Dr. Suab Tahir : Maulud Melestarikan Semangat Cinta Nabi dan Cinta Kemanusiaan

Dr. Suab Tahir : Maulud Melestarikan Semangat Cinta Nabi dan Cinta Kemanusiaan

- in Wawancara
343
0
Dr. Suab Tahir : Maulud Melestarikan Semangat Cinta Nabi dan Cinta Kemanusiaan

Kelahiran Nabi Muhammad pada 12 Rabiul Awal diperingati oleh umat Islam di berbagai negara dengan antusias dan meriah dalam berbagai kegiatan. Di Indonesia, perayaan itu diperingati dengan berbagai cara, termasuk dalam bentuk akulturasi budaya antara Islam dengan tradisi lokal. Peringatan ini merupakan ekspresi kecintaan umat kepada sosok Nabi Muhammad yang begitu besar.

Namun, tentu masih ada sekelompok orang yang gemar menyalahkan dan membid’ahkan peringatan ini karena dianggap bukan ajaran Nabi. Mereka mengklaim peringatan Maulid Nabi sebagai bentuk kemungkaran, kekufuran, bahkan sesat.

Pusat Media Damai BNPT berkesempatan mewawancarai, Dr. Muh. Suaib Tahir, Lc., MA.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Dakwah wal Irsyad (PB DDI), lulusan Universitas Islam Omdurman Sudan dan Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ) Jakarta.

Reza: Apa sebenarnya Makna perayaan Maulid Nabi dan kenapa masih ada kelompok yang mengatakan ini Bid’ah?

Dr. Suaib: Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah. Kita sudah berada di bulan Rabiul Awal ya. Di mana umat Islam senang piasa merayakan hari kelahiran Nabi besar kita, Muhammad SAW.. Sebenarnya perayaan Maulid Nabi ini, banyak orang yang mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi ya. Sehingga ada yang mengatakan bahwa itu adalah bid’ah dan tidak layak untuk dilakukan oleh umat Islam. Tetapi sesungguhnya hal yang seperti ini sebenarnya menurut kami itu ada semacam kekeliruan. Kenapa? Karena tidak semua yang kita lakukan itu harus ada perintahnya.

Salah satu contoh misalkan ketika kita mencium tangan orang tua, apakah itu sesuatu yang baik atau tidak baik? Kita kan hanya diperintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua. Tapi kita juga kan tidak diperintahkan untuk duduk bersimpuh di depannya mencium tangannya dan mencium kakinya. Tetapi perbuatan itu adalah sesuatu yang baik dan disepakati oleh semua orang bahwa itu adalah sesuatu yang baik.

Begitu juga perayaan Nabi, bahwa perayaan Nabi itu merupakan sebuah penghormatan kepada Rasulullah SAW.. Artinya kita menghormati, kita gembira, kita senang, kita berbahagia karena tiba waktu kelahiran Nabi. Dan ini sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kita terhadap Rasulullah SAW..

Apa yang paling penting dari peringatan Maulid Nabi itu? Di dalam acara-acara peringatan Maulid Nabi itu kan kita selalu bercerita tentang kisah-kisah Nabi. Tentang bagaimana Rasulullah SAW.. bagaimana sikapnya terhadap orang lain. Baik sesama keluarganya maupun terhadap orang lain, maupun terhadap tetangganya dan juga kepada non-muslim atau yang lain sebagainya. Itu kan sebuah sikap-sikap yang diceritakan dalam setiap peringatan Maulid.

Apalagi kalau orang yang membaca namanya barzanji ketika merayakan Maulid. Itu kan semua bercerita tentang bagaimana sikap Rasulullah SAW.. Dan itu adalah sesuatu yang patut dicontoh. Apalagi memang kan Nabi adalah uswatun hasanah adalah ikutan yang baik. Oleh karena nya merupakan sesuatu yang sangat positif dan sangat baik, apabila kita merayakan peringatan Maulid karena kita bisa mengambil manfaat dari situ. Dan paling tidak mengingatkan kita kembali tentang pribadi Rasulullah SAW.. supaya kita bisa mengikuti. Karena sesuatu itu bagaimanapun harus diulang-ulangi. Karena kalau hanya sekali mungkin orang lupa. Tetapi kalau setiap kali kita rayakan berarti kita akan ingat terus.

