Strategi Gotong Royong Mendeteksi Dini Radikalisme

Strategi Gotong Royong Mendeteksi Dini Radikalisme

- in Suara Kita
574
0
Strategi Gotong Royong Mendeteksi Dini Radikalisme

Radikalisme itu sejatinya bersifat acak. Ia bisa masuk ke semua lini dan sektor kehidupan masyarakat. Dari lembaga yang formal sampai non formal.  Dari orang yang berpendidikan sampai yang tidak berpendidikan.  Dari usia muda sampai usia tua.

Radikalisme itu ibarat virus. Nampak gejalanya, tetapi agak sulit mendeteksi sebab, sumber, dan aktornya. Meskipun sulit mendeteksinya, bukan berarti radikalisme mustahil untuk dideteksi dan ditanggulangi.

Radikalisme bisa dideteksi jika semua komponen masyarakat aktif berpartisipasi. Strategi gotong-royong, sebagai salah satu falsafah hidup bangsa ini, adalah merupakan kunci utama untuk mendeteksi radikalisme.

Sebab bukankah radikalisme itu datang dari manusia itu sendiri. Dari lingkungan kita. Dari orang-orang sekitar kita, bahkan tak mustahil dari keluarga dan tetangga kita.

Berkerja sama untuk mengantisipasi bahaya radikalisme; bergandengan tangan untuk menutup pintu-pintu ekstremisme; saling bahu-membahu untuk menangkal penyebaran ideologi kekerasan –semuanya ada bentuk dari strategi gotong royong. Budaya gotong royong adalah sendi dari kehidupan dalam mewujudkan kenyamanan dan kedamaian.

Media Sosial dan Egoisme

Gemerlap kemajuan informasi dan teknologi ditambah penetrasi dari media sosial membuat manusia bisa mencukupi dirinya sendiri. Apa-apa yang diinginkannya tinggal klik, sudah tersedia di depan mata.

Efek paling nyata adalah pudarnya budaya gotong royong di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat menjadi manusia yang sibuk dengan dirinya tanpa ada usaha untuk menoleh ke samping kiri-kanan.

Di lain pihak, tumbuhnya keegoisan di tengah mayarakat ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk membuat terror dan menciptakan dis-harmoni. Keegoisan ini bisa dilihat dari adanya anggapan bahwa tugas memberantas dan mencegah terorisme  hanya tugas BNPT saja. Atau ada sikap yang masih bersimpati terhadap mereka yang didakwa sebagai terorisme.

Strategi Gotong Royong

Dalam kondisi seperti ini, menangkal terorisme tidak bisa dilakukan kalau tidak dilakukan bersama-sama. Menangkal virus radikalisme membutuhkan kerja kolektif dengan jiwa berjamaah.

Bukankah ada uangkapan: Al-haq bila nizhamin, yaglibuhu al-bathil binizhamin; kebenaran yang tidak terorganisi, bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisr. Ungkapan ini tepat dalam menggambarkan fenomena radikalisme saat ini. Radikalisme sebagai representasi dari kebatilan bisa mengalahkan kedamaian sebagai perwujudan dari kebenaran.

Adalah sebuah fakta, bahwa orang-orang radikal itu sejatinya hanya segelintir orang, tetapi mereka terorganisir. Sebaliknya, pihak yang mendambakan perdamaian berada dalam jumlah yang banyak, tetapi tidak bisa berjamaah.

Oleh sebab itu, untuk medeteksi dini radikalisme bisa dilakukan dengan strategi gotong-royong dengan cara berikut:

Pertama, memaksimalkan peran tokoh adat dan tokoh agama. Pelibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama di tingkat lokal bisa mencegah – setidaknya memiminalisir – virus dan akses-akses radikalisme.

Selama ini, kerja-kerja pencegahan lebih banyak bersifat sentralistik, dengan tak-tik dan prosedur yang ketat. Di tingkat lokal, peran tokoh adat dan tokoh agama ternyata sangat fungsional.

Peran strategis tokoh adat dan agama ini bisa dilihat dari semboyan adat bersandi syara, di mana keduanya adalah ibarat dua sisi koin mata uang, tak bisa dipisahkan. Masalah-masalah yang dihadapai masyarakat –kalau tidak mengatakan seluruhnya –terlebih dahulu diselesaikan dengan kerja-kerja kekeluargaan yang bersifat lokal nan arif, sebelum masuk ke institusi formal.

Peran strategis ini, bisa dimaksimalkan untuk mengampanyekan nilai-nilai kedamaian, harmoni dan toleransi.

Kedua, memaksimalkan fungsi lembaga-lembaga masyarakat, menghidupkan ritual yang bersifat lokal merupakan hal yang sangat ampuh dalam melawan radikalisme. Lembaga masyarakat baik berbentuk artefak seperti rumah adat, ruang-ruang kumpul, maupun bersifat non-fisik, seperti ikatan kesukuan, marga, dan sistem kekeluargaan memiliki fungsi dalam menangkal radikalisme.

Ikatan marga umpamanya yang ada di suku Batak, Sumatera Utara sangat strategis dalam meminimalisir komfilik. Bagi sistem kesukuan, marga itu adalah ikatan saudara.

Jika marga A berjumpa dengan marga B umpamanya, C dengan D, mereka sudah menganggap itu adalah saudara kandung. Bahkan bagi sebagian orang, ikatan marga jauh lebih tinggi dari pada ikatan agama. Kita boleh beda agama, asal kita satu marga, kita adalah saudara.  Akibatnya konflik dan perselisihan bisa di-manage.

Hal yang sama juga terjadi di pulau Jawa. Adanya tradisi ziarah kubur ke makam-makam yang dianggap suci, ternyata bisa meminimalisir konflik-konflik yang ada di masyarakat. Perbedaan-perbedaan yang beragam, setelah masuk dalam lingkungan makam suci untuk ziarah itu bisa membaur dan melebur antar sesama.

Sejauh ini, peran strategis gotong royong sudah banyak diekspos media. Tradisi saling membersihkan tempat rumah ibadah di salah satu daerah di Maluku misalnya; ketika Idulfitri, kaum Kristen yang membersihkan masjid, sebaliknya, ketika tiba Natalan, giliran kaum muslim yang membersihkan.

Dialog, saling sapa dan saling asah itu perlu dimaksimalkan untuk menumpas virus radikalisme. Menangkal radikalisme tidak bisa dilakukan secara seporadis atau hanya diserahkan ke lembaga tertentu. Kerja sama semua pihak adalah kunci utama.

Facebook Comments