Spirit Kenaikan Isa Al Masih dalam Menyinari Umat dengan Cinta-Kasih dan Perdamaian

Spirit Kenaikan Isa Al Masih dalam Menyinari Umat dengan Cinta-Kasih dan Perdamaian

- in Faktual
11
0
Spirit Kenaikan Isa Al Masih dalam Menyinari Umat dengan Cinta-Kasih dan Perdamaian

Pada Kamis 9 Mei 2024, diperingati hari Kenaikan Isa Al Masih. Yakni momentum suci di mana Sang Yesus Kristus naik ke Surga setelah mencapai 40 hari kebangkitan-Nya yaitu setelah hari Paskah. Kenaikan Isa Al Masih pada dasarnya akan menjadi cahaya yang dapat menyinari umat di muka bumi dengan cinta-kasih dan kedamaian.

Kenaikan Isa Al Masih atau Yesus Kristus adalah kenaikan cinta, ketulusan dan pengorbanan-Nya untuk manusia dalam mengemban nilai-nilai perdamaian. Manusia tak akan pernah mencapai puncak kenaikan “perjalanan suci” ketika di dalam dirinya tidak dipenuhi dengan cinta-kasih, pengorbanan diri berbuat baik pada siapa-pun dan masih penuh dengan kebencian-kebencian.

Pengorbanan Yesus sebagaimana dalam perayaan Jum’at Agung, hingga kebangkitannya pada perayaan Paskah. Lalu kini sebagai momentum hari kenaikan Yesus Kristus atau Isa Al Masih. Dari pengorbanan, menuju kebangkitan hingga kenaikan, Yesus Kristus/Isa Al Masih semata ingin menyinari manusia agar hidup dalam cinta-kasih dan perdamaian.

Yesus Kristus/Isa Al Masih selalu mencontohkan bahwa kekuatan sejati bukan memusuhi, membenci atau menzhalimi. Tetapi kekuatan sejati ketika kita mampu berkorban untuk bisa mengasihi sesama, menjaga relasi keagamaan yang tolerant dan perdamaian. Sebab, kenaikan Yesus Kristus atau Isa Al Masih menjadi simbol agar umat manusia bisa hidup dalam kesucian ruhani dan terbebas dari keburukan di dunia ini.

Menariknya di dalam ajaran keimanan Kristiani, mereka percaya akan kehadiran Isa Al-Masih yang kedua kalinya setelah mencapai kenaikan. Jadi, kenaikan Isa Al Masih ini sebagai proses transformasi spiritual umat Kristen agar kokoh dalam nilai-nilai cinta-kasih dan kedamaian di dunia dan menuju kerajaan-Nya. Sehingga, tiba waktu kembalinya Yesus Kristus/Isa Al Masih ke muka bumi, manusia bisa hidup dengan “cahaya Tuhan” yang demikian.

Dari pemahaman ini, kita bisa memahami bahwa ajaran keagamaan dan keimanan dalam agama pastilah selalu memiliki prinsip-prinsip yang melahirkan nilai-nilai maslahat, baik bagi kebangsaan atau realitas keagamaan. Tak ada ajaran agama apa-pun yang dalam setiap prinsip keimanan itu jika ditaati, lalu mengajarkan untuk membenci. Tetapi selalu reflektif ke dalam cinta-kasih, kebaikan atau kalau di dalam Islam dikenal sebagai puncak perjalanan spiritual adalah keshalihan sosial.

Menjadi tolerant, menjadi baik dan menjaga kasih-sayang serta perdamaian dengan umat agama lain pada dasarnya tak perlu “mengimani” apa yang diyakini umat agama lain. Seperangkat toleransi dan perdamaian tak kokoh ke dalam pencampuradukan nilai-nilai akidah/keimanan. Tetapi bagaimana merefleksikan nilai-keimanan itu secara sublimatif mampu membawa pesan-pesan yang korelatif, integratif dan interkonektif terhadap nilai-nilai kasih-sayang.

Seperti dalam momentum perayaan kenaikan Isa Al Masih. Ini tak diajarkan sebagai jalan untuk “merasa” paling benar dalam beragama lalu mengekspresikan kebencian atas umat agama lain. Di dalam ajaran Kristen, pengorbanan Yesus Kristus ini selalu menekankan bagaimana menjadi manusia yang selalu mengasihi, bukan membenci. Sebagaimana Yesus mengorbankan dirinya demi menebus secarik dosa-dosa umat manusia yang penuh dengan kebebalan dan kemungkaran perilaku.

Yesus Kristus atau Isa Al Masih telah menjadi teladan dari sejak peristiwa penyaliban, menuju kebangkitan hingga kini proses perjalanan suci yakni kenaikan. Perjuangan yang diemban tak ada lain selain cinta-kasih dan perdamaian untuk ditebarkan di muka bumi. Perayaan Kenaikan Yesus Kristus/Isa Al Masih adalah perjalanan spiritual dalam menyinari manusia dengan nilai-nilai cinta-kasih dan kedamaian.

Facebook Comments