Perdamaian Dunia; Belajar dari Malala Yousafzai dan Literasi Media Kita

Perdamaian Dunia; Belajar dari Malala Yousafzai dan Literasi Media Kita

- in Suara Kita
747
0
Perdamaian Dunia; Belajar dari Malala Yousafzai dan Literasi Media Kita

“This is what my soul is telling me: be peaceful and love everyone” -Malala Yousafzai

Pendidikan perdamaian bisa kita dapatkan dari siapa saja, inspirasinya bisa juga dari orang lain. Mereka yang memiliki pengaruh dalam menggerakkan akal dan nurani masyarakat. Salah satunya, kita bisa belajar dari remaja Pakistan, Malala Yousafzai.

Perempuan kelahiran tahun 1997 ini memiliki semangat yang luar biasa dalam membangun pendidikan dan perdamaian. Hal itu dibuktikannya saat melawan militan Taliban. Ia bersuara lantang di depan televisi dan radio tahun 2008; berani-beraninya Taliban merampas hak saya atas Pendidikan.

Keberanian itu berbuah celaka, di mana tahun 2012 Malala diteror atau ditembak oleh kelompok bersenjata Taliban. Sikap kritisnya itulah yang membuat dia ditembak di sekitaran kepala dan lehar. Bukan perkara dia sebagai aktivis perempuan.

Berkat keberanian dan nalar kritisnya, tahun 2013, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-16. Ia berkesempatan berpidato di hadapan majelis PBB. Pidatonya berisikan isu penting terkait hak perempua, perlawanan terhadap terorisme dan kebodohan, dan di tahun 2014, ia mendapatkan nobel perdamaian, dari kalangan muda.

Malala telah memberikan banyak pembelajaran dan pengalaman kepada kita semua. Dalam berbagai isu pokok. Sebagaimana yang pernah ia sampaikan. Isu itu bersifat universal, yang semua negara pun perlu mengambil pelajarannya.

Pertama, pendidikan kesetaraan dan keadilan gender. Pendidikan ini adalah upaya memberikan pemahaman dasar kepada semua orang atas hak. Perolehan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan; hak hidup layak, hak belajar, hak bahagia dan hak keamanan dari negara.

Kesetaraan adalah nilai yang perlu diketahui oleh masyarakat. Agar tidak ada kesenjangan sosial, budaya, ekonomi dan politik. Karena dalam undang-undang, semua warga negara diperlakukan setara di depan hukum.

Pendidikan kesetaraan semacam itu dilakukan oleh Malala. Dia tidak hanya memperjuankan hak pendidikan kepada dirinya atau perempuan saja, tapi kepada setiap anak. Ia sekaligus berpendapat bahwa perempuan juga memiliki hak untuk memperoleh kehidupan yang layak.

Kedua, perlawanan terhadap terorisme. Terorisme adalah bentuk pengrusakan dan pnghancuran secara terstruktur dan masif yang dilakukan guna mengganggu keamanan negara. Selain mengganggu keamanan negara, para pelaku teror juga meresahkan dan mengancam masyarakat. Sehingga, mengakibatkan pembunuhan, kemerosotan ekonomi dan lain sebagainya.

Terorisme ini bisa dicegah melalui pendidikan perdamaian. Seperti apakah pendidikan perdamaian yang bisa diterapkan di masyarakat? Ada beberapa cara, yakni dengan mengenalkan keberagaman dan kebangsaan. Keberagaman adalah kehendak Tuhan yang harus diyakini semua orang, sedangkan kebangsaan adalah wujud cinta tanah air dan bangsa.

Pendidikan keberagaman atau pluralisme ini penting, penting pula untuk tidak hanya sekedar dikenalkan, tapi dipraktekkan. Menurut Nurcholis Madjid di majalah Republika 1999, pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakaat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan pesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekedar sebagai “kebaikan negatif”, hanya ditilik dari kegunaannya menyingkirkan fanatisme (to keep fanatism at bay).  Pluralisme harus dipahami sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban” (genuine engagment of diversities within the bonds of civility).

Perlawanan terhadap terorisme ini benar-benar diakukan Malala. Bahkan ia menentang dan menantang kelakuan militan Taliban. Ia melakukan perlawanan itu di jalur pendidikan. Dengan adanya terorisme itulah, warga sana tidak mendapatkan keamanan untuk belajar.

Ketiga, melawan kebodohan. Hal ini juga dilakukan Malala. Kebodohan merupakan dampak terstruktur dari rendahnya budaya baca masyarakat. Oleh karena itu, guna memerangi kebodohan itu, Malala mempunyai program One Day One Book; satu hari satu buku.

Ketiga isu tersebut adalah mata rantai ketidakadilan dan kemalapetakaan. Mengapa demikian? Karena dengan ketidaksetaraan gender berupa diskriminasi dan sebagainya akan merusak keutuhan bangsa. Selain itu, juga mampu mencipta teror kepada masyarakat. Apalagi dengan rendahnya minat baca masyarakat.

Minat baca ini penting, guna mencekoki generasi muda dalam kemelekan literasi, apalagi sekarang dihadapkan dengan era cyber. Di sini malah semakin komplek. Selain melek literasi, masyarakat juga perlu untuk melek media. Melek literasi dan media.

Kemelekan literasi dan pemanfaat media sosial dengan bijak inilah sebuah goal pendidikan perdamaian. Di mana literasi kebangsaan atau keberagaman itu berawal dari literasi dasar, literasi baca dan tulis. Selanjutnya diikuti dengan literasi kebangsaan, terakhir literasi media.

Literasi media inilah yang mampu mencipta nuansa yang sejuk di dunia maya. Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam hal ini, minimal tidak membagikan kebencian, hoaks atau SARA. Semaksimal mungkin adalah turut serta membuat konten menarik yang mampu membangun nalar kritis pengguna media.

Untuk mewujudkan perdamaian, tidaklah perlu menunggu sebuah persoalan atau konflik. Berbuat baik dengan sesegera mungkin dan teruslah belajar. Membaca adalah salah satu jalan menuju perdamaian sejati. Dengan membaca akan membuka cakrawala.

Facebook Comments