Reza: Nah ini kan banyak yang memaknai kalau perayaan Maulid atau hari lahirnya Nabi Muhammad ini adalah akhir dari zaman jahiliyah. Tapi di masa sekarang bisa kita temukan masih banyak keburukan-keburukan di sekitar kita. Apakah kita bisa mengatakan dengan percaya diri bahwa kita ini sekarang sudah terbebas dari kejahiliyahan?

Dr. Suaib: Memang istilah jahiliyah itu dinisbatkan kepada bangsa arab sebelum Nabi lahir, sebelum Nabi datang. Pertanyaannya, jahiliyah ini kan artinya bodoh. Apakah kejahiliyahan orang itu seperti kejahiliyahan yang umumnya kita ketahui? Tentu tidak. Tapi ada hal-hal yang memang dikategorikan oleh agama Islam sebagai perbuatan yang jahil (bodoh). Jadi misalkan di zaman sebelum Rasulullah hadir, masalah hak-hak perempuan itu tidak dipertimbangkan. Artinya perempuan tidak menduduki posisi yang baik dalam budaya dan tradisi orang Arab. Begitu juga masalah aturan-aturan sosial, misalkan pernikahan. Aturan-aturan pernikahan itu banyak dan kalau kita telusuri itu sebenarnya melanggar hak asasi manusia.

Belum lagi misalkan masalah ekonomi atau perdagangan, di mana terjadi kecurangan-kecurangan yang terjadi di kalangan pedagang-pedagang. Begitu juga masalah fanatisme, di mana orang hanya menganggap yang paling baik dan paling mulia itu adalah keluarganya dan turunannya dan kaumnya. Sehingga antara satu dengan yang lain kalau terjadi sesuatu maka penyelesaiannya adalah perang.

Itu semua adalah fenomena yang ada sebelum Rasulullah SAW sehingga kita mengistilahkan bahwa itu adalah masa atau era jahiliyah. Karena prinsipnya bahwa tidak menghormati hak asasi manusia dan juga nilai-nilai yang dikandung di dalam kehidupan manusia itu termasuk di dalam beribadah kepada Tuhan. Artinya orang pada saat itu masih fokus menyembah hal-hal yang sifatnya tidak memberikan manfaat bagi kehidupan orang itu sendiri.

Pertanyaannya apakah dengan kehadiran Rasulullah SAW maka berakhirlah masa jahiliyah itu? Memang tidak dipungkiri bahwa Rasulullah SAW setelah dia lahir dan setelah dia diutus umat Islam bangkit lalu kemudian membentuk sebuah peradaban yang cukup maju.

Bahkan dikenal pada abad-abad pertengahan sebagai sebuah peradaban yang paling maju di dunia dengan ilmu pengetahuan dan lain-lain sebagainya, ekonomi yang cukup menarik perhatian orang-orang di luar dari Arab. Islam memang datang dengan memberikan satu loncatan baru dalam sejarah peradaban manusia. Tetapi ada satu hal yang kita harus ikuti, kita harus tahu bahwa yang namanya buruk baik itu, itu kan merupakan juga sunnatullah. Artinya itu tidak bisa lepas. Di zaman Rasulullah juga kan masih terjadi penipuan, di zaman Rasulullah juga terjadi pembunuhan, di zaman Rasulullah masih ada prostitusi, di zaman Rasulullah juga masih ada perampokan, fanatisme juga masih ada saja, tetapi paling tidak sudah ada pedoman yang dibawa oleh Rasulullah untuk menjadi penuntun bagi orang-orang yang ingin mengikuti itu.

Tetapi untuk menghapuskan semua itu saya pikir itu adalah sesuatu yang mustahil. Karena kalau tidak ada kejahatan, maka susah orang untuk melakukan kebaikan, jadi itu pasti harus selalu ada, yang baik pasti ada yang buruk. Jadi kalau kita mengatakan bahwa kehadiran Rasulullah maka itu akan berakhir lah masalah kejahilian atau tidak akan ada lagi kemungkaran atau kebatilan, saya pikir itu adalah sesuatu yang mustahil.

