Syahid Sejati atau Teroris Sejati?

Syahid Sejati atau Teroris Sejati?

- in Keagamaan
4176
0

Entah untuk ke beberapa kalinya, dalam setiap adegan teror atau kematian para terduga teror akan muncul narasi jihad dan syahid bernada provokatif. Seakan mereka tidak ada jeranya untuk mencari pembenaran bahwa membunuh diri sendiri dan membunuh orang lain sebagai tindakan (perintah) keagaman. Dalam kejadian Bom, pelaku bunuh diri pun dinarasikan sebagai mati syahid. Agar seolah meyakinkan muncullah ilustrasi lebay dengan mengatakan jasad pelaku bom itu tersenyum dan mengeluarkan aroma harum dan wangi.

Bumbu cerita yang mengada-ada ini sejatinya ingin menggiring opini masyarakat bahwa mereka yang telah melakukan bunuh diri dengan melukai orang yang tidak berdosa sebagai tindakan benar dan suci. Mereka adalah syahid, tersenyum di surga bersama bidadarinya. Untung saja umat Islam Indonesia memiliki keteguhan iman dan ajaran yang tidak mudah dibohongi.

Mati syahid memang merupakan sebuah harapan umat Islam karena dengan demikian seseorang akan melewati hisab di hari kemudian dan masuk ke Surga yang telah dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Karenanya, syahid akan terus menjadi slogan dan jualan provokatif kelompok radikal terorisme dalam menipu, membohongi dan merekrut sebanyak mungkin simpatisan dengan berbagai janji-janji indah “masuk surga instan” tanpa banyak ibadah.

Dalam Quran Allah menjelaskan tentang mati syahid sebagai berikut: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Q. S. Ali Imran: 169-171).

Ayat di atas menunjukkan bahwa mereka yang mati syahid sebenarnya tetap hidup dan mendapat rezeki dari Allah. Pertanyaannya kemudian siapakah sebenarnya orang yang dapat disebut mati syahid? Apakah hanya mereka yang ikut berperang dan menjadi korban perang yang layak disebut syahid? Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabatnya tentang siapa yang layak disebut mati syahid. Sahabat menjawab: mereka yang telah gugur dalam medan perang. Rasulullah lalu mengatakan jika itu ukurannya maka sangat sedikit dari umatku yang mati syahid.

Dalam sebuah hadis bahwa pergi berperang bukanlah satu satunya cara untuk mencapai mati syahid. Dalam berbagai riwayat sahih Rasulullah pernah menjelaskan bahwa umatnya yang mati karena tertimpa penyakit tha’un (sejenis penyakit pes), penyakit Tumor (dzaat Al Janbi), penyakit Batuk (As Sillu), penyakit perut, tenggelam, terbakar, tertimpa benda berat, mati saat melahirkan, mati ketika hamil, korban perampokan, dan korban perang di jalan Allah dapat dikategorikan sebagai syahid.

Propaganda kelompok radikal terorisme yang menyebut berperang pasti mati syahid meski menyasar negara yang didirikan dan dihuni oleh kaum Muslimin atau bahkan melukai dan membunuh sesama muslim adalah pemahaman yang keliru. Membatasi makna syahid hanya untuk mereka yang mati di medan laga saja adalah sebuah kekeliruan, apalagi menganggap syahid bagi orang yang mati dengan cara meledakkan diri dan menghilangkan nyawa saudara seiman, seagama dan senegara.

Para pelaku teror sejatinya tidak dalam kategori medan perang untuk melindungi umat Islam dari serangan pihak musuh. Kelompok teroris ini sedang menciptakan khayalan dunia dalam kondisi perang. Sehingga atraksi peperangan yang mereka tontonkan bukan di arena perang yang sebenarnya, tetapi di tengah masyarakat yang damai. Menyerang dan meledakkan diri di tengah masyarakat tak berdosa, akhirnya dianggap medan perang. Padahal apa yang mereka lakukan tidak lain adalah bunuh diri semata.

 Tiada Surga Bagi Pelaku Bunuh Diri

“Barang siapa yang melukai dirinya, maka dia akan melukai dirinya sendiri dalam neraka. Barang siapa yang mencelakai dirinya, maka dia akan mencelakai dirinya sendiri di dalam negara, dan barangsiapa yang mencekik dirinya, maka dia akan mencekik dirinya sendiri di dalam neraka” (HR: Bukhori). Dalam hadist lain, Nabi bersabda : “Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu (benda atau cara), maka dia akan diadzab dengannya di negara jahanam” (HR Bukhori).

Banyak sekali hadist shahih yang menunjukkan tercelanya tindakan bunuh diri. Islam sangat melarang umatnya menyiksa dan membunuh diri sendiri apalagi membunuh orang lain. Balasan bagi yang melakukan bunuh diri akan disiksa dengan cara yang sama di neraka. Dan jumhur ulama menyepakati bunuh diri adalah haram dan dipandang dosa yang paling besar setelah syirik.

Tidak hanya hukuman di akherat, penghormatan di dunia pun tidak layak didapatkan bagi orang yang menyia-nyiakan hidup dengan bunuh diri. Dalam suatu riwayat: Dihadirkan ke hadapan Nabi seseorang yang telah bunuh diri dengan anak panah. Maka beliau bersabda: Adapun Aku tidak akan turut menshalatinya (HR An-Nasa’i).

Tulisan ini tentu saja tidak ingin berprentensi untuk menghakimi seseorang akan masuk neraka atau tidak, karena kuasa demikian sepenuhnya ada di tangan Sang Hakim, Allah SWT. Manusia tidak mempunyai hak sedikitpun menghakimi hal yang ghaib apalagi tentang “tiket surga dan neraka”. Penulis hanya ingin menyampaikan sabda Sang Panutan, Nabi Muhammad, yang sudah memberikan rambu-rambu umatnya untuk tidak terjerumus dalam tindakan yang mengarah pada siksa neraka.

Siapapun dapat mengukur nilai dan prinsip ajaran asli Qur’an yang mengikat manusia untuk menjaga nyawa manusia dan keselamatannya. Prinsip ajaran Islam dinyatakan dalam Qur’an bahwa membunuh satu nyawa tak berdosa dianggap telah membunuh semua manusia. Prinsip ini mengajarkan kepada umat Islam untuk menjauhi kekerasan, konflik dan pembunuhan yang dapat mengakibatkan kucuran darah. Nabi dengan tegas memperingatkan : Sesungguhnya perkara yang pertama kali diputuskan di antara umat manusia pada hari kiamat adalah pada kasus darah (pembunuhan). (HR Bukhari).

Islam sangat menghormati kehidupan damai dan sangat menghargai nyawa manusia. Karena itulah, Islam diturunkan di tengah masyarakat Arab yang pada zamannya mentradisikan kekerasan dan kekacauan sebagai jalan keluar. Islam adalah rahmat, tetapi saat ini sebagian kecil umat Islam ingin mengembalikan lagi tradisi kekacauan dan menggampangkan kucuran darah. Lebih tragis lagi fenomena didalihkan perintah agama. Dengan bangga tanpa penyesalan, mereka menganggao tindakan pembunuhan itu sebagai tugas suci dan syahid. Sungguh miris.

Berhentilah membodohi dan merusak pikiran masyarakat dengan mengatakan bunuh diri demi agama apalagi membunuh sesama muslim sebagai perbuatan suci. Berhentilah berdusta dengan mengatakan pelaku kriminal sebagai syahid. Sungguh kedustaan yang paling keji adalah dengan mengatakan yang haram menjadi halal dan mengatakan yang batil menjadi haq. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Facebook Comments