Wahana Virtual; Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya

Wahana Virtual; Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya

- in Suara Kita
426
0
Wahana Virtual; Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya

“Tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa memiliki cara berjuangnya sendiri, mempunyai karakteristiknya sendiri. Oleh karena pada hakikat bangsa sebagai individu memiliki kepribadiannya sendiri. Kepribadian yang terwujud dalam pelbagai hal. Kebudayaannya, perekonomiannya, wataknya, dan lain sebagainya.”

Demikianlah, ungkapan Presiden Soekarno yang dikutip oleh Yudi Latif dalam tulisan “Membangun Karakter Bangsa”. Pembangunan karakter menjadi salah satu pondasi yang penting dalam meniti alur pembangunan nasional. Sebab pembangunan karakter merupakan dasar-dasar yang digunakan untuk mewujudkan cita-cita yang tertanam dalam ideologi negara. Oleh karena itulah, Koesmanto (2010) mengatakan bahwa pembangunan karakter sesungguhnya mengajari masyarakat untuk mengenali kelindan sejarah negaranya, kebudayaannya, wataknya, tradisinya, dan beragam hal lain yang sefaham dengan apa yang disenandungkan akar ideologisnya.

Di era milenial seperti saat ini, wahana virtual atau dunia dalam genggaman menjadi ironitas yang justru perlu diperhatikan. Sebab kebutuhan masyarakat terhadap bara teknologi pada dekade ini tanpa disadari menjadi bencana yang harus diwaspadai. Alhasil, kebutuhan pada dunia virtual yang hakikatnyanya digunakan untuk memberikan kepraktisan kepada banyak orang, tanpa disadari justru dijadikan ladang penyelewengan. Bertebarnya faham-faham bengkok yang bertujuan untuk menjauhi Pancasila, ironitas radikalisme dalam beragam bentuk pesan, tulisan, meme, gambar dan lain sebagainya adalah kenyataan yang mesti harus dilawan. Berangkat dari kenyataan itulah, diperlukan langkah-langkah yang memadai guna membangun pondasi penting bernegara, agar masyarakat tak terjebak dalam pesan radikal yang diwartakan lewat dunia virtual.

Terlepas dari ironi demikian, Salah satu solusi yang kerap kali diangkat dalam memerangi kejahatan radikalisme internet seperti yang disebut dimuka adalah dengan menyebar pesan-pesan kedamaian. Menyebar pesan-pesan kedamaian dalam konteks ini menjadi penting guna membentengi pemahaman masyarakat agar dapat memilah dan memilih pesan-pesan yang tersebar. Namun dalam konsep penyebaran pesan damai lewat dunia virtual seperti yang telah disebutkan tadi, perlu diajukan pembaharuan-pembaharuan agar pesan-pesan damai yang tersebar tak hanya menjadi upaya deradikalisasi, namun juga menjadi penambah wawasan nasionalisme bagi masyarakat. Sebab harus kita sadari, bahwa penambahan wawasan nasionalisme pada saat ini adalah kenyataan yang sangat perlu digalakkan kembali, agar pembangunan karakter bangsa juga bisa terwujud dengan apik dan memadai.

Membangun Karakter

            Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.” Demikianlah wasiat Wr Supratman yang tertanam dalam lagu kebangsaan “Indonesia Raya.” Sajak-sajak yang tersimpan dalam lagu kebangsaan tersebut, adalah pesan berharga yang sudah seharusnya menjadi panduan untuk meraih hakikat kemerdekaan sesungguhnya. Sebab pembangunan jiwa merupakan tiang pangkal yang mendasari segala tindakan setiap orang. Jika jiwanya terbangun dengan narasi yang apik nan baik, maka hasilnya juga akan selaras dengan apa yang dibangun. Namun apabila pembangunan jiwa tidak didasari dengan pola yang memadai, bahkan dengan kebengkokan pemahaman dan nilai-nilai yang tak terkandung dalam jiwa pancasila, maka hasilnya juga akan sepadan dengan apa yang ditempa.

Sefaham dengan kenyataan itu, Nabi Muhammad juga pernah bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung). (HR. Bukhori No. 52 dan Muslim No. 1599)” Berangkat dari idealitas demikian, ancaman gelombang radikal dan faham-faham yang disuarakan lewat dunia virtual adalah kejahatan yang harus ditundukkan. Sebab gelombang tersebut sangat berpotensi untuk menghancurkan kehariban perdamaian yang telah dijaga. Karena itu, peperangan lewat narasi yang menjurus pada pendewasaan masyarakat perlu digelorakan. Agar kecerdasan masyarakat dalam bernegara semakin meningkat dan tak bisa terjebak lagi ke dalam kegelapan dunia radikal.

Terlepas dari konteks demikian, penyebaran pesan damai yang berisi tentang narasi nasionalisme dalam memerangi faham-faham yang jauh dari nilai pancasila juga memerlukan strategi-strategi yang memadai. Sebab pangsa pembaca tentu perlu dibagi secara merata. Karena selera pembaca juga tidak selalu sama. Ambillah contoh, dalam sebuah bacaan yang beredar di ranah masyarakat, bagi kalangan intelektual lebih tertarik pada sajian tulisan yang memiliki makna dalam. Sedalam pengetahuan yang dimlikinya. Ada pula masyarakat yang menyukai sajian tulisan yang renyah, ringan dan berbentuk narasi-narasi seperti cerita. Bahkan dalam pandangan anak-anak, justru lebih menyukai narasi-narasi yang berbentuk gambar anime, kartun beserta subjek yang mengandung plesetan-plesetan lainnya.

 Melihat pentingnya pembangunan narasi perdamaian di dunia virtual seperti demikian. Maka mari kita bergerak, mewujudkan dunia virtual yang aman dan nyaman dari gangguan kejahatan radikal. Sudah saatnya kita bersatu padu, menyebarkan konten-konten positif sesuai dengan minat dan hobi yang dimiliki. Berpatron dan saling bersinergi demi membangun jiwa-jiwa nasionalisme yang apik nan baik. Sebab penyebaran narasi perdamaian yang kita gencarkan adalah wujud kecintaan kita pada negara Indonesia. Maka mari kita wujudkan dunia virtual yang ramah dengan beragam sajian nasionalisme yang menggugah. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Facebook Comments