Skeptis: Kontra Narasi Wabah Hoax di Media Sosial

Skeptis: Kontra Narasi Wabah Hoax di Media Sosial

- in Suara Kita
657
1
Skeptis: Kontra Narasi Wabah Hoax di Media Sosial

Data dari Dailiy Social memaparkan, berita hoax tidak hanya ada di Internet saja, kini wabah itu sudah merambah ke Media Sosial. Dalam temuannya, Lembaga itu menyatakan bahwa informasi Hoax terbanyak ada di Facebook, sebanyak 82,25 persen, sedang WhatsApp 56,55 persen, serta Instagram 29,48 persen.

Angka itu tentu sangat mengerikan, terlebih sebagian masyarakat lebih sering mengkonsumsi Media Sosial dibandingkan berselencar informasi melalui Seacrh Engine. Penelitian We Are Social, perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite mengungkapkan, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit dalam sehari untuk mengakses media sosial.

Penelitian itu menyebutkan, Facebook menjadi Media Sosial yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat dengan jumlah lebih dari 1 miliar pengunjung setiap bulannya. Mereka biasanya menghabiskan waktu sebanyak 12 menit 27 detik untuk mengakses aplikasi usungan Mark Zukerberg tersebut.

Kebiasaan masyarakat yang sering mengkonsumsi Informasi ini tentu sangat berbahaya, terlebih Facebook merupakan Media Sosial dengan jumlah Hoax terbanyak dibandingkan yang lainnya. Seperti yang dilansir Daily Social di atas, aplikasi dengan icon F berwarna biru itu menjadi jejaring sosial paling banyak menampung berita Hoax, yakni sebanyak 82,25 persen. Bila masyarakat terus menerus mengkonsumsi informasi melalui Facebook, bukan tidak mungkin mereka akan semakin terjerumus kedalam ganasnya wabah Hoax.

Masyarakat Vs Wabah Hoax?

Banyak Informasi yang tersebar di Media Sosial tidak dibarengi literasi media, sehingga potensi untuk terkena wabah Hoax sangat mungkin terjadi. Dalam sebuah seminar, Pakar Pendidikan Politik Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr Yasdin Yasir Spd MPd, menyatakan bahwa masyarakat Indonesia terlalu asyik menikmati Informasi yang ada di Media Sosial, sehingga mereka tidak bisa membedakan mana berita Hoax dan mana yang tidak (Kumparan.com, 20/03/18).

Menurut Dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia, Laras Sekarasih, PhD, kecenderungan masyarakat dalam mengkonsumsi Hoax juga dipengaruhi oleh opini atau sikap mereka dalam melihat suatu fenomena. Ketika mereka setuju dengan kelompok A, maka informasi apapun tentang kelompok itu akan dipercaya sebagai kebenaran, pun sebaliknya.

Baca juga : Bersatu Kita Teguh, Berhoaks Kita Gaduh

Selain itu, Laras juga menjelaskan bahwa terbatasnya pengetahuan masyarakat akan informasi Hoax membuat mereka sangat rentan terjangkit wabah itu. Sehingga tidak heran, bila ada sebagian dari mereka percaya informasi broadcast yang melalui media sosial tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.

Kurangnya Literasi Media menjadi faktor utama maraknya Hoax, sehingga overload informasi saat ini menjadi tantangan paling besar yang sedang dihadapi Indonesia. Bisa dibayangkan bila hal tersebut tidak mampu diselesaikan, masyarakat akan semakin terpapar Hoax, dan perlahan Hoax menjadi bom waktu dan membumihanguskan nusantara. Siapkah Kita menghadapi hal ini?

Harus Skeptis

“The Great Intelect are skeptical”  Nietzche

Nietzche pernah mengatakan bahwa, intelektual sejati adalah mereka yang skeptis atau tidak mudah percaya terhadap sesuatu. Apa yang ia katakan begitu Filsofis, bahwa tidak mudah percaya terhadap sesuatu adalah jalan untuk menempuh intelektual murni.

Rasa skpetis tidak hanya berlaku untuk para intelektual saja, melainkan seluruh manusia, terutama dalam menerima informasi. Tidak mudah percaya dan selalu mencari kebenaran melalui proses cross reference, sehingga hasil yang didapatkan bisa mendekati sebuah kebenaran.

Hal itu bahkan sudah diterapkan oleh Rasul dan Sahabatnya ketika mereka masih hidup. Ketika ada aduan dari masyarakat, Rasul tidak mudah percaya, ia akan langsung memeriksa kebenarannya, dan menyaksikan langsung apa yang dilaporkan oleh umatnya itu. Sehingga, tidak ada dalam sejarah Rasul diadu domba karena berita bohong.

Sikap itu juga ditiru oleh para sahabat ketika setelah wafatnya Rasul. Ketika banyak hadis palsu bersebaran di masyarakat, para sahabat akhirnya membuat standar penerimaan hadis (dalam ilmu hadis disebut Jarh Wa Ta’dil) untuk menangulangi hal itu. Hingga akhirnya, wabah Hoax yang tersebar di sana bisa didiagnosa dan diselesaikan dengan baik.

Apa yang dilakukan Rasul, para sahabat, dan Nietzche dalam menerima informasi ini tentu sangat bijak, dan perlu diterapkan ketika menerima informasi saat ini. Karena seperti kata pepatah, “Sejarah sealau berulang, yang ebrbeda hanya pemainnya saja”

Bila sejarah ini terulang di Indonesia, maka anda akan mencontoh siapa? Mereka yang musnah karena tidak skpetis, atau mereka yang dikenang karena Skeptisimenya? keputusan ada di tangan Anda.

Facebook Comments