Tafsir Hermeneutik Kurban dan Transformasi Spirit Kemanusiaan

Tafsir Hermeneutik Kurban dan Transformasi Spirit Kemanusiaan

- in Suara Kita
15
0
Tafsir Hermeneutik Kurban dan Transformasi Spirit Kemanusiaan

Hari Raya Idul Adha atau sering juga disebut Idul Kurban tahun ini berbarengan dengan suasana pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Seperti kita lihat, pandemi telah melahirkan krisis multidimensi, mulai dari gejolak ekonomi, gesekan sosial hingga merambah isu keagamaan. Di sektor kesehatan, penyebaran Covid-19 telah menghilangkan ribuan nyawa manusia dan menjangkiti puluhan ribu lainnya. Sedangkan pembatasan sosial untuk menangkal penyebaran Covid-19 telah menyebabkan lumpuhnya roda ekonomi. Di saat yang sama, ada sejumlah oknum yang berusaha mengambil keuntugan pribadi maupun kelompok di tengah pandemi ini.

Krisis multidimensi akibat pandemi Covid-19 inilah yang kiranya menjadi konsern umat beragama, khususnya umat Islam. Tugas umat Islam saat ini ialah bagaimana mengimplementasikan ajaran dan nilai Islam dalam upaya penanganan wabah Covid-19. Agama, terutama Islam harus menjadi pemecah persoalan (problem solver), alih-alih pemicu persoalan (trouble maker). Tidak hanya itu, umat Islam idealnya bisa berperan aktif dalam upaya melawan pandemi dan kembali menggerakkan roda ekonomi. Maka, momentum Idul Adha atau Idul Kurban ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk refleksi diri, dan berpikir untuk mengambil langkah-langkah konstruktif.

Perintah berkurban termuat dalam firman Allah yang berbunyi “telah kami tebarkan nikmat yang banyak kepadamu, maka dirikanlah sholat dan berkurbanlah” (QS: 108: 1-2). Dari redaksi kalimat tersebut, perintah berkurban merupakan manifestasi dari rasa syukur atas limpahan nikmat Allah. Jika ditinjau dari sisi sejarah, tradisi kurban dimulai pada zaman Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya, Ismail. Teks dan riwayat kurban tentu tidak harus dipahami secara tekstual dan leksikal. Sebagaimana diketahui, setiap teks selalu memiliki keterkaitan dengan konteks yang menyertainya. Disinilah diperlukan pemaknaan secara kontekstual agar teks keagamaan bisa dipahami secara transformatif.

Baca Juga : Semangat Kurban: Tidak Mengorbankan Manusia atas Nama Agama

Dalam leksikon ilmu tafsir, penafsiran dengan pendekatan hermeneutika dipandang relevan untuk mengungkap makna terdalam di balik sebuah teks (Sahiron Syamsudin: 2010). Pendekatan hermenuetis dalam tafsir Alquran memungkinkan terjadinya pemikiran keagamaan yang dialektis, dinamis, dan kontekstual. Seperti halnya dalam persoalan ibadah kurban yang di masa sekarang idealnya dipahami tidak hanya secara simbolistik. Jika dipahami secara simbolistik, maka penyembelihan hewan kurban justru akan mempersepsikan Islam sebagai agama yang tidak ramah pada makhluk hidup, bahkan kejam. Di era kontemporer ini, ibadah kurban idealnya tidak semata dibingkai ke dalam narasi ritualistik yakni menyembelih hewan ternak dan membagikannya ke orang miskin. Ibadah kurban harus diletakkan dalam bingkai persoalan kontemporer yang dialami umat manusia.

