang pemahaman ajaran-ajaran Islam gitu kan. Jangan sampai seolah-olah kalau memilih si A auto kafir, memilih si B, kita harus memilih si B. Kalau memilih si A, dia misalkan non-Islam, maka akan jadi kafir, atau seperti apa gitu kan.

Ya itu harus diberikan kepada masyarakat, harus diberikan pemahaman bahwa tidak seperti itu tafsir-tafsir agamanya, termasuk juga kan mungkin seperti orang-orang juga yang seperti saya, kami pun punya tanggung jawab kepada masyarakat untuk menjelaskan bahwa, ini adalah proses politik untuk untuk Indonesia. Bukan soal tentang permasalahan agama. Jadi kalau misalkan ini dibawa ke ranah agama, ini akan berbahaya bagi persatuan Indonesia.

Kalau misalkan dan pasti ya segregasi itu kan tentu sebetulnya kan kekhawatiran yang sangat dalam gitu kan, bagaimana kita sudah bersatu dalam Indonesia dengan segala perbedaan keragamannya itu, dan itu sebenarnya kan sudah dicontohkan oleh orang-orang tua kita dulu yang nggak jadi masalah gitu kan dulu aja, itu kenapa sekarang jadi masalah gitu kan?

Makanya kita harus bisa membangkitkan kembali juga, memori-memori kita, ke bagaimana sih dulu bapak-bapak kita, para founding fathers gitu kan. Yang berbeda-beda itu bisa bersatu untuk Indonesia, bukan bisa malah mengklaim-klaim, kalau milih si A, kafir, kalau milih si B, murtad, bukan seperti itu kan. Itu harus mulai dikampanyekan dan dicontohkan dari atas ke bawah. Karena sebenarnya kan masalah segregasi itu selalu berada di akar rumputnya. Kalau yang, kalau tidak dimulai memberikan contoh, memberikan arahan dari atas, tidak bisa.

Reza: Nah ini barangkali pertanyaan terakhir nih Pak Munir. Jika ada kata-kata penutup atau kalimat pesan yang, atau harapan bisa disampaikan kepada kita-kita warga Indonesia, yang harapannya tidak termakan arus segregasi nih Pak? Silahkan Pak, harapan yang bisa disampaikan pak.

Munir: Harapan saya, bahwa tentu pemilu ini akan menjadi apa ya, membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, gitu kan, lebih positif gitu kan. Tapi yang perlu diingat bahwa pemilu ini bukan masalah menjadi muslim atau akhirnya menjadi kafir gitu. Jangan berbicara bahwa akhirnya pemilu itu untuk pembuktian keislaman atau kekafiran seseorang. Ini tidak ada kaitannya antara pemilu dengan kekafiran, sehingga siapapun yang terpilih nanti tidak akan berpengaruh kepada status keislaman seseorang, mungkin seperti itu.

Selain itu ya, harapan saya semoga kita bisa menjaga kondisi Indonesia dalam konstelasi politik yang sekarang ini mulai panas, agar Indonesia tetap damai tetap rukun, meskipun kita berbeda-beda pilihan, mungkin itu aja mas.

Facebook Comments