Strategi Memutus Jejaring Salafi-Wahabi di Dunia Maya

Strategi Memutus Jejaring Salafi-Wahabi di Dunia Maya

- in Suara Kita
1176
0
Strategi Memutus Jejaring Salafi-Wahabi di Dunia Maya

Sampai sekarang saya masih percaya, salafi-wahabi dan aktor Islam garis keras itu sejatinya hanya sedikit. Sedikit tetapi berisik. Sedikit tetapi terorganisir. Mereka membangun jejaring dengan mantap, memanfaatkan dengan luar biasa media sosial.

Meski sedikit mereka lihai menarik “minat” anak-anak muda; mereka bisa menggaet para kalangan elite negara dan  institusi negara masuk dalam lingkaran mereka. Bahkan, kalangan artis tidak sedikit yang masuk dalam jangkar ajaran dan doktrin salafi-wahabi.

Disertasi Oki Setiana Dewi, Pengajian Selebriti Hijrah Kelas Menengah Muslim (2000-2019), menyebutkan satu fakta, mengapa para selebriti lebih tertarik dengan ustad-ustad yang berafiliasi dengan salafi-wahabi? Alasan utamanya adalah para ustad salafi-wahabi memberikan kepastian ketika menjawab dan menjelaskan ajaran agama.

Kepastian yang dimaksud adalah ustad salafi-wahabi hanya memberikan satu jawaban. Tidak ada alternatif. Satu jawaban itu diutarakan dengan mantap. Ketika ditanya apa hukum bunga bank umpamanya, para ustad ini langsung menjawab dengan tegas: haram. Titik.

Inilah yang membedakan antara ustad salafi-wahabi dengan kyai atau ustad Islam moderat semisal NU dan Muhammadiyah. Para ustad Islam moderat biasanya memberikan banyak jawaban. Meskipun dalam beberapa kasus memang, jawaban yang banyak itu tetap ditarjih. Akan tetapi, bagi kalangan awam –khususnya kalangan milenial, jawaban seperti itu ribet, membuang waktu, dan  tidak memberikan kepastian.  

Wajah Islam yang Tak Berwarna

Website keislaman yang dikelola oleh para aktivis salafi-jihadis pun sama. Hanya memberikan satu sudut pandang. Kaku dan monoton. Tidak ada alternatif jawaban lain. Jika haram, ya haram. Tidak ada upaya dialog dengan budaya.

Selain ini, ciri utama website mereka, berupaya menyeragamkan “segala perbedaan” yang ada dalam lintasan sejarah umat Islam.  Ketika membahas apa hukum mengucapkan selama natal misalnya, tidak ada jawab lain selain haram.

Padahal, ragam pendapat ulama tentang ini dalam lintasan sejarah sangat beragam sekali. Semua ini sengaja dihilangkan –seolah dalam Islam tidak ada perbedaan itu –, yang ditampilkan adalah wajah Islam yang monolitik.

Akibatnya, ketika mereka membahas satu kasus atau menjawab satu pertanyaan. Alurnya sederhana sekali. Cukup kuti ayat dan beberapa buah hadis, kemudian terjemahkan, lalu simpulkan.

Tidak ada analisa, komparasi, dan dialog dengan realitas yang berkembang. Pokoknya apa bunyi letterlek teks, itulah hukum itu, itulah ajaran agama yang sejati, yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi.

Pendekatan yang sederhana  justru sangat digandrungi oleh kalangan milenial. Itulah sebabnya,  website yang paling banyak dijadikan milenial ketika membahas agama adalah website model monolitik seperti website milik salafi-wahabi itu. 

Perlunya Kontra Narasi

Sejak dini, radikalisme itu  mempunyai jejaring yang kuat. Bahkan menurut penelitian terakhir, justru media sosial lebih ampuh dalam merekrut calon terorisme ketimbang cara-cara manual-tradisional.

Jika cara yang terakhir ini membutuhkan waktu berkisar 5-10 tahun, maka dengan bermodal media sosial –video sadis, provokasi, hasutan kebencian, dan beberapa website provokator –maka hanya dengan 1 tahun, bahkan kurang dari itu, seseorang sudah bisa direkrut untuk jadi teroris.

Tidak ada cari lain agar bisa keluar dari sisi negatif dari media sosial itu kecuali membangun jejaring perdamaian. Memberikan kontra narasi. Menampilkan wajah Islam alternatif yang lebih ramah dan teduh.

 Jejaring model ini perlu dirajut oleh segenap anak bangsa. Memang betul, media sosial adalah media tanpa  hirarkisitas. Semua netizen setara dan sama-sama punya akses dan kebebasan yang sama. Kedudukan ini berkontribusi dalam mempengaruhi setiap ucapan, tindakan dan prilaku setiap pengguna. 

Merajut jejaring perdamaian merupakan kerja nyata yang hanya bisa dilakukan oleh para netizen cerdas (smart netizen). Smart netizen yang dimaksud di sini adalah orang yang menjadikan kritisime dan kemanusiaan sebagai falsafah dalam bersosial media.

Kedua kunci ini menjadi landasan dalam bawah sadar setiap netizen yang sadar akan pentingnya menjaga kedamaian, kerukunan, dan harmoni.

Kritisisme adalah sikap selalu melihat celah dan mempertanyakan setiap hal dengan rasio sebagai alat. Kritisisme selalu bersikap skeptis terhadap setiap materi, unggahan, dan konten-konten yang berbau hoax dan ujaran kebencian.

Maraknya kedua hal yang berbahaya ini tak lain adalah absennya sikap kritis di tengah-tangah para nerizen di dunia maya.

Jika kritisisme bersifat keluar, artinya selalu berusaha mencari kekurangan dan ketidakkonsistenan dari setiap sesuatu, maka kemanusian bersifat ke dalam. Ia selau menganggap bahwa manusia lain sama dengan dirinya: suka kedamaian, harmoni, dan cinta-kasih, begitu juga sebaliknya benci akan ujaran kebencian, hasutan, fitnah, dan hoax yang bisa membahayakan dirinya.

Kemanusiaan mengajarkan, bahwa setaip netizen adalah makhluk Tuhan yang harus dihormati hak-haknya, dilindungi martabatnya, dan dijaga perasaannya. Kemanusiaan yang mengalir di setiap hati para pengguna medsos  dengan sendirinya tidak akan rela untuk melukai kawan atau individu di luar dirinya yang sama-sama berjejaring di dunia maya.

Jejaring perdamaian dengan basis kritisisme dan kemanusiaan merupakan modal utama untuk meng-counter jejaring yang selama ini meresahkan masyarakat. Jika para netizen cerdas sama-sama bergotong-royang merajut jejaring harmoni, perdamaian, kerukunan di dunia maya, maka jejaring hoax, ujaran kebencian, dan radikalisme dengan sendiri akan terbenam.

Para pengamat menyatakan, sebenarnya orang yang berpayung dalam jejaring dis-harmani hanya terdiri dari beberapa gelintir orang, tetapi mereka dengan lihai dan semangat untuk memaksimalkan fungsi medsos sesuai dengan tujuan ideologi mereka. Hal yang sebaliknya terjadi pada orang-orang yang cinta akan perdamaian. Mereka banyak, tetapi diam hanya menjadi silent reader. Akibatnya media sosial seolah-olah dikuasai oleh kaum radikalis dan pencinta dis-harmoni. Di sini, sudah saatnya bagi setiap netizen untuk kembali bersuara dan membungkam mereka, dan berusaha sekuat tenaga agar jejaring perdamaian itu kembali kokoh.  

Facebook Comments