Karena memang manusia ini diciptakan, diberikan petunjuk untuk bagaimana bisa mengikuti petunjuk itu. Supaya tidak tergelincir ke situ, artinya bahwa selalu saja ada godaan setan. Karena kalau tidak ada godaan setan, tidak ada godaan iblis, nanti orang hanya kerjanya ibadah saja. Nanti orang kerjanya cuma puasa saja. Nanti orang tidak ada lagi yang mau berdagang karena semua mencari akhirat. Jadi ada hikmah di balik bahwa hal-hal yang begini selalu ada. Karena paling tidak untuk membuat orang lebih hati-hati supaya tidak terjerumus ke dalam situ.

Reza: Ini kan Maulid Nabi juga sebetulnya akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Nusantara, banyak akulturasi di situ. Harapan dari Doktor Suaib Tahir untuk supaya dalam Maulid Nabi ini kita bisa menjiwai dalam memelihara keberagaman kita sebagai bangsa Indonesia?

Dr. Suaib: Sebenarnya kalau kita berbicara masalah Maulid Nabi, sebenarnya bukan di Indonesia saja. Di masjid itu, kalau bulan Maulid itu, orang satu bulan sebelum Maulid itu sudah ramai di masjid-masjid itu. Orang sudah bikin tenda-tenda itu, menyelenggarakan bazar-bazar untuk menyambut tanggal 12 Rabiul Awal. Sudah ramai itu lampu-lampu di pinggir jalan, dibikin tenda-tenda, bikin bazar-bazar, menyambut hari lahirnya Rasulullah.

Begitu juga kalau kita ke negara-negara Afrika lainnya, seperti Sudan, Algeria, Maroko dan lain sebagainya. Mereka itu dalam menyambut Maulid Nabi itu sangat antusias, sangat sekali antusias. Kalau dibanding dengan Indonesia, kalau kita di Indonesia ini kan biasanya lebih formal. Diadakan di masjid, secara ada ceramah, ada ini dan lain sebagainya. Tapi juga itu merayakan Maulid. Jadi masalah Maulid ini bukan saja di Indonesia tetapi juga di negara-negara Arab, di Afrika Utara, itu normal dan itu orang sangat menanti-nanti bulan itu untuk merayakan Maulid Nabi. Bahkan mereka melakukan bazar dan lain sebagainya, jual kue-kue, berbagai macam jenis kue itu dikeluarkan semua, dipamerkan di situ jualan dalam rangka Maulid itu.

Kalau kita di sini kan masih sebatas perayaan di rumah atau di masjid-masjid. Jadi setiap negara punya budaya tersendiri di dalam merayakan Maulid. Tetapi begini, apa yang kita bisa dapat dari perayaan Maulid itu adalah menjamin atau mempererat silaturahmi antara kita dengan sesama kita. Sebenarnya intinya di situ. Bukan bahwa kita menghambur-hamburkan uang, berfoya-foya, bukan. Tetapi ada nilai di situ, di mana pada peringatan Maulid itu, kita bisa bersilaturahmi antara sesama kita. Kadang kita misalkan dengan tetangga, kan di kampung dengan tetangga, lama nggak ketemu, lama nggak berjumpa, kan. Tetapi karena kita sama-sama menghadiri Maulid Nabi, kita bisa bertemu, kita bisa berjumpa.

Jadi nilai utama yang ada di situ adalah mempererat silaturahmi antara satu dengan yang lain, terutama darah kaum muslim. Nah, ini penting bagi kita supaya bagaimana memaknakan urgensi silaturahmi itu sendiri. Karena kalau silaturahmi antara kita sudah tidak ada, itu akan menimbulkan hal-hal yang negatif, misalkan individualisme. Kita sudah tidak mau lagi mengetahui apa yang dialami teman kita, apa yang dialami oleh saudara kita, apa yang dialami oleh tetangga kita, gitu kan.

Tapi kalau rasa ini silaturahmi ini kuat dalam diri seseorang, kan, itu kan bukan saja berdampak pada orang itu sendiri tapi juga kepada orang lain dan orang yang ada di sekitarnya. Termasuk mereka yang tidak seiman dengan kita, gitu kan. Saya misalkan suka bersilaturahmi ke teman ini-teman ini. Tentu rasa sayang saya atau rasa hormat saya itu juga lahir bukan saja kepada orang itu tapi juga sesama saya sebagai umat manusia, kan ya. Jadi memperingati maulid, hal yang paling penting adalah memperoleh silaturrahmi antara kita dengan yang lain.

Facebook Comments