Peran Sekolah sebagai Pendukung Pendidikan Anak

Peran Sekolah sebagai Pendukung Pendidikan Anak

- in Suara Kita
773
0
Peran Sekolah sebagai Pendukung Pendidikan Anak

Viralnya peristiwa TK Kartika V-69 Probolinggo yang mengikuti karnaval kemerdekaan dengan menggunakan cadar dan replika senjata api tampaknya harus disyukuri. Reaksi spontan para netizen setidaknya menyadarkan kita bahwa tindakan itu memang patut dikoreksi dan diberi peringatan. Beruntung kemudian pihak Mendikbud segera tanggap dan mengadakan peninjauan langsung.

Pihak sekolahan yang setelah mengadakan jumpa pers kemudian memberikan penjelasan (Detik.com, 19/8/2018) bahwa sebenarnya foto yang viral tersebut adalah foto yang terpotong. Jika dilihat secara utuh, pawai tersebut sebenarnya hanya berkeinginan memperlihatkan barisan yang menunjukkan simbol-simbol Islam dan kerajaan Arab Saudi. Barisan pertama, sebagai pemimpin barisan adalah kelompok yang membawa miniatur Ka’bah, di barisan berikutnya kemudian berderet kereta yang menyimbolkan barisan kerajaan Arab Saudi. Barulah kemudian di bagian paling belakang adalah barisan yang kemudian menjadi viral itu; barisan pengawal kerajaan yang memakai jubah, cadar, dan menenteng replika senjata api.

Meski kemudian semua pihak terkait dan yang memiliki wewenang atas kejadian tersebut (dari pihak Mendikbud, Dandim 0820 Probolinggo yang menaungi TK Kartika V-69, hingga pihak TK Kartika sendiri) kemudian bertemu dalam satu pemahaman bahwa tidak ada unsur kesengajaan untuk menanamkan paham radikalisme kepada anak-anak, namun semua pihak harusnya memang bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Peran media (kali ini media sosial) tanpa bisa ditampik memang urgen. Ia menjadi tempat pertama yang digunakan oleh individu untuk menggalang suara, lantaran sadar ia takkan mampu mengkritisi sebuah lembaga resmi tanpa adanya bantuan kekuatan massa. Potret ini menunjukkan kesadaran masyarakat bahwa media sosial seperti facebook dll- memiliki kuasa untuk mengumpulkan opini. Yang patut dicatat kemudian adalah pentingnya untuk menggunakannya secara cerdas dan bijaksana.

Pertama, jika hendak mengunggah berita yang bersifat tuduhan, atau yang sedikit banyak memengaruhi opini khalayak akan institusi/individu lain, setidaknya lakukanlah kroscek dengan pihak terkait. Lantaran, seringkali, yang menjadi viral dan menimbulkan reaksi negatif selama ini hanyalah sejumlah peristiwa yang dipotret/dikemukakan secara setengah-setengah, sehingga menimbulkan kegaduhan yang seharusnya tidak perlu. Kedua, sebagai pengguna medsos, kita dituntut untuk lebih cerdas dalam menyikapi sebuah berita, mana yang berita hoax dan mana berita yang memang pantas untuk ‘dikritisi’. ‘Dikritisi’ di sini mengandung maksud, berita-berita yang memang pantas untuk disampaikan kepada pihak terkait agar tidak tercipta kesalahpahaman lebih lanjut. Berita-berita hoax biasanya disuguhkan hanya untuk mengail komentar-komentar negatif dan mencemarkan nama baik pihak lain tanpa adanya konfirmasi langsung dengan pihak tersebut. Berita sepihak ini juga seringnya ditujukan untuk mengambil keuntungan tertentu yang kadangkala tidak kita ketahui motif pastinya. Dari sinilah diperlukan ringannya tangan kita untuk menge-klik berita-berita pembanding atau kesabaran dalam menunggu klarifikasi pihak terkait. Ketiga, kita harus tetap berperan sebagai individu/subjek pertama yang mengawasi pendidikan anak-anak kita sendiri dan tetap mengawasi peran sekolah yang sebenarnya hanya berperan sebagai lembaga pendukung terhadap pendidikan anak-anak kita.

Hal berikutnya yang patut dicatat adalah perihal kesadaran pendidikan dini. Ketika membicarakan sekolah, anak-anak jelas tak bisa lepas sebab mereka adalah subjek yang menjadi objek. Sekolah berperan sebagai tempat pengolah modal dasar bawaan yang oleh Howard Gardner disebut sebagai Multiple Intelligences. Menurutnya, kecerdasan diartikan sebagai kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu. Menyitir uraian Prof. Quraish Shihab yang menyatakan bahwa fase pendidikan anak-anak lebih banyak didapat dari meniru ketimbang mendengarkan, maka kekritisan terhadap pawai TK Kartika V-69 itu patut dibenarkan. Itulah mengapa di pendidikan usia dini pendidikan praktik yang bersifat melatih daya gerak lebih banyak diberikan ketimbang yang bersifat melatih daya pikir. Lantaran praktik adalah hasil upaya dari meniru.

Meski pihak terkait telah menyatakan tidak adanya unsur kesengajaan, namun kita juga mesti sadar bahwa alam bawah sadar anak-anak tersebut pasti telah merekam dan menyimpan dalam memorinya. Jika dalam hal tontonan terhadap anak-anak saja kita dituntut selektif, maka terhadap kegiatan mereka pun seharusnya kita juga lebih selektif. Simbol-simbol yang dipergunakan anak-anak TK Kartika V-69 itu selama ini telah cenderung dialamatkan ke hal-hal yang berbau negatif setelah ramainya aksi terorisme yang dilakukan oleh sekolompok mereka yang juga mengenakan atribut serupa. Ketidakpahaman anak-anak akan tujuan hakiki dari pawai tersebut (lantaran daya pikirnya yang kemungkinan besar memang belum mampu menjangkau) akan menjadi bumerang kelak di kemudian hari, seolah bahwa apa yang mereka lakukan pada hari itu merupakan perbuatan yang benar dan dibenarkan. Yang patut dikhawatirkan adalah ketika pihak sekolah justru tidak mampu memberikan pengertian rasa nasionalisme dalam kegiatan tersebut—alih-alih malah justru menanamkan sikap militansi dan ekslusivisme. Terlebih anak-anak tersebut diizinkan memakai senjata api (meskipun cuma replika). Sikap permisif seperti ini, bisa jadi akan disalahartikan oleh pihak-pihak lain. Bukankah kegiatan lain, atau kostum lain yang lebih ‘aman’ sebenarnya masih banyak? Kalaupun ada keinginan untuk menanamkan religiositas, mencari hal-hal/kegiatan lain yang tidak nyerempet-nyerempet seharusnya juga masih gampang dilakukan. Begitu.

Facebook Comments