Kurban Sebagai Sarana Membangun Solidaritas

Saat ini umat Islam dan manusia pada umumnya tengah mengalami semacam krisis eksistensial yang diakibatkan oleh residu modernisme. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil dari proyek modernisme di satu sisi memang memberikan banyak kemudahan pada hidup manusia. Namun, di saat yang sama modernisme juga melahirkan berbagai persoalan, mulai dari mengguritanya kapitalisme hingga munculnya gaya hidup hedonisme dan konsumerisme. Di zaman ini, nyaris tidak ada manusia di dunia yang bisa menghindar dari pola pikir konsumeris dan hedonis. Hampir semua manusia sibuk memburu kesenangan artfisial dan kebahagiaan banal. Akibatnya seperti kita lihat, manusia kian menjadi individualis bahkan pragmatis. Apa saja dilakukan untuk melunasi hasrat egoistiknya.

Ironisnya, nalar individualisme, egoisme bahkan pragmatisme itu juga masih muncul di tengah suasana pandemi Covid-19 ini. Betapa banyak masyarakat yang masih berpikir bahwa pandemi Covid-19 ini ialah hasil dari konspirasi global bahkan ada yang meyakini pandemi Covid-19 tidak lebih dari rekayasa media massa. Fatalnya, lagi anggapan-anggapan yang demikian itu justru muncul dari para pesohor yang opini-opininya potensial membentuk pandangan publik. Alhasil, banyak masyarakat yang lantas abai pada kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi dengan tidak taat pada protokol kesehatan. Bisa dibilang, fenomena yang seperti ini ialah wujud dari pola pikir egoistik dan pragmatistik yang kadung mengakar di masyarakat kita.

Pandemi Covid-19 yang melahirkan krisis multidimensi ini niscaya bisa diatasi dengan mengedepankan solidaritas global dan kemanusiaan universal. Situasi ini membutuhkan kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif mensukseskan kebijakan pemerintah dalam mengatasi pandemi dan efek domino yang ditimbulkannya. Patuh pada kebijakan pemerintah, taat pada protokol kesehatan serta tidak menyebarkan narasi negatif ialah upaya paling mudah yang bisa kita lakukan. Jika itu berhasil kita lakukan, pada dasarnya kita telah berhasil membunuh sikap egoisme dan pragmatisme dalam diri kita. Idul Kurban yang berbarengan dengan pandemi ini kiranya bisa menjadi momentum untuk mentransformasikan ritual ibadah kurban ke dalam konteks spirit kemanusiaan.

Di zaman Nabi Ibrahim, hewan ternak merupakan simbol kekayaan, dan aset penting bagi seseorang. Di masa sekarang, komoditas dan kekayaan tentu memiliki cakupan yang lebih luas ketimbang hewan ternak. Maka, inti dari berkurban bukan hanya menyembelih hewan, melainkan lebih pada bagaimana subtansi ibadah kurban itu dapat kita aktualisasikan dan kontekstualisasikan. Subtansi Kurban menurut Komaruddin Hidayat ialah mewujudkan keadilan sosial dalam bingkai solidaritas dan persaudaraan. Islam sangat menekankan pentingnya keadilan. Namun, keadilan yang tercipta bukan di atas pertumpahan darah, melainkan lahir karena ikatan persaudaraan sesama manusia. Adalah fakta yang tidak dapat dibantah bahwa Islam kerap mengklaim diri sebagai agama yang kosmopolit, universal dan berlaku sepanjang zaman. Tentu saja klaim-klaim tersebut tidak akan berarti apa-apa jika umat Islam sendiri tidak mentransformasikan ajaran agama ke dalam dimensi sosial, tidak terkecuali dalam ibadah kurban. Oleh karena itu, momentum Idul Kurban yang berlangsung di tengah keprihatinan akibat pandemi ini bisa memantik kesadaran umat untuk mentransformasikan spirit kemanusiaan dalam kehidupan sosial. Hendaklah umat Islam tidak hanya berkurban hewan ternak, namun juga mengurbankan ego, kepentingan, hasrat dan nafsu negatif demi tegaknya solidaritas kemanusiaan. Sebagai umat Islam kita berkewajiban untuk mewujudkan solidaritas kemanusiaan agar tidak hanya berakhir sebagai sebuah teori atau retorika belaka.

Facebook Comments