Terorisme Milenial dan “Jalan Terjal” Moderasi di Ruang Virtual

Terorisme Milenial dan “Jalan Terjal” Moderasi di Ruang Virtual

- in Suara Kita
1099
0

Rentetan insiden terorisme yakni aksi bom bunuh diri pasangan suami istri di Makassar (28/3) disusul pula penyerangan seorang perempuan di Mabes Polri (31/3) telah membuat trauma publik. Kedua insiden ini ternyata dilakukan oleh kalangan milenial (pemuda). Berdasarkan survei BNPT, ada sekitar 80 persen generasi muda rentan terpapar radikalisme karena cenderung tidak berpikir kritis.   

Tidak seperti umumnya yang terjadi, aksi terorisme dalam satu dekade belakangan ini memang seringkali melibatkan kaum milenial. Jika dulu, misalnya bom dahsyat Bali banyak dilakukan oleh kalangan tua dengan manajemen strategi yang cukup jitu, sekarang malah aksi terorisme didominasi oleh kalangan milenial yang justru dengan strategi teror amatiran dan tidak terukur, bahkan mengorbankan nyawanya sendiri.  

Jika dulu para teroris melakukan pengeboman, sekarang malah jamak dijumpai teroris meledakkan dirinya sendiri dengan bom. Di sini ada pergeseran aktivisme di kalangan para teroris. Selain itu, pelibatan perempuan dalam aksi terorisme juga menjadi sorotan utama, mengingat biasanya aksi teroris lebih didominasi oleh laki-laki.   

Menelisik pelibatan perempuan dalam pusaran terorisme, jika merujuk dari catatan Milda Istiqomah, selaku Pakar Hukum Terorisme Universitas Brawijaya, bahwa jumlah tahanan teroris perempuan selama kurun waktu tahun 2000-2020 adalah sebanyak 39 orang. Sebelum tahun 2016, perempuan hanya terlibat sebagai pembawa pesan, perekrutan, mobilisasi dan alat propaganda, serta regenerasi ideologi. Namun, di atas 2016, peran perempuan mengalami pergeseran. Perempuan telah menjadi pelaku bom bunuh diri atau penyedia senjata dan bahkan perakit bom.

Sepanjang tahun 2015-2019, jumlah perempuan teroris semakin meningkat. Sebelumnya banyak perempuan yang melakukan aksi terorisme, baik lone wolf maupun dengan suaminya, seperti Dian Yulia Novi, Ika Puspita Sari, Umi Delima, Putri Munawaroh, Inggrid Wahyu, Munfiatun, Rasidah Putri sobari dan lain-lainnya. Selain itu, jumlah teroris laki-laki juga semakin naik secara signifikan, misalnya, Dani Dwi Permana, Sultan Azianzah, Rabbial Muslim Nasution, Tendi Sumarno, dan Lukman, yang kesemuanya tergolong kalangan milenial.

 Secara demografis, mereka termasuk generasi milenial jika berdasar teori generasi Strauss-Howe, generasi milenial adalah mereka yang lahir antara 1982 hingga 2002. Tahun 2021 ini, berarti generasi itu berada di puncak produktivitas usia mereka, yaitu 19 hingga 39 tahun.    

Jalan Terjal

Kerentanan kaum muda, baik laki-laki maupun perempuan dalam aksi terorisme tidak terlepas dari konsumsi media sosial mereka yang menyimpang. Kalangan Milenial pada gilirannya menjadikannya sebagai media arus utama mereka belajar agama dan sebagai salah satu sumber informasi otoritatif, namun tanpa sadar yang mereka konsumsi di media sosial kebanyakan adalah hoaks dan narasi radikal massif penyebarannya di dunia virtual. Mereka tidak membekali diri dengan kemampuan kritis dan budaya literasi yang komprehensif untuk membendung derasnya arus informasi, khususnya narasi radikalis.  

Pada gilirannya dari bacaan narasi radikal mereka, kemudian pada gilirannya melahirkan pemahaman yang radikal, yang pada akhirnya berpotensi menjadi aksi-aksi radikal-teroristik. Untuk itu, penting bagi publik untuk bersama-sama memerangi maraknya narasi radikal di ruang maya dan perlunya kita mentransfer paham moderasi beragama bagi kalangan milenial.

Selain itu, memang narasi moderasi di ruang virtual cukup mengalami jalan terjal. Mengingat narasi radikal masih cukup mendominasi di ruang virtual, website-website keislaman masih dikuasai oleh kalanagn radikal. sehingga realitas ini seharusnya menjadi alarm bagi kita untuk menguatkan dan semakin banyak memproduksi narasi moderasi di media digital.

Dua Jalan

Setidaknya ada dua upaya/jalan yang perlu terus digalakkan untuk menguatkan pemahaman moderasi bagi milenial. Pertama, menggaet stakeholder dalam hal ini pemerintah untuk senantiasa mewaspadai narasi radikal dan arus pengajaran paham terorisme yang bergerak massif di ruang maya. Seruan untuk men-takedwon akun-akun milik Wahabi maupun kelompok radikal yang pernah digelorakan Kiai Said Aqil Siradj beberapa waktu lalu, sangat penting untuk diperhatikan dan kiranya sangat perlu dijadikan arah saran kebijakan. Mengingat gerakan mereka (radikalisme) sangat cepat mengisi konten narasi keagamaan di media sosial.   

Kedua, perlunya khalayak luas memanfaatkan media sosial untuk memproduksi bersama konten berwawasan moderat. Para akademisi, inteleketual muda dan aktivis pergerakan di ranah mahasiswa, perlu turut serta menggalakkan narasi moderasi di ruang virtual. Agar dominasi narasi radikal yang menjurus kepada aksi terorisme kalah dan bisa digeser ke bawah dan direduksi secara berkala.

Akhirnya, dengan membangun sistem kerja bersama dengan memanfaatkan seluruh elemen publik, menjadi jalan strategis untuk memutus mata rantai paham radikal yang berpotensi menggerogoti kalangan milenial di Indonesia. Sehingga diharapkan kedepan kita tidak dijumpai lagi kalangan milenial yang menjadi pelaku atau korban terorisme.     

Facebook Comments