Pemuda, Hijrah dan Semangat Kebangsaan

Pemuda, Hijrah dan Semangat Kebangsaan

- in Editorial
878
0

Meninggalkan keburukan menuju kebaikan, itulah esensi hijrah. Hijrah bukan pelarian dari seorang pengecut, tetapi pilihan sadar untuk menghindari konflik, permusuhan, ancaman dan menyelematkan komunitas dalam jangka panjang. Barangkali itulah yang melatarbelakangi hijrah Nabi yang diperintahkan oleh Allah ke Madinah bahwa hijrah merupakan titik tolak membangun komunitas berperadaban penuh perdamaian dan persaudaraan.

Pengertian hijrah tersebut untuk meluruskan esensi hijrah yang sering disalahartikan untuk menyasar generasi muda. Salah satu yang getol menyesatkan pengertian hijrah adalah kelompok teror yang mengklaim diri sebagai Islamic State in Iraq and Syiria (ISIS). Hijrah diperalat sebagai alat propaganda untuk menarik kalangan muda sebagai tentara khilafah. Faktanya di Suriah dan Irak mereka justru dijadikan alat berperang untuk kepentingan politik domestik.

Mari sejenak kita kembalikan latar histroris hijrah sebagai upaya Nabi menghindari konflik, permusuhan dan acaman yang dilancarkan oleh penduduk Makkah. Dalam konteks ini, sungguh tidak sesuai apabila para pemuda termakan hasutan hijrah dengan meninggalkan Negara yang damai menuju negeri penuh konflik seperti di Irak dan Suriah. Hijrah dengan demikian meninggalkan perdamaian menuju konflik dan perang.

Dalam konteks kebangsaan, hijrah harus dimaknai tidak secara harfiyah. Bangsa ini telah dibangun berdasarkan keringat dan darah para pejuang. Barangkali hijrah terbesar bangsa ini dimulai dari suara lantang para Pemuda pada Oktober 1928. Sumpah Pemuda merupakan hijrah paradigma kebangsaan dari lokal menuju nasional, dari keterpecahan menuju persatuan, dari dan etnisitas-kesukuan menuju kebangsaan. Hijrah yang diwariskan dalam wawasan Sumpah Pemuda adalah menjalin persaudaraan dalam bingkai persatuan bangsa yang searah dengan nafas makna hijrah Nabi.

Hijrah berarti menegaskan persaudaraan, sebagaimana Nabi berhijrah meninggalkan negeri penuh ancaman menuju peradaban baru penuh persaudaraan. Nabi mengikatkan persaudaraan antara kelompok pendatang (muhajirin) dengan pribumi (anshar) dalam ikatan warga Madinah. Tidak hanya itu Hijrah Nabi juga menghapuskan semangat kesukuan (ashabiyah) yang mengental di Madinah.  Bahkan Hijrah Nabi mengikat tali persaudaraan lintas agama dalam instrument konstitusi Madinah (piagam Madinah).

Itulah, esensi hijrah yang sangat penting dimaknai dalam konteks kebangsaan hari ini. Hijrah bukan malah menarik diri dalam persatuan, tetapi menguatkan persaudaraan dalam persatuan. Dalam hijrah ada upaya untuk meninggalkan bentuk permusuhan, kebencian, hasutan dan menjalin suasana baru kebangsaan yang penuh persaudaraan tanpa kekerasan.

Islam menempatkan momentum hijrah sebagai titik awal peradaban Islam sekaligus ditandai sebagai penentuan kalender Islam. Semangatnya adalah bahwa umat Islam harus belajar pada sejarah hijrah. Umat Islam harus terus menyegarkan ingatan untuk selalu meninggalkan permusuhan, kebencian, ancaman, teror menuju umat yang penuh persatuan dan perdamaian.

Facebook Comments